
"Apa!!!" Teriakan Mutia menggelegar di dalam kelas yang lumayan riuh karena pelajaran pertama belum di mulai.
"Mantan tunangan, eh bukan, kembaran mantan tunangan Pak Ivan makan di restoran Papa Kevin semalam dan buat keributan?!"
Vin-vin menganggukkan kepalanya.
"Aku heran, dia bertemu langsung denganku hanya sekali waktu di bioskop, tapi kenapa dia hapal sekali dengan wajahku ya? aku sendiri kalau nggak sering lihat foto almarhum Rina, aku nggak bakalan paham dengan wajahnya," gumam Vin-vin masih tak percaya karena semalam Rissa bisa dengan cepat mengenalinya.
"Yaelah Vin, siapa sih yang bisa melupakan wajahmu yang cantik begitu saja. Apalagi kamu kan pacarnya cowok yang lagi dia kejar-kejar, ya pasti dia ingat terus," tebak Mutia diikuti anggukan kepala Vin-vin.
"Hmmm, semoga saja aku nggak akan pernah bertemu lagi dengan Rissa!" Vin-vin menangkupkan kedua tagannya sambil memejamkan mata, dia benar-benar berharap doanya di kabulkan karena bertemu Rissa membuatnya benar-benar takut.
Wanita macam Rissa adalah tipe wanita nekat dan tak punya urat malu, sebisa mungkin Vin-vin tak ingin berurusan dengan dirinya.
"Aku penasaran, orang macam apa si Rissa itu?"
"Jangan berharap bakal ketemu Rissa, kamu pasti menyesal," ingat Vin-vin sambil menunjuk hidung Mutia.
"Yuk ah.. buruan... " Vin-vin membuka tas sekolahnya dengan riang.
"Ke mana?"
"Ke ruang ganti lah, pelajaran pertama kan olah raga," Vin-vin tersenyum lebar. Pelajaran olah raga adalah pelajaran favoritnya, tentu saja karena Pak Ivan adalah guru pengajarnya.
.
"Karena sedang hujan di luar sana, hari ini kita olah raga di dalam aula, Saya ingin melihat apakah kalian bisa melakukan beberapa gerakan senam lantai," ucap Pak Ivan dengan lantang di depan murid-murid berseragam olah raga yang sudah berbaris rapi di dalam aula sekolah.
Matras yang sangat lebar sudah di bentangkan di tengah aula dan beberapa perlengkapan senam lantai seperti peti lompat.
"Ayo semua membuat satu barisan untuk melakukan rol depan dan rol belakang.
"Yang cowok jangan masuk barisan cewek! kalian bikin barisan sendiri di sebelah sana!" Pak Ivan menunjuk ke arah matras yang terpisah dengan milik murid wanita.
"Yahh, kenapa nggak jadi satu aja sih pak," rujuk salah satu siswa, dia tampak kecewa.
"Nggak boleh, enak aja Lo. Sana pindah ke sana," ucapan Pak Ivan diikuti tawa murid perempuan.
"Pak Ivan memang terbaik ya? dia selalu melindungi murid-murid cewek. Gimana rasanya jadi pacarnya ya?" seorang murid wanita berbisik-bisik pada teman di sebelahnya sambil tersenyum dan menatap kagum kepada Guru Olah raga nya yang tampan itu.
"Pasti bahagia banget, mau dong ngerasain..." jawab temannya yang lain sambil menautkan kedua tangannya.
Mutia dan Vin-vin yang berdiri di belakang dua cewek yang lagi ngomongin Pak Ivan, hanya tersenyum-senyum.
__ADS_1
"Ayo, jangan ngelamun!" Pak Ivan menepuk tangannya agar murid-muridnya mulai melakukan gerakan yang di perintahkan olehnya.
Semua murid pun dengan malas-malasan melakukan gerakan yang di perintahkan.
"Vin!" Panggil Pak Ivan mengagetkan Vin-vin yang sedang melamun.
"I.. iya Pak? ada apa?"
"Kemari sebentar," lanjut Pak Ivan.
Wajah Vin-vin merona, mau apa Pak Ivan menyuruhnya mendekat? ini kan di tempat umum? di depan teman-teman sekelasnya.
Vin-vin tampak ragu, apalagi seluruh murid pun mulai memperhatikan Vin-vin.
"Sana! buru!" ucap Mutia sambil mendorong pinggang Vin-vin.
Dengan perlahan Vin-vin mendekati guru tampannya itu.
"Yang lain lanjutkan, setelah rol depan, rol belakang lalu lompati peti kayu itu."
