Oh My Teacher

Oh My Teacher
Mimpi buruk Ivan.


__ADS_3

"Minumlah Van, Lo pasti haus kan?"


"Thanks... Rina atau Rissa, nih?" tanya Ivan bingung.


"Hahaha... coba tebak?"


"Yank, kok kamu belum bisa bedain aku sama Rissa, sih?" tiba-tiba seorang wanita cantik bergaun merah datang dan merangkul lengan Ivan.


"Lo, Rissa..." ucap Ivan malu sambil menatap wanita bergaun hijau yang memberinya minuman.


Rissa tersenyum lalu berlalu, meninggalkan pasangan yang sedang di mabuk cinta itu.


"Maaf, Na. Kalian mirip banget! aku susah bedainnya. Apalagi aku baru ketemu kembaranmu itu belum lama. Maaf ya, mungkin aku butuh waktu sedikit lagi," Ivan memeluk Rina, sambil mengecup keningnya.


"Iya, nggak apa-apa. Lagipula sekarang kamu bisa tau aku Rinna atau bukan dari cincin ini kan? soalnya Rissa nggak punya," Rina memamerkan cincin berwarna putih yang melingkar di jari manisnya, ya itu adalah cincin pertunangannya dengan Ivan.


*Acara pertunangan Ivan dan Rina berlangsung dengan sempurna, sesuai dengan keinginan mereka berdua. Dan akhirnya semuanya selesai dan para tamu pun pulang, tinggal beberapa teman dekat saja dan saudara dari Rina yang masih tinggal.


Ivan yang merasa sedikit pusing, pamit untuk ke kamar mandi sejenak*.


Ivan pun pergi ke kamar mandi yang ada di lantai dua sebuah Villa yang di sewanya khusus untuk acara pertunangannya dengan Rina.


Villa mewah dan megah yang memiliki banyak kamar, untuk menampung teman-teman dan saudara yang sudah datang dari tempat yang jauh.


Semua orang sibuk di lantai satu, hingga lantai dua Villa itu benar-benar kosong dan sepi.


Ivan masuk ke dalam kamarnya, dan segera melepas setelan yang membuat dia merasa gerah. Aneh, Villa ini berada di puncak, seharusnya hawanya dingin bukan sepanas ini.


Entah kenapa keringat Ivan bercucuran, kepalanya terasa pusing dan berputar-putar.


Ivan pun duduk di ranjang, berharap pusingnya berkurang.


Dan entah bagaimana, Ivan merasa ada yang menegang di bawah sana. Dan hasratnya seperti tak bisa dia bendung.


"Gue kenapa?!" bingung Ivan di tengah rasa campur aduk yang baru pertama kali dia alami.


"Van? Lo nggak apa-apa?" tiba-tiba muncul seseorang, dan dia masuk ke kamar Ivan lalu duduk di sebelahnya.


Ivan berusaha mengenali wanita yang duduk di sebelahnya, "Kamu Rina atau Rissa?" gumamnya sambil memijat keningnya.


Pandangan Ivan kabur, dia bahkan tak bisa mengenali warna baju yang di pakai wanita ini, merah atau hijau?


"Gue Rina, Van. Lo kenapa?" wanita itu merangkul Ivan, dan saat kulit lembut wanita itu mengelus mesra punggung Ivan yang telanjang, tiba-tiba saja Ivan menarik tangannya hingga si wanita jatuh tertidur di ranjang yang empuk. Lalu Ivan dengan segera menindih nya.


"Rin..." Ivan menelan salivanya. Dia sudah tak bisa lagi menahan hasratnya. Kepalanya makin terasa pusing dan seluruh indra nya menginginkan wanita ini.


"Rin... tolong aku," pintanya.


"Iya, nggak apa-apa, kita kan sudah bertunangan," jawab si wanita sambil tersenyum.

__ADS_1


Nafas Ivan memburu, lalu dengan rakus dia mencium bibir si wanita dan dengan sekali hentakan dia melepaskan gaun yang sejak tadi mengganggunya.


Tubuh polos wanita yang ada di bawahnya makin memancing hasrat Ivan. Tanpa basa basi, Ivan langsung memposisikan dirinya dan mulai melancarkan aksinya.


Tubuh mereka menyatu, diiringi nyanyian rintihan karena kenikmatan yang mereka rasakan.


Mereka berdua saling menginginkan, saling mendamba dan tak merasa ragu untuk saling mencumbu, memuaskan keinginan satu sama lain tanpa rasa malu.


"Rina..." Ivan menggumamkan nama kekasihnya saat akhirnya dia mencapai klimaksnya lalu terkulai lemas di atas tubuh polos wanitanya.


"Terima kasih sayang, dan maafkan aku kalau terlalu kasar..." bisik Ivan sebelum akhirnya dia jatuh tertidur.


***


Ivan terbangun di pagi hari karena panggilan dari Rina. Rina tersenyum cerah saat memasuki kamar Ivan.


"Waduh.. yang kecapean sampai tidur duluan semalam," Rina berjalan menuju jendela besar dan membuka tirai agar cahaya matahari dapat masuk dan menerangi kamar Ivan.


Ivan merasa silau, dia pun menyipitkan matanya.


