
"Aku males sekolah..." Vin-vin merebahkan kepalanya di atas meja. Senin pagi ini dia merasa tak bersemangat karena masih sedikit lelah setelah kemping kemarin.
Padahal minggu sore, dia sudah sampai di rumah dan langsung tidur hingga pagi, namun rasa lelahnya tak kunjung hilang.
"Kamu capek juga nggak?" Vin-vin menoleh ke arah sahabatnya yang duduk di sebelahnya.
Mutiara menggelengkaan kepalanya, "Aku sih, 'b' aja tuh. Yang aku rasakan cuma happy, soalnya bisa bersama Axel lebih lama dari biasanya. Aahh.. kapan kemping lagi? kita pergi lagi yuk, dengan Axel juga loh." Mutiara nyengir mengingat kejadian kemarin saat kemping.
Baru dia tahu jika Axel adalah cowok yang super baik dan perhatian. Dia rela kedinginan, dan memberikan jaketnya pada Mutiara.
Aroma tubuh Axel yang menempel di jaketnya, bahkan masih terasa sampai sekarang.
Mutiara memeluk dirinya sendiri, "Oh.. Axel ku.." gumamnya sambil nyengir persis kuda.
"Cih! jijay banget sih ah!" kesal Vin-vin sambil memalingkan wajahnya, enggan melihat wajah Mutiara yang mesan mesem kaya orang gila.
"Gaes... pelajaran Olah raga kosong ya, kita di suruh mengerjakan tugas yang sudah di siapkan Pak Ivan. Setelah itu di kumpulkan!" Ucap Beni sangat ketua kelas yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Yes!" teriakan sorak sorai kebahagiaan seluruh kelas mulai menggema. Semua tampak bahagia saat ada pelajaran kosong dan hanya mengerjakan kuis.
Tentu saja, kecuali Vin-vin. Hanya Vin-vin lah yang berwajah masam.
Kenapa kekasihnya itu tak mengabarinya jika hari ini dia tidak berangkat? kan Vin-vin bisa bolos juga dan main ke rumahnya.
Dengan wajah cemberut, Vin-vin mengambil ponselnya dan mulai menulis pesan untuk pacarnya.
'Kenapa nggak berangkat? '
Lima menit berlalu, Ivan belum juga membaca pesan Vin-vin.
Sepuluh menit berlalu, belum juga ada balasan. Bahkan di baca pun tidak. Vin-vin makin kesal.
"Lagi ngapain sih dia!" geramnya sambil memukul meja dengan pelan.
"Kenapa sih, Vin?" tanya Mutiara yang kaget karena Vin-vin tiba-tiba memukul meja.
"Ini loh, Pak Ivan belum baca pesan ku, padahal sudah sepuluh menit yang lalu. Lagi ngapain sih dia! nggak kasih kabar, Tiba-tiba nggak berangkat. Dia anggap aku ini apa sebenarnya? pacar atau bukan?!" gerutu Vin-vin.
"Sabar lah Vin-vin, baru sepuluh menit, belum sepuluh jam, kan?" ucap Mutiara, asal. Dan tentu saja, ucapannya membuat Vin-vin makin kesal.
Saat ponselnya akhirnya berbunyi, dengan segera Vin-vin membukanya.
'Aku sakit.'
Vin-vin langsung bangun dari duduknya saat membaca pesan singkat dari kekasihnya.
"Mut, Pak Ivan sakit. Aku harus segera ke rumahnya."
__ADS_1
Mutiara menarik tangan Vin-vin yang hendak pergi begitu saja.
"Gila ya? mau bolos begitu aja!"
"Aku harus pulang, aku harus melihat keadaan Pak Ivan. Dia sampai nggak bisa balas pesanku, berarti sakitnya parah. Aku harus segera menemuinya, Mut!"
"Bentar... bentar," Mutia menarik tangan Vin-vin, hingga Vin-vin terduduk kembali di kursinya.
"Jangan main kabur aja, mending kamu ijin deh sama wali kelas," saran Mutiara lirih.
"Alasannya apa? mau jenguk Pak Ivan?" balas Vin-vin.
Mutiara memutar bola matanya, "dasar bocah nggak punya imajinasi! yuk, ikut aku!" Mutiara bangun dari duduknya dan mengajak Vin-vin untuk mengikutinya.
"Ketua kelas, gue sama Vin-vin ke toilet dulu ya!" ucap Mutia sambil berlalu keluar dari kelas.
