Oh My Teacher

Oh My Teacher
Rencana Daniel.


__ADS_3

"Huft..." Vin-vin menyangga dagunya dengan satu tangan, tatapannya kosong saat melihat buku pelajaran yang tergeletak di depannya.


"Kenapa lagi si Vin?" tanya Mutia sambil menatap sahabatnya yang tampak gundah gulana dari pagi.


"Pak Ivan melarang aku ikut les dengan Pak Daniel," jawab Vin-vin sambil mengganti tangannya untuk menopang dagu.


"Aku juga setuju sama saran Pak Ivan," Mutia celingukan lalu mendekati Vin-vin dan berbisik, "Sisca bilang, Indah kaya orang linglung hari ini. Kayaknya dia terpukul banget waktu Pak Daniel bilang mereka nggak ada hubungan apa-apa."


"Bagaimana dengan Dita?"


"Dita? dia sih kelihatan biasa aja, Indah yang paling shock. Sepertinya dia benar-benar jatuh cinta sama Pak Daniel."


Vin-vin mendesah, "Pak Daniel jahat ya, bikin Indah sakit hati."


"Kalau cuma sakit hati aja si masih bisa di maafkan, sepertinya hubungan Indah dan Pak Daniel sudah lebih..." Mutia celingukan lagi lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Vin-vin untuk berbisik.


"Apa?! jangan gila! nggak mungkin!" teriak Vin-vin tak percaya.


"Stt!! sstt!! diem! ini baru gosip yang beredar, kenyataannya kita belum tahu."


"Kalau bener kejadiannya seperti itu, aku harus laporan sama Pak Ivan! ini nggak boleh dibiarkan!" Vin-vin langsung mengambil ponselnya hendak menghubungi Pak Ivan, namun sayang Pak Daniel sudah muncul. Ya, sekarang memang jam pelajaran bahasa Inggris.


Selama pelajaran berlangsung, entah kenapa Vin-vin merasa sangat risih, itu karena Pak Daniel terus-menerus memandanginya membuat Vin-vin merinding dan merasa tak nyaman.


"Mut..." Vin-vin berbisik, tapi matanya terus menatap ke buku pelajaran yang tergeletak di meja.


"Hmm?"


"Apa ini cuma perasaan aku atau memang Pak Daniel selalu ngeliatin aku?" bisik Vin-vin lagi, kali ini dia sambil pura-pura menulis sesuatu di bukunya, padahal dia hanya asal mencorat-coret saja.


"Iya, aku juga ngerasa gitu. Tatapannya menjijikkan!" kesal Mutiara. Dia yang tak di tatap oleh Pak Daniel saja merasa eneg, apalagi Vin-vin yang terus menerus di pandanginya.


"Vin! kamu benar-benar harus jauhi guru satu ini! jangan-jangan dia predator kayak yang lagi rame di tv-tv itu! binatang berwujud manusia!" Mutia meremas selembar kertas hingga berbentuk seperti bola.


Vin-vin menarik napas panjang, "kok bisa ada manusia seperti ini nyangkut di sekolah kita yang damai."


"Vincia."

__ADS_1


"Ya?!" Vin-vin kaget saat namanya di panggil oleh Pak Daniel.


"Tolong bantu Saya, kamu ambil buku catatan teman-teman kamu semua lalu bawa ke ruang guru ya. Saya ingin lihat catatan kalian semua."


"Kan ada ketua kelas, kenapa harus Saya Pak?" tanya Vin-vin. Biasanya Vin-vin selalu menurut jika di beri tugas oleh gurunya, namun kali ini Vin-vin merasa tak perlu menuruti perintah Pak Daniel. Bahkan membayangkan dia berjalan beriringan ke ruang guru sudah sukses membuat perutnya mual.


"Ada yang ingin Saya bicarakan dengan kamu. Bisa kan kamu bantu Saya membawa buku catatan teman-teman kamu?"


Vin-vin hanya mengangguk diiringi hembusan napas, dia tak bisa menolak permintaan guru, bagaimanapun Pak Daniel tetap gurunya.


Setelah selesai mengumpulkan buku catatan seluruh teman sekelasnya, Vin-vin mengikuti Pak Daniel berjalan menuju ruang guru.


"Maaf ya, Saya merepotkan kamu," ucap Pak Daniel sambil tersenyum.


