Oh My Teacher

Oh My Teacher
kejadian tak terduga di kafe d'best


__ADS_3

Dua mata pelajaran lagi, waktunya untuk pulang sekolah. Namun Vin-vin tak bisa fokus sama sekali. Dia masih juga memikirkan Axel.


Sikap Axel sewaktu di kantin tadi membuatnya tak tenang. Vin-vin bukannya tidak tahu jika Axel cemburu, dia juga bukan anak bodoh yang tidak bisa membaca sikap Axel kepadanya selama ini.


Vin-vin tahu jika Axel menyukainya, namun perasaan cinta kan memang tak bisa di paksakan.


Sejak kecil hingga sekarang, Vin-vin sudah sangat dekat dengan Axel. Vin-vin bahkan merasa Axel seperti kakak baginya.


Dia menyukai Axel, sangat suka namun hanya sebatas teman atau mungkin saudara.


Ini bukan perasaan cinta, hanya suka.


Vin-vin menarik napas sangat dalam lalu menghembuskannya dengan kencang.


"Kenapa?" bisik Mutiara, namun matanya tetap fokus ke guru yang sedang memberikan penjelasan di depan.


"Kepikiran Axel," jawab Vin-vin.


Mutiara menulis sesuatu di buku tulisnya, lalu memberikannya pada Vin-vin.


Kalau nggak bisa membalas perasaannya, jangan kasih harapan!!!


Vin-vin mencibir setelah membaca tulisan Mutiara.


Makanya, buruan kamu dekati Axel. Hibur dia biar nggak mikirin aku terus.


"Njiir..." Mutiara langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan karena keceplosan berteriak saat pelajaran tengah berlangsung.


"Mutiara Putri! kamu mau menggantikan Saya mengajar di depan kelas!"


"Nggak Bu, maaf..." Mutiara menunduk malu.


Sedang Vin-vin ikut menundukkan kepala sambil menahan senyum.


Saat bel pulang sekolah berbunyi, serempak seluruh murid berhamburan keluar dari ruang kelasnya masing-masing. Tak terkecuali Mutiara dan Vin-vin yang masih menertawai kejadian barusan.


"Seneng banget ya, temen sendiri di marahi guru, bahagia?!" Mutiara makin kesal.


"Nggak lah Mut... maaf..." Vin-vin berusaha sekuat tenaga menahan tawanya.


Mutiara cemberut, "pulang sama siapa? pacar?"

__ADS_1


"Ya iyalah..." jawab Vin-vin sambil mengibaskan rambutnya.


"Baru punya pacar aja shombhong!" kesal Mutiara.


Lagi-lagi Vin-vin tertawa, "aku ikut sampai kafe d'best ya."


"Iyalah, yuk buruan. Jangan biarkan sang pujaan hati menunggu terlalu lama di sana." Mutiara menarik tangan Vin-vin agar mengikutinya dengan cepat.


Seperti biasa, Mutiara menurunkan Vin-vin di depan kafe yang jaraknya tak terlalu jauh dari sekolah. Vin-vin masih menyembunyikan hubungannya dengan Pak Ivan sehingga setiap hari mereka berdua harus sembunyi-sembunyi jika ingin pulang sekolah bareng. Dan kafe inilah yang menjadi basecamp mereka berdua.


"Vin-vin?"


Vin-vin terkejut mendengar suara yang tak asing, saat dia menoleh benar saja ternyata itu adalah suara Pak Daniel.


"Kamu lagi ngapain di depan kafe sendirian?" Pak Daniel turun dari sedan warna silver miliknya.


"Aku.. aku lagi nunggu jemputan," jawab Vin-vin gugup.


"Kenapa nunggu jemputannya di sini? kenapa nggak di jemput di sekolah saja?" Pak Daniel berdiri di depan Vin-vin, persis di depannya dengan jarak yang sangat dekat membuat Vin-vin gugup dan bergerak mundur secara perlahan.


"Nggak apa-apa Pak, tadi aku pengen ke kafe dulu sebentar," jawab Vin-vin berbohong.


"Saya temani sampai teman kamu datang ya? Saya takut kamu di ganggu orang." Pak Daniel tersenyum sambil memandangi Vin-vin dengan tatapan yang membuat Vin-vin merinding.


Di temani Pak Daniel malah terasa lebih menakutkan ketimbang dia sendirian di sini.


"Ah! atau begini saja!" Daniel menepuk tangannya dengan keras, "Saya saja yang antar kamu pulang. Sebenarnya Saya juga ingin bertemu Ayah kamu untuk meminta maaf soal kejadian waktu itu. Saya merasa nggak enak hati."


