
Ivan terus menarik tangan Vin-vin dan membawanya, melewati area dapur caffe kemudian masuk ke sebuah ruangan kecil yang tertata rapih.
"Ayo masuk," ajak Ivan sambil membukakan pintu untuk Vin-vin.
Dengan sedikit ragu, Vin-vin pun berjalan masuk.
Setelah Vin-vin berada di dalam ruangan, Ivan langsung menutup pintu dan duduk di sebuah sofa. Dia menepuk dudukan sofa dan meminta Vin-vin untuk duduk di sebelahnya.
Vin-vin berjalan perlahan, namun dia berbelok dan duduk di sebuah kursi yang berada di depan sebuah meja, tampaknya itu adalah meja kerja Ivan.
Mendapatkan penolakan dari Vin-vin, Ivan hanya bisa tersenyum dan menghela napas perlahan.
"Aku kangen sekali, Vin..." ucapnya lembut sambil menatap Vin-vin.
Vin-vin diam dan berusaha mencari kesibukan untuk mengacuhkan Ivan. Dia menatap jari-jari lentiknya sambil sesekali meenyibukkan diri dengan memeriksa kuku kukunya.
"Kamu, masih belum bisa maafin aku?" lanjut Ivan. "Sudah tiga tahun, dan aku menepati janjiku, Vin..."
Vin-vin masih diam.
Ingin rasanya dia menjawab ucapan Ivan, bahwa dirinya juga merasa rindu, bahkan dia rela pagi-pagi pergi ke sekolahnya untuk melihat Ivan dari kejauhan, tapi lidah Vin-vin kelu.
"Aku harus apa supaya kamu bisa seperti dulu lagi?" Ivan mendekati Vin-vin dan berlutut di depannya. Tangan Ivan meraih jemari Vin-vin dan matanya menatap lekat netra Vin-vin.
Sebenarnya sudah sejak lama Vin-vin memaafkan Ivan, bahkan dia sudah melupakan semuanya. Vin-vin sendiri juga merasa heran, kenapa dulu dia begitu keukeuh marah pada Ivan dan mengambil keputusan untuk meninggalkannya.
Semuanya bukan salah Ivan, dia di jebak. Dan kenapa dia tak jujur? tentu saja seperti yang Ivan bilang, dia pasti merasa malu untuk mengakui aib itu.
Setelah hidup sendiri dan mandiri di negri orang, Vin-vin tau betapa kejamnya dunia ini tanpa perlindungan orang tuanya, dan Vin-vin berusaha keras menjaga dirinya dari godaan-godaan yang silih berganti mendekatinya. Sedikit banyak, dia memahami apa yang Ivan rasakan, dan dia bisa memaklumi semuanya. Namun, Vin-vin merasa malu untuk mengakuinya.
"Bagaimana kalau kita mulai dari awal?" tanya Ivan.
"Mulai dari awal?" ulang Vin-vin tak mengerti.
"Lupakan semuanya, kita mulai lagi dari awal. Sebelum kita s aling mengenal."
Vin-vin masih tak mengerti.
"Kenalin, aku Ivan Xanders. Pemilik kafe ini," ucap Ivan sambil mengulurkan tangannya.
Vin-vin bingung, dia terus menatap tangan dan wajah IVan bergantian.
Ivan tersenyum sambil menggerakkan tangannya, meminta ulurana tangannya di balas.
"Kamu siapa?"
"Jangan konyol," kesal Vin-vin sambil menepis tangan Ivan.
__ADS_1
"Aku serius. Aku Ivan dan dulu aku punya pengalaman buruk, aku pernah tid-" ucapan Ivan terhenti karena Vin-vin tiba-tiba menutup bibir Ivan dengan jari telunjuk nya.
"Sudahlah, hentikan..." lirihnya. Vin-vin tak mau lagi mengingat kejadian itu.
"Jadi kamu sudah memaafkan aku, Vin?"
"Aku nggak bilang begitu, aku cuma nggak mau diingatkan lagi tentang masalah itu!"
"Iya, baik. Maaf..."
Vin-vin menatap heran pada Ivan. Tiga tahun berpisah, kenapa sifat Ivan jadi begini? dia sangat penurut dan tak berani membalas ucapan ketus Vin-vin.
Benarkah lelaki yang berdiri di depannya ini adalah Guru Olahraga pujaannya? kekasihnya yang sangat dia cinta semasa SMA?
"Aku mau pulang," Vin-vin berusaha menjauhi Ivan dan berjalan menuju pintu keluar ruang kerja Ivan.
"Vin..." Ivan meraih tangan Vin-vin, lalu berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya di perut Vin-vin. Dia memeluk Vin-vin dari belakang.
"Jangan pergi dulu, plis..." pintanya. Suaranya lirih dan parau, membuat bulu kuduk Vin-vin meremang karenanya.
