Pair Of Shoes

Pair Of Shoes
Trauma yang menjadi sebuah Motivasi


__ADS_3

Ketika Ken baru saja keluar dari kantornya, tidak sengaja ia melihat mobil Mike melewati daerah kantornya. Ken terlihat sangat terkejut karena sepertinya yang berada di samping Mike bukan istrinya, melainkan Ghea. Mereka terlihat mesra hingga membuat Ken menjadi salah paham begitu melihatnya.


Mereka hanya sahabat Ken, elo jangan berprasangka buruk dulu. Batin Ken.


Setelah selesai bekerja, Angel menemani Nina terapi. Selama Nina terapi, Angel terus menyemangati sahabatnya itu. Selama satu jam terapi, membuat mereka berdua sangat kelaparan. Mereka pun memutuskan untuk makan malam bersama.


Saat Nina dan Angel tengah makan malam bersama, tidak sengaja Ken datang ke tempat Angel dan Nina makan. Ken pun datang menghampiri mereka berdua. Pada akhirnya, mereka bertiga pun memutuskan untuk makan malam bersama.


“Jadi, Nina itu sahabat lo sejak kecil?” tanya Ken.


“Iya, gue dan Nina sudah bersahabat karib sejak kecil. Sama halnya seperti lo dan Mike," tutur Angel pelan.


“Oh iya, apa hubungan elo baik-baik aja dengan Mike?” tanya Ken penasaran.


“Hubungan kami berubah-rubah. Terkadang kami seperti suami-istri, terkadang seperti sahabat, bahkan terkadang kami bisa menjadi musuh,” ceritanya sambil tertawa.


“Really?”


Angel mengangguk pelan,” Iya, kami itu sering banget bertengkar.”


“Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Nina penasaran.


“Kenapa elo ngomongnya gitu, Nin?”


“Soalnya, sejak tadi gue lihat, elo murung terus!”


“Gue dengan Mike baik-baik aja, elo gak usah khawatir,” jawab Angel terpaksa berbohong untuk menutupi.


“Oh ya, Nin, boleh gue tanya sesuatu sama lo?” tanya Ken.


Nina mengangguk pelan. Ken mengambil nafas panjang kemudian membuangnya secara perlahan.


"Kenapa elo bisa duduk di atas kursi roda?” tanya Ken kembali dengan hati-hati.

__ADS_1


Sesaat Nina terdiam hingga membuat Angel langsung menggenggam tangan Nina dengan erat.


“Kalau itu menyakitkan tidak usah elo ceritakan, Nin," tutur Angel pelan.


“Oh, maaf kalau gue ikut campur urusan pribadi lo. Kalau tidak mau menjawab juga ngak apa-apa, ko."


Nina menggeleng pelan kemudian tersenyum kecil.


“1 tahun yang lalu gue dan Angel pernah mengalami kecelakaan.”


“Hah, kalian pernah mengalami kecelakaan?” tanya Ken tidak percaya.


Angel tersenyum dan menundukkan kepalanya,” Itu hal yang paling menakutkan untuk gue, Ken. Gue tidak sanggup untuk mengenang kembali masa-masa pahit itu.”


Mata Angel dan Nina sudah tampak memerah menahan tangis, sepertinya ini akan menjadi cerita yang sulit untuk di bicarakan. Melihat ekspresi wajah Nina yang tampak sedih dan sudah meneteskan air matanya, Ken mencoba menenangkannya dengan memegang erat tangannya Nina.


“1 tahun yang lalu, gue dan Angel akan menghadiri kontes desain pakaian. Gue dan Angel itu mempunyai cita-cita yang sama, menjadi seorang desainer hebat. Dengan gembira, gue dan Angel pergi ke tempat kontes itu dengan menggunakan motor hadiah pemberian dari Angel saat ulang tahun gue yang ke 24.


"Hari itu, Angel yang mengemudikan motornya dan gue duduk manis di belakang Angel. Tapi, tiba-tiba saja di jalanan ada kecelakaan beruntun. Saat itu, Angel berusaha untuk menghindari motor lain, tapi naas kami berdua malah bertabrakan dengan truck. Gue terlempar jauh hingga membuat kaki gue tergiling ban mobil. Sedangkan Angel, ia tertimpa motor gue dan membuat tangan kanannya selama 3 bulan tidak bisa digerakan.