"Iya Pak," ucap seluruh murid secara serempak.
"Ada apa?" bisik Vin-vin, matanya terus berkeliling mengawasi sekitar.
"Apa sih! buruan ngomong, aku takut ada yang perhatikan kita."
"Cuma mau ngomong, kaos olah raganya mending di masukkan biar pas melakukan gerakan itu kaosmu nggak tersingkap, aku nggak mau pakaian dalammu di lihat orang lain!" bisik Ivan sambil tersenyum-senyum.
"Iya lah, bawel!" Vin-vin langsung berjalan menjauh sambil memasukkan ujung kaos olah raganya ke dalam celana.
"Kenapa?" tanya Mutia penasaran saat Vin-vin sudah kembali dan berdiri di dekatnya.
"Nggak apa-apa, cuma iseng doang, nggak penting!" kesal Vin-vin. Dia sudah ketakutan dan khawatir ternyata Pak Ivan hanya mengatakan hal nggak penting.
"Yang nggak penting itu apa?" Mutia masih penasaran.
"Dia suruh masukkan kaos olah raga biar nggak tersingkap pas rol depan atau belakang nanti."
"Eh, itu penting tau! bener loh!" Mutia pun mulai melakukan hal yang sama seperti Vin-vin.
"Tapi kita jadi kayak jojon nggak sih?"
"Ya jangan di masukin semua kayak gini kali! di tarik sedikit," Vin-vin kesal sambil menarik kaos temannya yang terlihat sangat cupu.
__ADS_1
"Oh.. hahaha... aku kan juga harus menjaga diriku demi Axel..." seloroh Mutia.
"Iyalah, maklum sama yang baru jadian."
"Belum jadian ini, masih pedekate," gerutu Mutia.
"Nih, aku kasih tau ya! walaupun belum ada kata 'sah' di antara kalian berdua, Axel nggak mungkin berpaling ke..."
'tuk!'
Tiba-tiba kepala Vin-vin di ketuk dengan gulungan buku tulis.
"Mau sampai kapan kalian ngobrolnya? giliran kalian sudah mulai dari tadi," omel Pak Ivan sambil mengetukkan dengan lembut gulungan buku yang di pegangnya ke kepala Vin-vin berulang kali.
"Ah.. ma.. maaf Pak," Vin-vin langsung berlari diikuti Mutia.
"Kalau kalian masih mau ngobrol terus, Saya hukum lari keliling aula sepuluh putaran!" teriak Pak Ivan, membuat murid-murid yang lain mulai menunduk takut.
.
"Kenapa ya, gue di marahi sama pak Ivan tapi nggak ngerasa kesel. Malah seneng," ucap Lia, salah satu teman sekelas Vin-vin saat mereka di ruang ganti untuk mengganti baju.
Pelajaran olah raga sudah selesai, dan semua murid buru-buru untuk berganti baju dan menuju kantin sekolah.
"Itu karena Lo cinta kali sama Pak Ivan, hahaha..." seloroh yang lain diikuti tawa semua murid wanita yang ada di dalam ruang ganti,
kecuali Vin-vin yang tetap cemberut. Ini pertama kalinya Pak Ivan mempermalukannya di depan teman-teman kelas. Dia merasa sangat kesal.
"Awas aja nanti!" gerutu Vin-vin.
Setelah selesai berganti baju, mereka semua langsung berjalan menuju kantin, perut mereka sudah keroncongan. Di tambah gerimis tipis dan cuaca dingin begini membuat mereka sangat ingin makan bakso yang panas dan pedas.
"Duuhh.. semoga Ibu kantin bikin bakso banyak ya, hari ini pasti bakso jadi menu favorit nih," ucap Mutia sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
"Kalau habis, beli pop mi aja, atau beli tahu goreng di siram kuah bakso," usul Vin-vin.
"Di mana Ivan Xander! gue mau ketemu sama dia! dia jadi guru di sini kan!"
Vin-vin terkejut mendengar suara lantang yang sangat tak asing di telinganya. Saat dia menoleh ke gerbang sekolah yang sedang di jaga satpam, dia melihat Rissa berusaha menerobos masuk walaupun di larang oleh Pak penjaga.
"Heh! Lo! Lo murid di sini juga! sini Lo!" teriak Rissa saat melihat Vin-vin.
Jantung Vin-vin berdebar kencang, tangannya pun gemetar. Tanpa berpikir panjang Vin-vin berlari menjauh, menghindar agar Rissa tak bisa melihatnya.
__ADS_1