Ivan menempelkan dagunya di bahu Vin-vin dan kembali berbisik, "Aku kangen kamu..." lalu dia menghirup dalam-dalam aroma rambut Vin-vin sambil mengeratkan pelukannya.
"Pak... apa yang kamu lakukan..." Vin-vin berusaha melepaskan diri, dia tak mau ikut terbawa suasana romantis ini. Walaupun ada teriakkan di dalam pikirannya untuk membalas pelukan Ivan dan menciumi bibirnya hingga puas.
Vin-vin sudah dewasa sekarang, sudah bukan bocah ingusan seperti dulu, hasratnya untuk melakukan hal romantis pun hampir tak bisa dia bendung, tapi Vin-vin harus punya harga diri. Dia tak mau jadi cewek gampangan!
Wajah Ivan tampak kecewa dan sedih karena penolakan Vin-vin. Namun akhirnya dia mengangguk pasrah. Mereka baru saja bertemu setelah sekian lama, Ivan tak mau membuat Vin-vin marah.
"Aku antar ya?"
"Aku ada teman, Ami dan Sofia."
"Nggak apa-apa, sekalian saja," Ivan berjalan mengitari meja kerjanya dan mengambil sebuah kunci mobil yang terletak di dalam laci.
"Ayo," ucapnya sambil berjalan mendahului Vin-vin dan keluar dari ruangannya.
Vin-vin mendesah dan berjalan mengikutinya dari belakang.
Ada sedikit perasaan kecewa terselip di hatinya, kecewa karenaa Ivan sangat cepat menyerah. Padahal jika Ivan berani sedikit lagi, Vin-vin pasti jatuh dalam pelukannya.
"Stupid!" geramnya sambil memukul keningnya sendiri.
"Mau kaamu itu apa sih sebenernya, Vin!" gerutunya.
"Ada apa?" tanya Ivan.
"Nggak! nggak ada apa-apa!" ketus Vin-vin sambil berjalan cepat mendahului Ivan.
__ADS_1
"Mutia, Axel... nanti malam kalian ke rumah ya, kita ngobrol sambil barbekyu di rumah ku, oke?" ucap Vin-vin saat sudah berada di dalam kafe dan di dekat mejanya.
"Loh, Liam mana?"
"Dia langsung pergi, wajahnya tampak sedih sangat. I tak tega nak tengok..." jawab Sofia.
"Memangnya salah siapa? kaliana kan yang buat dia jadi begini," ketus Vin-vin.
"Kita mana tau, awak punya boyfriend se-hansem ini..." celoteh Ami sambil melirik Ivan yang tersenyum kecil karena ucapannya.
"Amboii... kaki I lemas karna senyum manisnya..."
"Ami!" kesal Vin-vin karena tingkah temannya. Vin-vin cemburu karena Ami bisa dengan gampangnya bicara blak-blakan sedang dirinya berusaha keras menahan diri.
"Ayo, aku antar kalian pulang," ucap Ivan menyela perdebatan Vin-vin dan Ami.
"Okelah, nanti malam kita datang dan ngobrol, sekarang aku masih ada kelas." Mutia bangkit dari duduknya diikuti Axel.
"Kalian nggak ikut kami sekalian?" tanya Ivan.
"Nggak, Pak. Axel bawa mobil kok. Kita duluan, ya." Mutia memeluk Vin-vin dan pergi diikuti Axel.
"Ayo," ajak Ivan setelah Mutia dan Axel pergi.
"Ton, gue pergi dulu," ucap Ivan pada salah satu karyawan kafe.
"Siap bos,"jawab si karyawan.
Ivan betjalan menuju area parkir mobil diikuti Vin-vin, Ami dan Sofia.
Dengan sangat percaya diri, Vin-vin mencari mobil mungil warna merah milik Ivan namun dia tak menemukannya di sini.
"Mana mobilnya?" tanya Vin-vin bingung.
"Ini," jawab Ivan sambil menekan tombol alarm mobilnya dan seketika mobil besar berwarna hitam yang sangat gagah, mengedipkan lampu sen-nya.
"Ayo."
"Alamak.. mobilnya keren, Vin!" pekik Ami dengan suara lirih namun memekik.
"Stt!" kesal Vin-vin. Dia pun takjub dengaan mobil milik Ivan. Sejak kapan mobil mungil warna merahnya berubah menjadi Paje*o Sport?
"Mobil awak keren sangat, ni..." celoteh Ami tak peduli dengan pelototan Vin-vin.
"Iya dong, soalanya Saya mau istri Saya nanti nyaman kalau mau pergi, makanya saya belikan mobil ini buat dia nanti," jawab Ivan sambil melirik Vin-vin.
"Heuhh.. panas sekali di luar sini, ayo cepat masuk!" keluh Vin-vin.
__ADS_1