"Kita mau kemana, Mut?" tanya Vin-vin bingung.
"Sudah ikut aja," Mutiara terus menarik tangan Vin-vin dan membawanya menuju kantin.
"Ngapain malah ke kantin?"
"Sstt!" Mutiara melongok ibu kantin yang sedang sibuk di dapur. Buru-buru dia mengambil botol kecap dan menumpahkan isinya ke rok abu-abu milik Vin-vin.
"Dikit aja, yang penting keliatan," gumam Mutia sambil mengoles-oleskan sisa kecap agar membentuk sebuah pulau kecil, tepat di bagian bokong Vin-vin.
Buru-buru Mutia mengembalikan botol kecap tadi ke tempatnya semula, lalu menarik Vin-vin keluar dari kantin.
"Kamu nanti ke ruang guru, ijin sama wali kelas, bilang mau pulang karena baju kamu kena noda mens," ucap Mutiara.
Vin-vin terdiam dan bibirnya membentuk huruf O. "Aku paham, oke, makasih Eemmutt! kamu memang sahabat terbaikku!" Vin-vin memeluk sahabatnya itu lalu berlari menuju ruang guru untuk berpamitan.
***
"Pak, Pak Ivan?" Vin-vin memanggil beberapa kali sambil mengetuk pintu apartemen Ivan.
Saat tak juga ada jawaban, Vin-vin langsung menelpon kekasihnya itu.
"Ya?" suara Ivan begitu serak saat menjawab.
"Aku ada di depan, tolong bukain pintunya," ucap Vin-vin.
Tak lama, terdengar bunyi 'klek' dan pintu pun terbuka.
Ivan memakai kaos berlengan panjang dan celana boxer warna hitam. Dia bersandar di pintu dan memperhatikan Vin-vin dengan penuh tanda tanya.
"Kok ke sini? kamu bolos ya?" cecarnya tapai dengan suara yang serak dan lemah.
__ADS_1
"Iya," tanpa menunggu di persilahkan, Vin-vin langsung menerobos masuk ke dalam unit apartemen Ivan.
"Pak Ivan sudah makan? nih, aku bawain bubur ayam."
Ivan menghela napas sambil menutup pintu, kemudian berjalan kembali menuju ranjangnya.
"Ayo makan dulu," pinta Vin-vin.
"Nanti saja, aku belum selera," Ivan merebahkan tubuhnya, dan kembali memejamkan matanya.
Melihat kekasihnya sakit, Vin-vin jadi merasa bersalah. Jangan-jangan Pak Ivan sakit karena semalaman tidur di luar tenda.
Karena Papi Al datang, Pak Ivan dan Om Dion mengalah dan tidur di luar. Sedang Papi dan Axel bisa tidur di dalam.
Vin-vin menghela napas lalu membawa mangkuk berisi bubur ke ruang tidur Ivan.
"Ayo, aku suapin. Makan dikit aja nggak apa-apa," pinta Vin-vin lagi.
Ivan membuka kelopak matanya lalu membuka mulutnya agar Vin-vin bisa menyuapi nya.
"Sudah, Vin," Di suapan ke tiga, Ivan menyerah. Dia tak mau melanjutkan makannya.
Vin-vin meletakkan mangkuk buburnya, di nakas. dan terus memperhatikan wajah kekasihnya yang sudah kemerahan karena suhu tubuhnya meningkat.
"Minum obat dulu ya," Vin-vin membantu Ivan agar duduk dan meminum obatnya.
Ivan menurut, dan setelah itu dia kembali tertidur.
Sedangkan Vin-vin terus berada di sampingnya.
Melihat kekasihnya sakit dan tertidur pulas, Vin-vin merasa sedih. Dia ingin memeluk kekasihnya itu agar sakitnya dapat berkurang.
Tanpa meminta ijin, Vin-vin naik ke ranjang Ivan dan berbaing di samping pacarnya yang tertidur. Tangannya merangkul erat baju Ivan, tak lupa dia pun mencium kening Ivan.
"Vinn... gerah... " gumam Ivan.
"Nggak mau, aku mau peluk kamu," Vin-vin mengeratkan pelukannya.
Dan Ivan pun pasrah dan kembali tertidur.
***
"Hatciuh! uhuk! uhuk!"
"Hadeuh.. dinginnya... gue butuh pelukan cewe..." gerutu Dion di kamarnya yang sepi dan gelap.
"Kenapa gue belom punya cewe!" teriaknya kesal.
__ADS_1
"Hatciuh!!!"