Oh My Teacher

Oh My Teacher
Kemping.


__ADS_3

"Masih jauh lagi kah, Pak?" Mutia bertanya di antara helaan napasnya yang mulai ngos-ngosan.


Dia kelelahan, sangat. Seumur hidupnya, belum pernah dia berjalan selama ini. Hampir dua jam di berjalan tanpa beristirahat. Kakinya sampai gemetar karena terlalu lelah.


Ivan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Mutiara yang berjalan di belakangnya. Di lihatnya pula Vin-vin yang berjalan pelan di sebelahnya. Vin-vin jelas terlihat sangat kelelahan, namun dia tetap diam. Mungkin dia merasa malu untuk mengeluh karena dia yang ngotot untuk ikut kemping.


Ivan menarik napasnya.


"Yon! berhenti dulu," panggilnya pada Dion yang berjalan di depan sendiri.


"Kenapa?"


"Sudah hampir jam 3, mending kita pasang tenda di sini." Ivan memandang sekelilingnya dan melihat sebuah area yang cukup luas untuk bisa mendirikan tenda.


"Di sana aja," tunjuk nya pada Dion.


Dion terdiam sejenak, lalu mengangguk tanda setuju.


"Oke lah, kita nge-kemp di sini aja. Padahal sedikit lagi kita sampai loh. Pemandangannya bagus banget di sana."


"Beneran sudah deket?" tanya Vin-vin.


"Ya, setengah perjalanan sih," Dion nyengir persis kuda.


"Itu mah bukan deket! masih jauh!" kesal Mutiara.


"Nggak, Yon. Mereka nggak akan kuat, lagian kalau di terusin pasti kemalaman, bahaya!" ucap Ivan.


"Heuhh.. resiko bawa cewek ya gini, jalannya jadi lambat." Dion melepaskan tas ranselnya yang sangat besar lalu mulai memasang patok untuk membangun tenda.


Ivan pun melakukan hal yang sama, dia mulai membangun tenda untuk istirahat Vin-vin dan Mutia.


Sedangkan Vin-vin dan Mutia sendiri, langsung merosot duduk di tanah sambil bersandar pada pohon besar.


"Saya bantu, Pak," Axel menawarkan diri untuk membantu Ivan. Dia pun melepaskan tas ransel yang di pinjamkan Ivan tadi sebelum berangkat.


"Kamu tolong kumpulin ranting-ranting aja, buat bikin api unggun," titah Ivan.


"Oh, oke."


"Jangan jauh-jauh, cari yang dekat dekat saja," Ivan mencoba mengingatkan.


"Iya, tenang saja," jawab Axel sambil berlalu.


***


"Vin,"


Vin-vin terbangun dan melihat Ivan berjongkok di sebelahnya.


"Eh.. ada apa, Pak?"


"Tendanya sudah jadi, masuk dan istirahatlah di dalam. Nanti aku bangunin kalau makanan sudah jadi," ucap Ivan dengan lembut.


"Oh..." Vin-vin mengucek matanya. Tanpa sadar dia tertidur di bawah pohon, mungkin karena kelelahan. Mutiara pun juga tertidur di sebelahnya.


"Maaf, Pak. Aku ketiduran. Kalian mau masak apa? biar aku yang masak."


"Cuma bikin mi instan kok, nggak susah. Sudah sana masuk ke tenda dulu. Hari sudah mulai gelap ini."


Vin-vin menatap sekelilingnya dan tersadar, bahwa tempat ini begitu gelap tanpa ada lampu penerangan sama sekali. Satu-satunya cahaya, hanya dari api unggun yang menyala.

__ADS_1


Spontan Vin-vin memegangi lengan pacarnya. Dia sedikit merasa takut.


"Di sini aman, kan, Pak?" tanya Vin-vin, ragu.


"Aman kok," jawab Ivan santai sambil mengusap tangan Vin-vin yang memegangi lengannya dengan erat.


"Mut! bangun Mut!" Vin-vin berusaha membangunkan sahabatnya.


"Ehm, bentar lagi..." gumam Mutia.


"Ayo pindah ke dalam tenda, sudah gelap. Siapa tau ada uler," ucap Vin-vin bergidik.


"Hah!" Mutia melonjak kaget dan dengan segera membuka matanya.


"Ihh.. kok gelap banget," kagetnya sambil memeluk Vin-vin.


"Makanya, ayo!" Vin-vin bangun dari duduknya diikuti Mutia dan mereka pun berjalan ke arah tenda yang sudah di buatkan oleh Ivan dan masuk ke dalamnya.


Dari luar tenda ini memang terlihat begitu sederhana, namun di dalamnya sangat nyaman. Pasti Pak Ivan yang membuat semuanya jadi mungkin. Bahkan Ivan memberi alas selimut tebal di bawah, agar Vin-vin dan Mutiara merasa nyaman. Tak lupa, Ivan menggantungkan sebuah senter kecil untuk penerangan di dalam tenda itu.


Vin-vin langsung merebahkan tubuhnya dan menghela napas, dia merasa senang berada di sini. Tenda buatan Ivan begitu nyaman dan hangat.


"Pak Ivan memang terbaik," gumamnya sambil nyengir.


"Aku laper nih, cari makanan yuk," pinta Mutiara sambil mengelus perutnya.