Rina berbalik menatap Ivan dan terkejut, dengan segera dia mengangkat tangan untuk menutup matanya. "Ih, Ivan kok nggak pakai baju sih! malu, ah!"


Ivan tersentak kaget saat melihat dada polosnya tanpa selembar kain, untunglah bagian pinggang sampai kebawah tertutup selimut, karena Ivan juga dapat merasakan dia tak memakai apapun di bawah sana.


Dengan gugup Ivan menarik selimutnya.


"Semalam... kamu tidur di mana?" tanya Ivan, jantung nya berdegup kencang.


Ivan tercekat, berulang kali dia menelan salivanya hingga jakunnya naik turun tak beraturan. Tangannya gemetar dan tiba-tiba terasa dingin.


"La... lalu... siapa?"


"Siapa apa?" tanya Rina bingung.


"Siapa... eh, nggak... a-aku mandi dulu ya?" ucap Ivan gugup.


"Iya buruan, semua orang sudah pulang loh, tinggal kita berempat nih. Aku, kamu, Rissa sama Dion," jelas Rina, lalu dia berjalan menuju pintu, hendak keluar dari kamar Ivan.


Setelah Rina keluar, Ivan menjambak rambutnya sendiri, dia bingung dengan semua yang terjadi. Jika Rina semalam tak ke kamarnya, lalu siapa wanita yang sudah menghabiskan malam bersamanya.


"Gila! Lo, harus tenang, Van! Tenang!" pekik Ivan lirih.


Masih dengan pikiran kalut, Ivan menyelesaikan mandi paginya dengan cepat dan buru-burru dia mengenakan kaos favoritnya dan celana jeans yang biasa dia kenakan.


Saat sedang menyisir rambutnya di depan cermin besar, pintu kamarnya di ketuk seseorang.


"Van, ini gue, Rissa."


"Masuk," ucap Ivan.

__ADS_1


"Lo, sudah bangun?" Kepala Rissa menyembul dari balik pintu. Kemudian dia masuk sambil tersenyum cerah, dia terlihat sangat bahagia.


"E.. iya, sudah. Ada apa ya?"


Rissa kembali tersenyum, dia berjalan perlahan mendekati Ivan dan menatapnya penuh makna. Mereka bertatapan lama hingga membuat Ivan merasa aneh.


Apalagi Risa terlihat menggigit bibir bawahnya sambil terus tersenyum dan menatap Ivan, seperti Kesambet jin botol.


"Lo, kenapa?" tanya Ivan bingung.


Rissa kembali tersenyum, "Lo, nggak inget? semalam kita sudah melewati malam yang panjang..." Rissa membelai dada Ivan, "Lo, hebat banget, Van. Gue sampai kewalahan," bisiknya sambil tersenyum.


Ivan terbelalak, dengan kasar dia menepis tangan Rissa dan berjalan menjauhinya.


"Jadi, Lo!" pekik Ivan tak percaya.


Rissa mengangguk.


"Lo, gila! kenapa Lo..."


"Lo lupa? Lo yang minta kan?"


Ivan menelan salivanya, "tapi... tapi Lo bilang, Lo Rina!"


"Iya Lo nya aja yang gampang di bohongi," Rissa terkekeh.


"Lo gila! gue tunangan saudara, Lo! kenapa Lo tega?"


Rissa berlari mendekati Ivan dan memeluknya erat. "Ini semua gue lakuin, karena gue juga cinta sama Lo, Van! gue ingin memiliki, Lo!"


"*Lo gila!" Ivan berusaha melepaskan pelukan Rissa.


"Gue jadi selingkuhan Lo, juga gue rela, Van. asalkan gue juga bisa milikin, Lo."


"Jangan mimpi! gue nggak ada niatan buat ngeduain Rina!" pekik Ivan sambil berusaha melepaskan tangan Rissa yang melingkari tubuhnya. Namun Rissa sangat kuat dan bersikeras tak mau melepaskan Ivan.


"Tapi kejadian semalam membuktikan kalau Lo juga menginginkan gue, Ivan! lo jangan bohong!"


"Lo nipu gue! gue nggak akan melakukannya kalau tau itu lo, bukan Rina!" pekik Ivan tepat saat pintu kamarnya terbuka dan muncul Rina dengan wajah sedih beruraian air mata.


"Rina?" Ivan terkejut setengah mati*.


Rina pasti mendengarkan percakapan Ivan dan Rissa barusan, dia tampak shock, dia pun berlari meninggalkan Ivan dan Rissa tanpa sepatah katapun.


Dengan sekuat tenaga, Ivan menghempaskan Rissa demi bisa mengejar Rina. Namun sayang, Rina berlari begitu cepat, Ivan pun berusaha mengejar, namun tak bisa. Hingga tiba-tiba muncul mobil lain dari arah yang berlawanan dan menabrak Rina.


......................


"Rina!!!" teriak Ivan saat tersadar dari mimpinya. kenangan buruk dua tahun lalu kembali menghantuinya.

__ADS_1


"Gue nggak boleh begini! gue nggak boleh kehilangan orang yang gue sayang lagi! nggak boleh!" Gumam Ivan kalut.


__ADS_2