
"Terima kasih Ma, makan malamnya enak sekali," Ivan membersihkan mulutnya dengan tisu sambil tersenyum pada Mama Luci.
Mama Luci pun membalas senyum Ivan seraya berkata, "semoga kamu bisa istirahat dengan nyenyak malam ini."
"Kenapa Pak Ivan bisa nggak nyenyak istirahatnya? memangnya ada yang gangguin tidurnya?" tanya Vin-vin dengan nada bicara sedikit ketus.
"Namanya juga di tempat baru, Vin. Kasur nya beda sama yang ada di rumahnya, ya siapa tau aja Ivan nggak nyaman."
"Nyaman kok, Ma. Nyaman sekali. Terima kasih Ma..." ucap Ivan tulus.
"Biar Saya yang cuci piring," usulnya sambil bergegas bangun dari duduknya seakan lupa dengan kakinya yang patah. Akhirnya dia menyerah dan kembali duduk karena kakinya terasa sangat sakit.
"Jangan memaksakan diri, sudah sana istirahat saja." Mama Luci bangkit dari duduknya dan mulai membereskan meja dengan di bantu Vin-vin.
"Baik, Ma. Oh ya, Om Aldrich sama Devan ke mana ya? kok nggak ikut makan?" Ivan berusaha bangun dengan di bantu kruknya lalu celingukan mencari sosok Papi Al.
"Mereka lagi ada kerjaan, sampai malam sepertinya," jawab Mama.
Ivan menganggukkan kepalanya. luar biasa sekali si kecil Devan. Baru berumur duabelas tahun tapi selalu banjir tawaran kerja. Wajahnya yang sangat imut dan tampan pasti menjadi daya tarik utamanya. Ya, bagaimana nggak tampan, lihat saja ayahnya yang sangat rupawan yang bahkan sampai sekarang masih terlihat berkharisma dan masih memiliki nilai jual yang tinggi. Mereka berdua, Ayah dan Anak yang benar-benar beruntung.
Ivan berjalan perlahan menuju teras, dia ingin mencari udara segar dan bersantai di sana. Belum lama Ivan duduk, Vin-vin muncul sambil membawa dua cangkir kopi.
"Kopi?" tanyanya sambil duduk di sebelah Ivan.
"Terima kasih, tau saja aku ingin ngopi," Ivan tersenyum manis sambil memandangi wajah Vin-vin yang nampak cantik malam ini, yah walaupun dia hanya memakai kaos warna maroon yang kebesaran dan leging selutut warna hitam yang menempel ketat di kakinya.
"Kenapa sih?" Vin-vin merasa risih karena terus di pandangi netra hitam Ivan.
"Kamu... cantik banget," lirihnya sambil tersenyum.
"Hmm, sudah tau!" jawab Vin-vin ketus saambil menyeruput kopinya.
"Hmm..." Vin-vin menarik napas lalu menghembuskannya dan mulai bicara dengan hati-hati.
"Rissa... gimana kabarnya?"
"Ya... begitulah... setelah bangun dari koma, dia... aku sulit menceritakaannya. Nanti aku ajak kamu temui dia," jawab Ivan dengan santai sambil menyeruput kopi buatan Vin-vin.
"Hmmm.. kopi buatan kamu enak banget, Vin. "
"Iyalah, aku juga belajar jadi barista waktu di Singapore."
"Aku nggak kepengen ketemu Rissa... siapa juga yang mau ketemu sama dia!" lanjut Vin-vin kesal karena Ivan mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
Ivan tersenyum, "Rissa sekarang hanya bisa duduk di kursi roda, dia hanya bisa merespon orang dengan kontak mata, entah itu kedipan atau lirikan. Dia benar-benar sudah tak berdaya, Vin. Jadi kita tak perlu mengkhawatirkan nya lagi."
Vin-vin terdiam. Sedikit merasa shyok dan kasihan. Tapi mungkin memang itu jalan yang harus di tempuh Rissa karena perbuatannya pada saudara kembarnya sendiri.
"Lalu kamu?"
"Eh? kenapa?" Vin-vin meletakkan cangkir kopinya lalu menatap Ivan.
"Siapa lelaki itu? yang jauh-jauh datang dari Singapura? kamu tebar pesona ya di sana sampai ada yang nekat ngejar sampai ke sini?" Ivan menatap Vin-vin sambil menyipitkan matanya, mencoba mengintimidasi.
"Ck, apaan sih? memangnya aku bisa mengendalikan perasaan orang? kalau dia suka sama aku, aku harus bagaimana?" jawab Vin-vin sambil menyandarkan punggungnya.
Ivan tersenyum sinis sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi nggak ada rasa bersalah ke aku ya? seneng ya dikejar-kejar cowok? ngerasa hebat?"
"Bukannya dari SMA juga sudah banyak yang naksir aku, kamu aja yang nggak peka."
Ivan tersenyum, "Aku juga salah satu orang yang perhatiin kamu kok. Kamu aja yang nggak peka."
"Apaan sih! nggak usah ngopi kata-kata ku, deh!" kesal Vin-vin.
"Iya, deh..." jawab Ivan sambil tersenyum puas.
"Pak?!" kejut Vin-vin sambil berusaha berdiri. Namun dengan cepat pula Ivan melingkarkan tangannya di pinggang Vin-vin hingga Vin-vin tak bisa bangun dara duduknya.
