
"Pacaran??? bulan depan???" Dion langsung menoleh ke arah Ivan dan menatapnya curiga.
"Lo bilang, anak murid Lo yang SMA itu anak kecil. Lo bilang yang pacaran sama anak kecil itu pedofil?" Dion menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum miring.
"Makanya Pak Ivan mau jadi pacarku di bulan depan, soalnya bulan depan aku genap 17 tahun Om!" balas Vin-vin sedikit membentak. Dia kesal dengan Dion, karena ucapannya bisa saja membuat Pak Ivan goyah dan mengurungkan niatnya untuk menjadikan Vin-vin pacarnya.
"Wowow... biasa aja beb, jangan pake gas gitu ngomongnya..." Dion berusaha menenangkan Vin-vin.
Tapi percuma, Vin-vin sudah terlanjur kesal pada Dion.
"Tapi, kenapa kamu panggil aku Om? panggil kakak aja lah, atau Aa gitu biar lebih akrab."
"Nggak mau! Om Dion kan emang udah tua!"
Dion menatap kesal ke arah Vin-vin, "untung cantik..." geramnya.
"Heh! Lo ngapain malah cuma senyam senyum terus dari tadi?" Dion memukul bahu Ivan untuk menyalurkan kekesalannya, nggak mungkin kan dia memukul Vin-vin.
"Gue mau pulang dulu ya..." Ivan menutup mulutnya agar senyumnya tak terlihat oleh Dion.
"Ayo kita pulang," Ivan menoleh ke arah Vin-vin sambil tersenyum.
Vin-vin pun mengangguk sambil tersenyum manis.
"Baru jam 8, jalan-jalan dulu ya..." pintanya manja sambil melingkarkan tangannya di lengan kekar Ivan.
"Mau ke mana?"
"Ke mana aja, yang penting sama Pak Ivan..."
"Hoeeek..." Dion berpura-pura muntah karena mendengar ucapan Vin-vin yang super lebay.
"Apaan si? kalau sakit pulang aja, nggak usah datang tadi!" ucap Vin-vin sambil melirik sinis ke arah Dion.
"Iyalah yang lagi jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, gue cuma ngontrak!" Dion melambaikan tangan seraya berjalan mendahului Vin-vin dan Ivan. Namun tiba-tiba dia berbalik dan menatap Ivan sambil menunjuk wajah Ivan dengan jarinya, "Lo punya utang penjelasan sama gue!" Lalu dia pun pergi.
Ivan hanya terkekeh, dia juga teringat ucapannya sendiri beberapa waktu yang lalu pada Dion. Dengan percaya diri dia bilang tak mungkin menyukai muridnya, tapi sekarang kenyataannya dia malah membawa salah satu muridnya ke acara resepsi pernikahan.
Ya mau bagaimana lagi, namanya takdir tak ada yang tahu. Ivan juga tak menyangka hubungannya bakal jadi seperti ini dengan Vin-vin.
Tapi tak dapat di pungkiri, Ivan memang tertarik pada Vin-vin sejak pertama kali melihatnya di UKS, tapi dia berusaha menepis perasaan itu. Apalagi Vin-vin termasuk murid populer di antara teman lelakinya.
Tak di sangka, ternyata Vin-vin sendiri dengan terang-terangan menyatakan suka padanya.
"Kita ke mana enaknya ya Pak?"
"Ah? ehm... ke mana ya? pulang aja ya, saya capek."
"Yaahh.. baru jam 8 kan? Pak Ivan kan janjinya anter pulang aku jam 9. Melanggar janji itu namanya."
"Pulang lebih awal bukannya lebih bagus ya? biar Papi kamu nggak khawatir."
__ADS_1
"Nggak! aku nggak mau!" Vin-vin menyilangkan tangannya di dada dan memasang wajah cemberut.
"Dengan pakaian seperti itu, apa kamu nyaman?"
Vin-vin mendesah, benar juga. Seharusnya dia tadi membawa baju ganti. Tapi bukan Vin-vin namanya kalau dia menurut saja perintah gurunya.
"Pokoknya, aku mau pulang jam 9! titik nggak pake koma!"
Ivan mendesah, dia memang tak bisa berdebat dengan muridnya yang satu ini, benar-benar hanya akan membuang tenaga saja.
"Ya sudah, ke rumahku saja," putusnya.
"Yeay!" Vin-vin bertepuk tangan tanda setuju.
Ivan hanya menggelengkan kepala, "kamu jangan pernah berani pergi malam-malam berdua dengan lelaki lain selain saya ya!" ucap Pak Ivan dambil mulai menjalankan mobilnya.
"Kenapa memangnya Pak?"