Vin-vin hanya mengangguk, enggan menjawab.


"Berat?" tanya Pak Daniel sambil meletakkan tangannya di bahu Vin-vin.


Vin-vin mengernyit, "nggak Pak," jawabnya sambil berjalan sedikit menjauh agar tangan Pak Daniel lepas dari bahunya.


"Kenapa? jalannya jauh sekali?" Pak Daniel meraih siku Vin-vin, karena kedua lengan Vin-vin sedang sibuk memegang buku-buku milik teman sekelasnya.


"Bantu Guru kok nggak ikhlas, Vin..." Daniel berjalan cepat berusaha menjejeri Vin-vin.


"Vin!"


Vin-vin menolehkan kepalanya ke asal suara orang yang memanggilnya, dan dia tersenyum lega saat melihat Pak Ivan berlari kecil mendekatinya.


"Ngapain?"


"Ini..."


"Saya minta tolong Vincia buat bantu Saya bawa buku-buku catatan ke ruang guru." Daniel ikut bicara


Ivan menatap Daniel. Tangan Daniel begitu bebas, dia tak bawa beban apapun, kenapa harus menyuruh Vin-vin membawa buku-buku?


"Bukannya Anda nggak terlalu repot? kenapa nggak bawa sendiri?!"

__ADS_1


Daniel menautkan alisnya, " Saya sedang melatih Vincia untuk terbiasa membantu orang lain. Ini urusan Saya, Anda nggak usah ikut campur." ucapnya mulai kesal.


Daniel merasa Ivan selalu muncul dan mengganggunya saat dia sedang bersama murid cantik yang dia incar ini.


Ivan mendengus lalu merebut buku-buku yang sedang di pegang Vin-vin.


"Biar Saya saja, kamu kembali ke kelas!"


"Baik Pak," Vin-vin mengangguk lalu berlari kecil menuju kelasnya.


Daniel tampak semakin kesal, dia menatap Ivan dengan tatapan tak suka.


"Bukannya Anda sedang mengajar olahraga? kenapa Anda ikut campur urusan Saya!"


"Selama Anda ada di sekolah ini, Anda harus terbiasa dengan gangguan dari Saya Pak Daniel," Ivan tersenyum sambil bergegas menuju ruang Guru.


Daniel menatap kepergian Ivan, dia terdiam di tempatnya karena mencoba meredakan emosinya. Kesabarannya mulai habis! dia mengingat kembali semua kejadian yang selalu di interupsi oleh guru olah raga satu itu.


"Kayaknya orang satu ini harus gue beresin! kalau nggak dia bakal ganggu usaha gue terus-terusan! awas Lo Van! tunggu aja gue bakal abisin Lo!" geram Daniel sambil mengepalkan tangannya.


***


"Halo bro! Lo sibuk nggak siang nanti? gue ada kerjaan buat Lo nih!"


Daniel sedang berada di halaman belakang sekolah yang sepi, dia mencoba menghubungi seseorang yang akan membantunya.


"Gue lagi kesel banget nih! Lo bantu gue abisin dia ya. Nggak usah sampai mampus, yang penting dia bisa nginep di rumah sakit seminggu gitu, hahaha..."


"Oke bro, ntar sekitar jam 1 siang, gue tunggu di tikungan jalan deket sekolahan."


Daniel menutup telponnya sambil tersenyum puas


"Lihat aja Van, Lo bakal gue abisin! setelah itu gue bisa leluasa deketin Vincia tanpa gangguan dari Lo!" gumamnya.


Setelah itu, Daniel berjalan menjauh untuk kembali ke ruang guru dan melanjutkan aktivitasnya kembali.


Niatan untuk menghajar Ivan memang sudah ada sejak lama, sejak Ivan mulai mengganggu usahanya untuk mendekati murid incarannya.

__ADS_1


"Gara-gara Lo, gue jadi susah banget deketin Vincia, akhirnya gue jadi dapat cemilan yang bikin gue susah!" Daniel mengingat Indah yang sulit sekali untuk di kendalikan, karena dia selalu menginginkan dekat dengannya. Awalnya Daniel senang tapi lama-lama dia bosan. Memang Vincia satu-satunya target yang paling sempurna buatnya.


__ADS_2