"Nggak akan aku biarkan kamu pergi lagi, secepatnya kita menikah Vin, dan aku nggak akan pernah melepaskan kamu sedetikpun. Mungkin dulu aku masih bisa menahan diri, tapi sekarang tidak lagi. Kamu milikku." Bisik Ivan tepat di telinga Vin-vin.
Jantung Vin-vin berdebar kencang mendengar ucapan Ivan yang begitu berat dan parau di di telinganya. Dia pun yakin jika Ivan merasakan degup jantungnya yang bertalu-talu.
"Dulu aku selalu di tolak sama kamu, sekarang aku akan melakukan hal yang sama. Itu baru adil, ya kan?" gumam Vin-vin berusaha keras agar suaranya tak gemetar karena gugup.
"Kamu yang nggak tau betapa besar usahaku menahan diri agar hubungan kita bisa bertahan. Sekarang, aku nggak akan melakukannya lagi. karena kamu sudah bisa kumiliki seutuhnya, ya kan? sayang?" bisik Ivan sambil mengeratkan pelukannya.
Vin-vin hanya diam sambil menelan salivanya. Memikirkan ucapan Ivan membuat hatinya jungkir balik. Jujur Vin-vin memang sangat menginginkaan Ivan, bahkan keinginan untuk bersama Ivan sudah ada sejak dia masih duduk di bangku sekolah dulu, namun Ivan memang pandai menjaga dirinya yang saat itu masih bocah. Setelah beranjak dewasa, keinginan untuk bersama orang yaang dia sukai pun semakin besar, bukan hanya jalan berdua, saling bertemu tapi keinginan untuk melakukan hal yang lebih intens. Dan itu membuat Vin-vin makin gundah gulana untuk menahan diri.
Tapi mengetahui kenyataan Ivan pun menginginkan hal yang sama, dinding yang berdiri kokoh di hatinya langsung retak dan hampir roboh.
"Vin.. kamu nggak menginginkanku?" bisik Ivan lagi.
Vin-vin tak kuasa menjawab, dia hanya menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan.
"katakan bahwa kau juga menginginkanku?"
__ADS_1
Vin-vin masih tak menjawab. Dan Ivan tampak kecewa. Diapun melepaskan pelukaknnya dan memberikan kebebasan agar Vin-vin bisa beranjak.
Namun ternyata, Vin-vin menoleh dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Ivan lalu mencium bibir tipis mantan guru olahraga nya itu. Memagutnya hingga Ivan pun melenguh keenakan, kemudian secara reflek tangan Ivan Ivan kembali memeluk pinggang Vin-vin dan bahkan salah satu tangannya mulai menyusuri lekuk tubuh Vin-vin dan menyelinap ke dalam kaos Vin-vin yang kebesaran.
Saat jemari halus Ivan menyentuh kulit perut Vin-vin yang mulus, mereka berdua sontak berciuman makin dalam, saling memagut dan serasa melayang di awan.
Jemari Ivan yang nakal merayap naik, dan menapaki sebuah bukit yang menjulang di dalam sana dan sontak memebuat Vin-vin mendesah dan mulai meliuk-liuk kan tubuhnya. Gesekkan-gesekkan paha Vin-vin di bagian bawah Ivan pun mulai membangunkan mahluk yang selama ini tertidur pulas.
"Ohh.. Vin?" desah Ivan.
"Hmm?" ******* Vin-vin yang terdengar sangat manja, membuat Ivan makin menggila.
Ivan makin berani menyelipkan jarinya ke dalam bra yang di pakai Vin-vin lalu menggelitikki pucuknya yang sudah keras dan menegang. Lalu tanpa berpikir boleh atau tidak, Ivan mengangkat bagian depan kaos Vin-vin dan menciumi dadanya yang lembut dan kenyal, pucuk berwarna pink dan sangat menggoda itu langsung dia gigit dengan gemas membuat Vin-vin memekik kaget.
"Pak?!" Vin-vin berusaha menjauh, tapi Ivan malah mengulumnya, menggelitiki dengan lidah dan kembali menggigitinya.
"Sudah... ahh.. sudah..."
"Panggil 'sayang' baru kulepaskan..."
"Aahh... aku nggak tahan.. ahhh..." desah Vin-vin.
"Aku juga, coba rasakan?" Ivan meraih jemari Vin-vin dan menuntunnya ke area kejantanannya yang sudah menegang dan mengeras.
"Paak...besar sekali..."
"Itu milikmu..."
Vin-vin mengangkat kakinya, lalu menggoyangkan bokong montoknya di atas milik Ivan, membuat Ivan mengerang.
"Vin..."
Vin-vin menggoyangkan bokong nya makin cepat membuat Ivan kalang kabut, hingga akhirnya..
Tin! Tin!
Vin-vin melonjak, dengan cepat dia bangun dari duduknya dan membetulkan tali branya yang terlepas.
"Papi pulang!" pekiknya. lalu dia buru2 berlari ke arah pagar dan membuka pintu pagar agar mobil ayahnya bisa masuk.
Sedang Ivan masih duduk, gugup sambil berusaha menutupi miliknya yang sudah terbangun fan siap berperang.
"Sabar... sabar..." gumamnya.
__ADS_1