"Ahh.. itu nggak perlu Pak."


"Kenapa nggak perlu? ini penting sekali buat Saya. Apalagi kalau Saya betul-betul jadi guru les kamu nanti, Saya pasti bakal sering bertemu dengan Ayah kamu."


"Oh, tenang saja, aku nggak ikut les Pak Daniel kok. Jadi Pak Daniel tak perlu merasa tak enak hati karena Pak Daniel tak akan bertemu dengan Papi. Lagi pula kalau siang hari seperti ini Papi pasti nggak ada di rumah."


"Tapi Saya bisa kan antar kamu pulang sekarang. Kalau masalah bertemu Ayah kamu kan nanti malam Saya bisa datang lagi. Yang penting Saya sudah tahu alamat rumah kamu."


Vin-vin mendengus halus, takut kekesalannya terlihat jelas. Siapa sih yang nggak kesal dengan orang seperti ini! apa dia tak sadar sudah di tolak tapi masih dengan tak tahu malu terus memaksa. Alasan apalagi untuk menolaknya.


Yang lebih Vin-vin khawatirkan adalah Pak Daniel tahu jika orang yang di tunggu Vin-vin adalah Pak Ivan. Vin-vin takut jika hubungannya dengan Pak Ivan di ketahui oleh Pak Daniel.


Vin-vin harus mengusir Pak Daniel secepatnya sebelum Pak Ivan datang, namun melihat Pak Daniel yang sangat pantang menyerah sepertinya akan sangat sulit.

__ADS_1


Tin! Tin!


Vin-vin dan Daniel menoleh. Di sana, di tepi jalan ada sebuah motor sport warna hijau yang sedang berhenti. Pengemudinya terus menatap ke arah Daniel dan Vin-vin dari dalam helm full facenya.


Jantung Vin-vin berdegup dengan kencang, karena dia tahu pengemudi motor itu adalah Pak Ivan. Bagaimana jika Pak Daniel bertanya macam-macam.


Wajah Vin-vin langsung berubah pucat.


Ivan melepas helmnya lalu berjalan mendekati Daniel dan Vin-vin yang masih berdiri di parkiran kafe. Matanya terus menatap ke arah Daniel.


"Pak Daniel?"


"Loh Pak Ivan ada apa kemari?" Daniel balik bertanya.


"Saya mau jemput Vin-vin," jawab Ivan santai tanpa beban. Padahal Vin-vin sudah ketakutan.


"Kenapa Pak Ivan yang jemput Vin-vin? memangnya kalian ada hubungan apa?" Daniel tersenyum smirk sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Saya ada keperluan dengan Vin-vin," jawab Ivan santai.


"Ayo Vin! Saya permisi Pak Daniel." Ivan berbalik dan kembali berjalan menuju motornya diikuti Vin-vin.


Vin-vin yang merasa sangat canggung, berusaha bersikap biasa. Saat naik ke atas motor Ivan pun dia tak berani memeluk perut sixpack pacarnya itu. Dia benar-benar takut Pak Daniel akan menyebarkan gosip yang tidak-tidak tentang dirinya dan Pak Ivan.


"Daniel nggak macam-macam kan?" tanya Ivan di tengah perjalanan mereka.


"Nggak kok Pak."


"Kalian ngobrol apa?"


"Dia pengen nganterin aku pulang, katanya juga mau minta maaf sama Papi karena kejadian kemarin itu," karena merasa sudah jauh dan tak melihat keberadaan Daniel, Vin-vin pun melingkarkan tangannya di pinggang Ivan.


"Ngomong-ngomong, Pak Ivan kok berani sekali ada Pak Daniel tapi tetap datang buat jemput aku?"


"Memangnya Saya harus biarkan kamu terus ngobrol sama si kuda nil itu dan akhirnya di antar dia pulang!"


"Ya aku pikir Pak Ivan takut hubungan kita ketahuan... kalau sampai Pak Daniel cerita macam-macam di sekolah bagaimana?"


"Saya lebih memilih dia bergosip tentang kita dari pada membiarkan kamu terus ada di dekatnya!" jawab Ivan tegas.


Vin-vin tersenyum sambil memeluk perut pacarnya makin erat. Vin-vin merasa bahagia karena sekarang Pak Ivan begitu menghawatirkan dirinya dan juga begitu perhatian.

__ADS_1


"Pak... Laper... makan yuk..."


"Ya nanti di rumah."


__ADS_2