
Langit tampak sangat cerah sekali, sepasang sepatu berwarna putih menemani angin yang berhembus sepanjang hari ini. Teriknya matahari, membuat seorang pria yang tengah berlari mengitari lapangan yang begitu luas itu tampak sangat bersemangat.
Meskipun basahnya keringat membasahi seluruh tubuhnya, ia tetap tampak bersemangat dan berlari di atas teriknya matahari. Dengan handuk putih yang melingkar di lehernya, pria itu tampak sedang bersenandung dengan eardhphone yang menempel di telinganya.
“Mike!” teriak seseorang dari tepi lapangan sambil melambaikan kedua tangannya ke arah Mike.
Mike sesaat terhenti untuk mencermati siapa yang sebenarnya sudah memanggil namanya. Dengan kedua bola mata yang menyipit, dari kejauhan tampak seseorang sedang melambai-lambaikan tangannya ke arahnya.
Ternyata, orang itu adalah seseorang yang Mike kenal.
Begitu mengetahui orang yang memanggilnya adalah seseorang yang ia kenal, Mike pun langsung melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar seraya berlari ke arah sumber suara.
“Ken, kapan lo ke sini? Udah lama?” tanya Mike yang langsung menghampiri seorang pria berjas hitam di tepi lapangan.
“Nggak, ko. Gue baru aja datang. Masih sibuk latihan?”
Mike menganggukkan kepala sambil merangkul bahu kanan si pria yang ternyata adalah sahabatnya sejak kecil.
“Habis pulang kerja?”
“Iya. Oh iya, elo tahu kabar Bryan yang balik ke Indonesia hari ini?” tanya Ken kembali.
Mike menatap wajah sahabatnya bingung. Ken sepertinya ikut bingung juga dengan ekspresi wajah Mike yang terlihat kebingungan. Dengan wajah kebingungannya, Mike hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
“Elo nggak tahu? Emangnya, elo ngak dikasih kabar sama Ghea?”
“Lah, gue sama sekali nggak tahu, Ken. Tumben banget mereka berdua nggak kabarin gue,” ucap Mike sambil melipat kedua tangannya kesal.
“Ya udah, elo ganti pakaian aja dulu. Kita langsung ke Airport sekalian jemput Bryan.”
Setelah mendapat kabar kepulangan Bryan, Mike langsung bersiap-siap dan mengganti pakaiannya di ruang ganti. Sambil memakai pakaiannya, Mike memandangi wajahnya di depan cermin.
“Kenapa Ghea nggak kasih kabar gue?” gumamnya pelan.
Setelah semuanya sudah siap, Mike dan Ken langsung bergegas menuju Airport dengan menggunakan mobil sport milik Ken.
__ADS_1
“Elo lagi berantem sama Ghea?” tanya Ken saat mereka berdua tengah berada di dalam mobil, perjalanan menuju Airport.
“Berantem sih nggak. Cuma, sudah hampir 1 minggu ini gue udah jarang banget komunikasi sama dia. Kenapa?” Mike menatap wajah Ken bingung.
“Nggak. Kayanya, elo seperti kurang senang gitu mendengar kabar Bryan yang udah balik lagi ke Indo.”
Mike tersenyum kecut. Ia membuka kaca mobil sambil menatap ke arah jalan dengan pandangan mata yang tak ber arah.
Sesampainya di Airport, Mike dan juga Ken bertemu dengan seorang perempuan tinggi semapai, bertubuh langsing bagaikan seorang model dan tampak sangat seksi juga parasnya yang terlihat cantik.
Sepertinya, perempuan itu melambaikan tangannya ke arah Mike dan juga Ken.
“Hey, kalian berdua lama banget sih sampainya!” seru perempuan itu yang langsung menarik tangan Mike dan juga Ken dengan terburu-buru.
“Ko, kamu nggak bilang sama aku sih kalau Bryan pulang hari ini? Aku malah dapat kabarnya dari, Ken!” tutur Mike yang tampak kesal.
“Loh, aku itu ngasih kabar kamu, Mike. Aku telepon kamu kemarin, tapi yang angkat malah manajer kamu,” jawab perempuan itu yang ternyata adalah Ghea; perempuan cantik yang merupakan sahabat Mike dan juga Ken.
“Hah? Manajerku? Tunggu, kayanya Bayu sama sekali tidak menyampaikan kabar kalau kamu telepon aku deh kemarin,” ungkap Mike yang masih tampak bingung hingga membuat Ken tertawa kecil.
“Berarti bukan salah aku, yah? Itu salah manajer kamu sendiri yang lupa menyampaikan kabar dari aku ke kamu,” tutur Ghea sambil tersenyum jahil.
