
"Vin?" Mutia tampak terkejut sekaligus senang karena saat masuk ke dalam kelas, dia melihat Vin-vin duduk di kursi nya.
"Kamu sakit apa? kok nggak masuk kemarin?" tanyanya sambil buru-buru duduk di sebelah Vin-vin.
"Nggak apa-apa, cuma pengen istirahat aja," jawab Vin-vin sambil tersenyum masam.
Mutia menatap penuh curiga pada sahabatnya itu.
"Kamu... ada masalah sama Pak Ivan?"
Vin-vin kembali tersenyum sambil mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya.
Mutia masih memperhatikan Vin-vin dengan seksama, "kemarin Pak Ivan juga nggak berangkat, hari ini dia juga masih nggak berangkat. Aku pikir kemarin kalian berdua kencan makanya bolos bareng," bisik Mutia.
"Nggak lah..." jawab Vin-vin singkat.
Mutia menatap Vin-vin curiga, "kamu aneh deh, ada apaan sih? jangan rahasia-rahasiaan sama aku, dong!"
"Rahasia apaan, udah deh, bentar lagi bu Yosephine datang loh! buruan siapin buku!" Vin-vin berusaha menghindari tatapan mata dari sahabatnya itu.
Mutia mendengus, lalu menurut. Dia pun mulai menyiapkan buku pelajaran sebelum sang guru tiba di kelas.
Vin-vin melirik Mutia, dia takut sahabatnya itu akan marah jika sekarang dia memberi tahu kepergiannya ke Singapore untuk melanjutkan sekolah di sana. Vin-vin belum siap untuk bicara jujur pada Mutia.
Biarlah, nanti dia bilang saat dia berangkat, bukan sekarang.
"Vincia!"
Axel tiba-tiba muncul sambil menggebrak pintu kelas Vin-vin, hingga membuat Vin-vin dan seluruh murid yang berada di dalam kelas melonjak kaget.
"Keluar!" titahnya. Wajah Axel tampak kesal.
"Kenapa si Axel?" gumam Mutia sambil menatap Axel lalu menatap Vin-vin.
Vin-vin hanya mendesah lalu bangun dari duduknya.
"Aku ikut ya, Vin?" Mutia berusaha meraih tangan Vin-vin. Dia khawatir, karena belum pernah melihat wajah Axel segarang ini. Apa gerangan yang membuat Axel marah pada Vin-vin?
"Nggak usah, Mut," Vin-vin melepaskan pegangan tangan Mutia dengan lembut.
"Aku keluar sebentar, ya." Lalu dia berjalan keluar mendekati Axel.
Axel menyilangkan tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah Vin-vin.
__ADS_1
"Ngobrolnya jangan di sini, kita ke tempat yang sepi!" bisik Vin-vin sambil berjalan, diikuti Axel.
Akhirnya setelah sampai di kebun belakang sekolah, Vin-vin menghentikan langkahnya. Axel pun ikut berhenti tepat di belakang Vin-vin.
"Apa maksudnya, kamu mau sekolah di Singapore?!" ucap Axel penuh tekanan.
Vin-vin memejamkan matanya, dia memang sudah menduga jika Axel tau rencananya untuk sekolah di Singapore.
"Kamu tau dari mana?"
"Om Aldrich cerita, dia bilang kalau aku berhasil membuat kamu mengurungkaan niatmu sekolah di Singapore, dia bakal merestui aku buat jadi pacar kamu."
Vin-vin tersenyum kecil mendengar ucapan Axel.
"Papi nggak tau kalau kamu sudah punya Mutia," lirih Vin-vin sambil terkekeh dengan sikap Papi nya yang berusaha segala cara agar dia mengurungkan niatnya.
"Bukan itu poinnya sekarang! kamu tetap temen aku dan aku nggak mau kehilangan kamu, Vin!"
"Ck! Axel, aku cuma sekolah di Singapore, bukan mati! kamu bisa ke sana ketemu aku kalau kamu mau. Bukannya kamu juga sering ke London? Singapore itu lebih dekat dari pada London. Cuma butuh 2 sampai 3 jam, sudah sampai!" ucap Vin-vin.
Axel menatap Vin-vin tak bisa berkata-kata, dia hanya menghela napas dengan kesal.
"Semua ini gara-gara pak Ivan, kan?!"