"Kata Pak Ivan, dia lagi masak mi instan. Yuk kita keluar, siapa tau sudah matang," ajak Vin-vin.


"Duh, mantab banget. Dingin dingin makan mi panas, ayo buruan!" Mutiara pun ikut bersemangat.


"Wah.. para tuan putri sudah bangun?" celetuk Dion, saat melihat Vin-vin dan Mutia keluar dari tenda.


"Ini coklat panas," Axel menyerahkan dua cangkir minuman yang masi mengepul pada Vin-vin dan Mutiara.


"Makasih...," jawab Vin-vin dan Mutiara, serempak.


Setelah itu mereka berlima pun makan mi instan yang di buat Dion dan Ivan dengan lahab.


Udara dingin, dan rasa lelah karena sudah berjalan jauh, membuat mi instan ini terasa sangat lezat. Mutiara dan Vin-vin bahkan minta tambah, membuat Dion geleng-geleng kepala karena heran.


"Ahhh... kenyang sekali," seru Vin-vin. Nada suaranya begitu lepas dan bahagia.


"Kapan-kapan kita kemping dan bawa mi instan yang banyak ya, Pak. Makan mi di sini rasanya jadi dua kali lipat lebih nikmat dari pada biasanya."


"Ngomong aja kalau Lo laper!" ketus Dion.


"Ih! sirik aja, Om om satu ini!" kesal Vin-vin.


Ivan tersenyum dan duduk di sebelah Vin-vin. Vin-vin pun melingkarkan tangannya di lengan Ivan dan merebahkaan kepalanya di bahunya.


Mutiara yang tau diri, segera bergeser dan duduk dekat dengan Axel. Tadinya dia duduk persis di sebelah Vin-vin, namun saat Pak Ivan datang, dia harus tau diri dan menjauh, kan?


"Dingin?" tanya Axel pada Mutia.


Mutia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


Axel melepaskan jaketnya dan memakaikannya di bahu Mutia.


"Eh, jangan. Nanti kamu kedinginan," cegah Mutiara. Dia tentu nggak mau kekasih hatinya kedinginan karena dirinya.


"Aku masih pake sweater wol kok, masi hangat."

__ADS_1


Lagi-lagi Mutia tersenyum malu-malu dan tertunduk.


Dion yang duduk di tengah-tengah pasangan itu, jadi sinis. Dia kesal karena ternyata hanya dia yang tak punya pasangan.


Siall sekali, semua ini gara-gara Vin-vin yang mengajak Axel segala. Seharusnya Axel nggak usah ikut, supaya dia bisa berpasangan dengan Mutiara.


Kesal karena tak bisa melakukan apapun, Dion hanya mematahkan ranting-ranting dengan emosi dan membuangnya ke tengah api unggun.


"Awas saja kalian nanti!" geramnya.


Krasak! Krasak!


"Apa itu?!" lonjak Vin-vin, kaget.


Ivan menatap Dion, seraya bertanya 'apa itu?' namun tanpa kata.


Dion menggelengkan kepalanya, tanda tak tau. Lalu dia mengambil ranting yang agak besar dan memegangnya erat. Siapa tahu, ranting ini bisa jadi senjata.


"Apa mungkin... harimau?" pekik Vin-vin sambil bersembunyi di belakang tubuh Ivan.


Begitu pula Mutia, dia juga bersembunyi di belakang tubuh Axel.


"Dasar kalian! dalam keadaan bahaya pun masih pada mesra-mesraan!" kesal Dion.


"Apa sih Yon!" ketus Ivan.


"Sana gih! Lo yang cek aja!" Dion menyerahkan ranting yang dia genggam tadi pada Ivan. Namun dengan cepat Vin-vin menarik Ivan agar menjauhi Dion.


"Om Dion aja ya yang cek, jangan Pak Ivan..." pintanya.


Dion melirik sinis. Dia pun berjalan mendekati semak-semak yang bersuara tadi, sambil berjaga-jaga dengan mengangkat rantingnya.


"Jangan-jangan setan, atau pocong..." gumam Dion.


"Om Dion jangan nakutin, ah!" kesal Vin-vin. Dia memang paling takut pada makhluk-makhluk astral yang di sebutkan Dion barusan.


"Bismillahirrahmanirrahim... Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa..."


'Pletak!' Ivan melempar ranting kecil ke kepala Dion.


"Lo ngapain baca doa mau makan!" geramnya.


"Malu-maluin gue aja!" jelas Ivan merasa malu, punya teman somplak di depan murid-muridnya.


"Yang penting berdoa, bro!" balas Dion tak mau kalah.


Jika tidak dalam keadaan tegang, Vin-vin dan Mutia pasti tertawa. Tapi mereka begitu ketakutan sehingga lupa untuk tertawa.


"Siapa di sana!" teriak Dion.


"Kalau manusia, keluar! Kalau makhluk halus, pergi!" ucap Dion.


'Krosak!'


Dion melonjak kaget dan berjalan mundur menjauhi semak-semak.


"Halo, semuanya." Sapa orang yang muncul dari semak.


"Papi!" pekik Vin-vin.


Papi Al tersenyum, "Papi khawatir jadi menyusul deh," ucapnya santai.

__ADS_1


__ADS_2