Oh My Teacher

Oh My Teacher
Mau gue kasih pelajaran!


__ADS_3

"Lo, tau? muka tu cewe langsung merah. Dia shock. Hahaha... Gue puas banget, sumpah!" Rissa mengangkat gelasnya dan meminum isinya hingga tandas tak bersisa.


"Mungkin sekarang mereka berdua sedang bertengkar hebat, dan bisa saja langsung putus. Gue bisa dapatin Ivan, dan Lo bisa dapatin Vin-vin. Oh, tapi nggak mungkin sih, Vin-vin mau sama Lo, kan Lo udah punya istri."


Daniel tersenyum. Tujuannya bekerja sama dengan Rissa, memang bukan untuk mendapatkan Vin-vin. Dia sudah memendam hasratnya itu dalam-dalam. Yang dia mau sekarang adalah kehancuran Ivan, dan dia cukup puas jika melihata Ivan menderita karena berpisah dengan Vin-vin.


Dengan cekatan Daniel menuangkan kembali gelas Rissa agar terisi penuh dengan minuman berwarna kekuningaan dan berbuih.


"Gue penasaran, kok Ivan dulu bisa ngelakuin itu sama, Lo?" Daniel menyangga dagunya dengan satu tangan sambil menatap wajah Rissa yang mulai memerah karena pengaruh alkohol.


Rissa menyeringai, "Minuman dia, gue kasih obat perangsang. Yang super kuat... hahaha..." Rissa kembali menenggak minumannya.


"Nggak mungkin ada yang bisa mengelak dari pengaruh obat itu, walaupun orang alim sekalipun..." Rissa tergelak.


Daniel tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Lo, emang luar biasa. Gue salut sama kegigihan Lo, buat dapetin Ivan." Daniel bertepuk tangan sambil menatap wanita cantik nan seksi yang terduduk di depannya.


Diam-diam, Daniel memuji kecantikan wajah dan keindahan tubuh Rissa. Rissa sangat sempurna, dan hanya orang bodoh yang berani menolak wanita secantik ini.


"Ivan memang cowok bodoh!" gumam Daniel.


Rissa tampak mulai mabuk, dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Daniel.


Melihat gelagat Rissa yang mulai tak sadar, Daniel tersenyum makin lebar.


Dia merasa, sekarang lah saat yang sangat dia nantikan. Saat tepat untuk berpetualang bersama Rissa ke langit ke tujuh.


Rissa pasti tak akan menolak, toh saat dia sadar juga dia mau melakukannya dengan sukarela.


Daniel menarik tangan Rissa dan memapahnya perlahan, keluar dari barr dan menuju mobilnya yang parkir tak terlalu jauh dari pintu utama. Dia memang sengaja parkir di sana, agar memudahkan dirinya membawa Rissa yang mabuk.


Dengan susah payah, Daniel berhasil memasukkan Rissa ke dalam mobilnya. Lalu dengan cepat, dia melajukan mobilnya. Dia sudah tak sabar ingin menikmati tubuh indah Rissa.


Berulang kali Daniel tampak mengelus paha putih mulus Rissa yang terpampang jelas di sebelahnya. Rok mini Rissa benar-benar tak menutupi apapun, bahkan CDnya yang berwarna hitam dan berenda menyembul, menimbulkan hasrat Daniel yang makin memuncak dan tak terkendali.

__ADS_1


"Sial! kenapa gue pilih hotel nya jauh gini sih! jadi nggak sampai-sampai!" omel Daniel pada dirinya sendiri.


Setelah sampai di hotel dan memarkirkan mobilnya di basement, Daniel langsung menggendong Rissa dan membawanya masuk Lift. Setelah sampai di lantai tujuannya, Daniel pun bergegas. Dia benar-benar sangat tak sabar dan seperti orang kesetanan.


Begitu masuk ke dalam kamar, Daniel langsung merebahkan tubuh Rissa di ranjang ukuran king, lalu melepas gaun ketat Rissa.


Napasnya menderu, saat melihat tubuh polos Rissa yang hanya tertutupi pakaian dalam yang transparan dan seksi.


Lalu tanpa menunggu, Daniel langsung melepaskan baju dan celananya dan langsung melancarkan aksinya.


***


'Kriinng...'


"Halo?"


"Halo, Yon. Lo punya nomer HP Rissa?" tanya Ivan to the point, saat Dion mengangkat panggilan telponnya.


"Gue butuh sekarang, cepet kirim!" ketus Ivan, lalu dia mematikan panggilan telponnya.


Dion yang masih nggak ngerti dengan permintaan Ivan hanya menatap ponselnya sambil mengernyitkan dahi.


"Kesambet apa dia? susah payah hindarin Rissa, tiba-tiba malah minta nomer HP nya!" gumamnya.


'Mana!' pesan dari Ivan, tiba-tiba muncul.


"Dih! nggak sabaran, pula!" gerutu Dion sambil mulai mencari kontak Rissa dalam ponselnya lalu mengirimkan nomer Rissa pada Ivan.


'Itu nomernya. Mau buat apaan?'


'Mau gue kasih pelajaran!' jawab Ivan cepat.


Dion makin merasa aneh, ada apa gerangan dengan sahabatnya yang terkenal kalem dan pandai menjaga emosi ini?

__ADS_1


Dion merasa, Ivan seperti orang yang emosinya sedang memuncak. Dari suara saat dia menelpon barusan dan isi pesan singkatnya.


"Ada yang aneh! Gue harus ketemu Ivan!" gumam Dion sambil bangkit dari tidurannya. Dia menyambar jaket kulitnya yang tergantung di belakang pintu kamarnya dan bergegas menuju teras rumah untuk mengambil motornya.


Lalu dengaan kecepatan penuh, dia menjalankan kotornya menuju apartemen Ivan.


***


'Kriing!!!... kriing!!!'


"Bunyi apaan si, tuh! ganggu aja..." gerutu Rissa, yang masih mengantuk.


Dengan perlahan, Rissa membuka matanya dan mendapati Daniel sudah tidur nyenyak di sampingnya.


Rissa menatap tubuh polos Daniel kemudian menatap tubuh polosnya sendiri dan berdecih kesal.


"Sialan ni orang, ketagihan dia sama tubuh gue!" gumamnya.


'Kriing... '


Rissa kembali terkejut dengan suara ponselnya yang tak juga mau berhenti.


"Siapa sih!" kesalanya sambil mengangkat telponnya.


"Halo!"


"Halo, Rissa! Gue mau ketemu, Lo. Sekarang!"


"I-Ivan?!" pekik Rissa bahagia.


.


#Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2