"Kamu nggak mau cerita?" tanya Axel hati-hati.
Vin-vin hanya menggelengkan kepalanya.
Lagi-lagi, Axel mendengus.
"Kapan rencana berangkat?"
"Besok siang..."
"Apa! kenapa mendadak sekali!"
"Cuma besok kesempatannya, sebenarnya mau hari ini, tapi surat-suratnya belum beres."
"Dan kamu nggak bilang sama Mutia?"
Vin-vin menggelengkan kepalanya, "Aku nggak sanggup."
Axel mendengus dengan keras.
__ADS_1
"Kalau kamu anggap Mutia itu teman kamu, kamu harus beritahu dia secepatnya. Soalnya kalau dia tahu lebih dulu dari orang lain, Aku yakin, Mutia bakal marah." Setelah itu Axel berbalik dan pergi meninggalkan Vin-vin. Dia tak bisa menutupi kekesalannya karena Vin-vin tega meninggalkan teman-temannya hanya karena punya masalah dengan pacarnya.
Vin-vin tersenyum tipis, lalu mulai berjalan perlahan menuju kelasnya. Dia sudah memutuskan akan langsung memberi tahu Mutia, dia tak mau persahabatannya dengan Mutia hancur hanya karena dia tak jujur, walaupun mungkin mengatakannya akan sangat sulit.
Vin-vin seperti tersadar dan dia berhenti sejenak, "Mungkinkah Pak Ivan juga merasakan ini saat ingin jujur padaku?" gumamnya bermonolog.
"Ah! walaupun begitu, bukan berarti sah untuk tidak berkata jujur. Sesakit apapun itu, jujur adalah yang paling benar.
Vin-vin berhenti sejenak di ambang pintu dan memperhatikan Mutia yang sedang serius memperhatikan Bu Yosephine yang tengah berada di depan kelas.
Setelah mengambil napas dalam-dalam, Vin-vin membulatkan tekad untuk masuk ke dalam kelas, namun sebelumnya dia mengetuk pintu terlebih dahulu dan meminta ijin pada Guru agar di perbolehkan masuk ke dalam kelas.
"Mut, istirahat nanti, ada yang mau aku omongin. Kamu jangan langsung ngacir ke kantin, loh!" ucap Vin-vin saat sudah duduk di kursinya.
Mutia mengangkat jempolnya sambil berucap 'oke' tanpa suara. Dia takut Bu Yosephine akan marah jika dia berisik.
***
"Apa?!" teriakan Mutia begitu keras, hingga beberapa burung yang sedang hinggap di dahan pohon jambu, kaget dan buru-buru terbang menjauh.
Saat jam istirahat di mulai, Vin-vin langsung mengajak Mutia ke kebun belakang sekolah dan menceritakan keputusannya. Mereka berdua duduk di bangku yang terbuat dari semen persis di bawah pohon jambu.
"Kamu sadar, Vin? ngapain pindah ke Singapore?! di sini juga sekolahnya bagus-bagus! nggak kalah dengan Singapore!" ucap Mutia menahan emosi.
Bagaimana tidak, sahabat sejatinya bakal pergi tanpa penjelasan apapun!
"Aku sadar seratus persen," jawab Vin-vin, singkat.
"Pak Ivan sudah tau?!" tanya Mutia lagi.
Vin-vin tak memberikan jawaban, dia hanya diam.
"Bener kan? kalian pasti lagi ada masalah. Emangnya serius banget, sampai kamu mau pergi sejauh itu?" tanya Mutia sambil bangun dari duduknya dan menatap sahabatnya tajam.
Vin-vin menarik napas panjang, "pokoknya keputusanku sudah bulat." Lalu Vin-vin bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Mutia yang masih mematung di tempatnya berdiri.
"Dasar! memang, aku ini bukan siapa-siapa! Nggak bakal di dengerin juga biar aku ngomong sampai berbusa supaya kamu nggak jadi pergi!" Mutia kesal.
"Ada masalah apa sih! sampai minggat gitu!" geramnya.
"Nggak bisa di biarin!" Mutia mengambil ponselnya dan langsung menelpin seseorang yang ada di daftar kontaknya.
"Halo? Pak Ivan lagi di mana sih! Vin-vin mau pergi ke Singapore, Bapak tau nggak?!"
__ADS_1