"Saya khawatir! sebagai perempuan kamu harusnya selalu waspada. Tapi sepanjang yang Saya tahu, selama kita pergi berdua kamu nggak pernah bersikap waspada. Saya juga lelaki loh Vin!"
"Aku selalu waspada kok Pak," jawab Vin-vin.
"Waspada bagian mana waspadanya?" Ivan mencibir.
"Aku nggak pernah pergi keluar dengan lelaki, selain Axel dan Pak Ivan. Aku hanya pergi dengan lelaki yang bener-bener aku percaya. Itu juga namanya waspada kan?"
Ivan mengangguk-anggukkan kepalanya, "jadi selain Axel dan Saya, kamu nggak pernah pergi dengan lelaki lain?"
Ivan mencoba menutupi senyumnya, "kira-kira kenapa Papi kamu langsung mengijinkan Saya ya? padahal kami baru pertama kali bertemu."
"Mungkin Papi udah cocok sama calon mantunya ini." Vin-vin nyengir sambil menjulurkan lidahnya.
"Hmmm... kejauhan Vin! baru 16 tahun kok udah mikirin cari suami!"
"Nggak ah, siapa tahu lulus SMA aku bisa nikah sama Pak Ivan."
Ivan terdiam mendengar ucapan Vin-vin. Ni anak nggak sadar apa kalau ucapannya seperti lamaran. Lagi pula mana ada cewek ngelamar cowok terang-terangan begini. Dasar bocah, nggak pernah di pikir dulu omongannya bikin gereget!
"Udah sampai," Ivan memarkir mobilnya lalu turun, tak lama Vin-vin pun mengikutinya dari belakang.
Vin-vin berjalan mengikuti Ivan sambil melompat-lompat persis anak kecil yang sedang bahagia.
Setelah masuk ke unit apartemennya, Ivan menutup pintu dengan rapat. Biasanya Ivan membiarkannya terbuka, tapi ini sudah malam, lebih berbahaya jika pintunya dia biarkan terbuka.
"Sudah puas? lalu mau apa di sini?"
"Aku ingin makan sesuatu, boleh aku ke dapur?"
"Kamu belum kenyang tadi makan di sana?"
"Belum.. hehehe..." Vin-vin nyengir.
__ADS_1
"Aku itu belum makan dari pagi Pak, jadinya laper nya pake banget."
"Saya ada cream soup instan, buat itu saja."
"Siap..." Vin-vin langsung berlari kecil menuju mini pantry dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dia gunakan untuk membuat cream soup.
"Aku campurin telor ya Pak," teriak Vin-vin.
"Ya," jawab Ivan dengan malas. Dia sedang berada di kamarnya, melepas jas dan kemejanya dan menggantinya dengan kaos polos warna putih yang adem.
'Ting tong'
Vin-vin terkejut mendengar bel pintu apartemen Ivan berbunyi, Ivan pun tak kalah kagetnya.
Siapa yang bertamu malam-malam begini?
"Pak Ivan lagi nunggu seseorang?" bisik Vin-vin yang tiba-tiba sudah berada di dekat ranjang Ivan.
Ivan melonjak kaget, "Vin! jantung Saya hampir copot!" Ivan mengelus-elus dadanya yang berdebar-debar.
"Maaf deh, Pak Ivan lagi nunggu siapa?"
"Saya nggak nunggu siapa-siapa kok..." Ivan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia juga nggak tahu siapa yang datang ke apartemennya malam-malam begini.
"Kamu tunggu di sini sebentar, biar Saya lihat."
Ivan berjalan menuju pintu, dan mengintip dari lobang intip yang ada di pintu. Dia tak merasa menunggu orang dan hanya beberapa temannya saja yang tahu tempat tinggalnya, karena dia juga baru menempati apartemen ini tiga bulan yang lalu.
Saat Ivan melihat sosok yang berdiri di luar pintu, dia terkejut.
"Siapa?" tanya Vin-vin ikut penasaran. Karena tak mendapat jawaban dari Pak Ivan, Vin-vin pun mendorongnya untuk bisa mengintip.
Saat melihat orang yang berdiri di luar, Vin-vin malah emosi.
"Ngapain orang ini datang ke..."
"Stt! jangan keras-keras nanti dia dengar." bisik Pak Ivan sambil membungkam mulut Vin-vin.
"Pak Ivan janjian ya sama Bu Yosephine?!" kesal nya.
"Gila apa, nggak mungkin! Saya juga anggak tahu dari mana dia tahu alamat apartemen Saya!"
Vin-vin cemberut.
"Kamu masuk dulu, sembunyi..."
"Kenapa aku harus sembunyi! aku kan nggak salah!" Vin-vin makin kesal.
"Pak Ivan... Saya tahu kok, Pak Ivan di dalam..." ucap Bu Yosephine dari luar.
Ivan jadi frustasi.
__ADS_1