“Eh, itu Bryan!” tunjuk Ken ke arah seorang pria yang tengah mendorong sebuah koper berwarna hitam.
Ghea yang sejak tadi sedang berbincang-bincang dengan Mike, langsung membalikkan badan dan melihat ke arah tangan yang sedang di tunjuk Ken.
“Bryan!” teriak Ghea yang langsung berlari ke arah Bryan dan memeluknya dengan sangat erat.
Melihat Ghea yang memeluk Bryan begitu erat, entah kenapa wajah Mike terlihat sangat kesal dan juga kecewa. Mike pun langsung memalingkan wajahnya saat ia melihat Ghea yang begitu merindukan sahabatnya itu.
“Ghea, how are you? Ya ampun, aku kangen banget sama kamu!” serunya sambil membalas pelukan Ghea dengan begitu erat.
“Aku juga kangen banget sama kamu. Kamu jahat! 3 minggu di Inggris nggak balik-balik, nggak kasih kabar pula. Nggak tahu apa di sini kita tuh kangen dan khawatir banget sama kamu.”
“Iya, aku minta maaf. Di sana kan aku sibuk sama kerjaan aku yang banyak banget. Tapi, sekarang aku udah ada di sini, kan?”
__ADS_1
Ghea tersenyum kecil dan kembali memeluk Bryan begitu eratnya. Melihat kedua sahabatnya berpelukan, Ken menghampiri mereka berdua yang tengah sibuk melepas kerinduan.
“Apa kabar lo? Gimana, enak di Inggris?” tanya Ken sambil memeluk sahabatnya yang baru pulang.
“Nice! Kapan-kapan elo semua coba deh ke Inggris, asyik banget di sana.”
“Iya, nanti kisa semua bakalan ke sana. Tapi, untuk berlibur, yah? Bukan untuk bekerja,” sindir Ken sambil merangkul sahabatnya itu.
“Nyindir gue nih ceritanya?”
"Elo kan si gila kerja, jadi wajar aja kalau ke luar negeri hanya untuk bekerja,” jawab Ken sambil tertawa.
“Di sana juga gue sekalian refreshing kali. Selama di Indonesia kan kerja terus nggak ada liburan. Oh iya, Mike!” teriaknya memanggil Mike. “Elo nggak kangen sama gue?” tanya Bryan yang melihat Mike sejak tadi hanya diam saja.
Mike tersenyum kecil. Ia berjalan menghampiri Bryan sambil menjitak kepalanya dan melingkarkan tangannya ke leher Bryan dengan kasar hingga membuat Ghea dan juga Ken tampak sangat terkejut melihatnya.
“Mike? Ko, malah dipukul, sih?” tanya Ghea yang tampak terkejut.
“Sialan lo, selama di Inggris nggak kasih kabar. Lupa lo yah sama sahabat-sahabat lo di Indonesia? Tahu nggak, kita di sini tuh kangen banget sama lo!” teriak Mike sambil merangkul kepala Bryan dengan kasar.
“Sorry-sorry, gue juga kangen banget sama kalian semua. Ya udah, sebagai permintaan maaf, gue traktir kalian semua makan di tempat biasa. Gimana?” saran Bryan yang langsung diberi anggukan tanda setuju dari Mike, Ken dan juga Ghea.
Setelah semuanya setuju, mereka semua langsung bergegas pergi sambil saling merangkul satu sama lainnya. Saat Mike dan teman-temannya kembali menuju tempat parkiran, tidak sengaja Mike menyenggol lengan seorang gadis.
“Sorry,” ucap Mike pelan.
“No problem,” jawab si gadis yang kemudian pergi.
Tanpa sepengetahuannya, gelang kunci miliknya terjatuh di lantai. Mike yang menyadari gelang milik si gadis yang baru saja bertabrakan dengannya terjatuh, langsung mengambil gelang milik gadis tersebut.
“Hey, tunggu!” teriak Mike.
“Kenapa, Mike?” tanya Ken yang melihat Mike tertinggal di belakang.
“Oh, nggak apa-apa,” jawab Mike yang masih mencari sosok perempuan si pemilik gelang kunci.
__ADS_1
“Mike, ayo!” teriak Ghea memanggilnya.
Mike mengangguk pelan dan menghampiri teman-temannya, meski sebenarnya ia masih ingin mencari sosok gadis si pemilik gelang kunci itu untuk mengembalikan gelangnya yang terjatuh. Sementara itu, gadis pemilik gelang kunci itu sepertinya sedang mencari seseorang sambil menengok ke arah kanan dan juga kiri dengan kebingungan.