Ken tidak menyangka, jika Angel dan Nina pernah mengalami kecelakaan separah itu. Melihat Angel yang sudah menangis, Ken berusaha untuk menghiburnya dengan merangkulnya. Ken pun berusaha untuk menghibur Nina dengan menggenggam tangannya begitu erat.


“Maaf, kalau gue membuat kalian kembali teringat masa-masa kelam itu.”


“Nggak apa-apa, Ken. Gue dan Angel juga selamanya tidak akan pernah lupa tentang hal itu. Sebenarnya, gue merasa bersalah kepada sahabat gue ini. Akibat kecelakaan itu, Angel hampir kehilangan tangan kanannya. Tapi, gue sudah menebus dosa itu dengan kelumpuhan kaki gue.”


“Nina, elo jangan ngomong gitu. Justru gue yang merasa bersalah, gue sudah merusak motor lo dan gue juga sudah membuat lo tidak bisa berjalan."


“Tapi, gue bersyukur dan bangga memiliki lo, Ngel. Karena lo selalu ada di samping gue dan memotivasi gue untuk bisa berjalan kembali.”


Angel tak kuasa menahan air matanya, ia pun memeluk Nina begitu erat. Melihat persahabatan Nina dan Angel, membuat Ken tersadar akan satu hal. Nina dan Angel berjuang untuk meraih impian mereka walau apapun yang terjadi menimpa mereka.


Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, yang mustahil terjadi itu pun, suatu saat nanti pasti akan terjadi. Asalkan ada usaha keras, kemauan dan niat yang paling terdalam.

__ADS_1


“Apa Mike tahu soal ini?” tanya Ken kembali.


“Jangan Ken, Mike nggak boleh tahu soal kecelakaan itu!”


“Kenapa? Mike harus tahu, dia kan sudah menjadi suami lo!”


“Nggak, gue gak mau Mike tahu. Birkan kenangan pahit itu tersimpan di lubuk hati gue yang paling dalam.”


“Kalau itu sudah menjadi pilihan lo, gue sih terserah elo aja, Ngel. Dan, Nina?”


Nina menatap wajah Ken yang tampak sangat serius.


"Ada apa?”


“Gue pasti akan membantu lo agar bisa berjalan kembali, gue janji!”


Nina tersenyum kecil hingga membuat Ken ikut tersenyum melihatnya. Sejak malam itu, Angel terus memandangi tangan kanannya dengan mata berkaca-kaca. Tuhan masih baik kepadanya, Tuhan masih memberikan kehidupan kepada dirinya dan Nina semenjak kecelakaan itu.


Tuhan juga masih membiarkan Angel untuk mewujudkan impiannya. Apa jadinya jika Angel tidak bisa menggerakan tangan kanannya? Mungkin, kejadiannya tidak akan seperti ini. Ia tidak mungkin bisa membuat pakaian, membuat desain dan bahkan menjahit.


Hari sudah pagi, hari ini adalah hari di mana pertandingan penting untuk Mike dan juga Mia. Hari ini, Mike akan mewujudkan impian terakhir Mia. Semua keluarga Mike sudah bersiap-siap pergi ke tempat pertandingan. Mia sepertinya tampak gugup, Mike pun berusaha untuk menenangkan adiknya dengan memeluk adik kesayangannya itu dengan erat.


“Gugup?” tanya Mike kepada adiknya.


Mia mengangguk pelan, “Aku takut, Kak.”


“Takut kenapa?”


“Aku tahu, aku tidak bisa berjalan. Aku sakit dan cacat, perlombaan ini juga bisa ada berkat kakak dan kak Angel. Aku takut semua orang akan menertawakanku.”


Mia tertunduk dan tampak meneteskan air matanya. Melihat adiknya yang tampak cemas dan sedih, Mike mendekatinya dan memegang kedua pipi adiknya itu dengan lembut.


“Jangan takut apa yang orang lain katakan, kakak akan selalu ada di samping kamu. Percayalah, oke?”

__ADS_1


Mia mengangguk pelan, Mike tersenyum dan menghapus air mata Mia dengan kedua tangannya. Sementara itu, semua orang datang untuk menghadiri pertandingan lomba lari Mike. Dari mulai Ken, Ghea, Bryan dan Nina juga keluarganya datang untuk menonton.


__ADS_2