Pair Of Shoes

Pair Of Shoes
Air Mata Mike


__ADS_3

“Ngel, hubungan lo sama Mike makin mesra aja nih kayanya,” tutur Putri rekan kerja Angel yang tengah sibuk menyiapkan pakaian untuk artis mereka.


“Masa, sih? Gue fikir, hubungan gue sama Mike biasa aja!”


“Hey, elo tahu gak sih, sebenarnya semua orang itu memperhatikan perkembangan kalian berdua. Apalagi, puncaknya saat pertandingan lomba lari untuk adiknya Mike. Kita semua lihat Mike meluk elo di tengah-tengah kerumunan orang. Mana, elo juga ikutan lari nyemangatin mereka berdua, kan?”


“Wah, elo cocok banget jadi detektif. Sampai hal terkecil itu pun elo perhatikan. Keren!” seru Angel sambil memberikan dua jempolnya.


Pembicaraan Angel dan Putri tidak sengaja terdengar oleh Bryan. Bryan yang mendengarnya entah kenapa merasa sedikit kesal. Apakah Bryan cemburu dengan kebersamaan Mike dan juga Angel?


“Angel,” panggil Bryan pelan.


“Bryan? Eh, maksudnya pak Bryan ada apa?”


“Bisa ikut saya sebentar?”


Angel menatap wajah Putri, Putri sudah memberikan isyarat agar Angel menuruti perintah Bryan. Akhirnya, Angel mengikuti Bryan dari belakang sampai menuju ruang kerjanya.


“Ada apa, Bryan?”


“Aku mau tanya satu hal sama kamu dan aku juga minta pendapatmu.”


“Pendapat tentang apa?”


Bryan berdiri di dekat jendela dan melipat kedua tangannya sambil menatap ke arah yang tidak pasti.


“Menurut kamu, kalau kita sering berbicara dengan seseorang dan mulai tumbuh rasa nyaman, selalu ingin bersama dengannya dan terkadang selalu merindukannya. Apa itu namanya cinta?”


“Kamu lagi jatuh cinta sama seseorang?” tanya Angel.


“Jatuh cinta? Jadi, benar itu namanya cinta?”


“Ternyata kamu itu lucu juga, yah?” tawa Angel kemudian.


“Lucu gimana maksud kamu?” tanya Bryan tidak mengerti


“Iya lucu, kamu itu pinter dalam segala bidang, tapi sangat bodoh dalam urusan perasaan. Masa yang seperti itu aja kamu nggak tahu. Itu namanya, kamu itu sedang merasakan jatuh cinta dengan seseorang yang kamu maksud," jawab Angel sambil tertawa kecil.


“Jadi, aku sedang merasakan jatuh cinta, yah? Mungkin aku bodoh soal perasaan karena aku memang sudah sangat lama tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta lagi.”


“Memangnya kamu jatuh cinta sama siapa, Bryan?” tanya Angel penasaran.


“Ngel, salah gak sih kalau aku suka sama orang yang sudah mempunyai pasangan hidup?” tanya Bryan tiba-tiba.


Pertanyaan Bryan barusan membuat Angel terdiam beberapa saat.


”Yang namanya perasaan itu tidak dapat kita cegah, perasaan itu mengalir dengan sendirinya, Bryan. Dan, kita tidak bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta.”


“Walau sekalipun dia sudah di miliki orang lain?” tanya Bryan kembali.

__ADS_1


“Cinta itu rumit Bryan, aku sendiri tidak mengerti soal cinta.”


“Salah tidak kalau aku ingin merebut perempuan itu dari tangan orang lain?”


Pertanyaan Bryan barusan membuat Angel menatap wajahnya dengan ekspresi wajah yang tampak terkejut.


Sementara itu, Mike yang kebetulan sedang latihan di lapangan teringat kejadian kemarin saat Angel mencuci rambutnya. Mengingat kejadian kemarin, membuat Mike tersenyum-senyum sendiri. Rasanua sedikit gila, tapi itulah yang Mike rasakan saat ini.


“Kamu lagi seneng, yah?” tanya seseroang yang baru saja datang hingga membuat Mike melirik ke sumber suara.


“Ghea? Ngapain kamu ke sini?” tanya Mike begitu melihat Ghea datang menghampirinya.


“Aku sudah tidak ada kerjaan makanya aku ke sini. Kamu sibuk, Mike?”


“Nggak sih, sebentar lagi juga aku selesai latihan. Kenapa?”


“Temani aku makan siang, yuk?”


“Oke, aku ganti pakaian dulu."


Sementara Ghea dan Mike makan siang bersama, Angel dan Bryan masih saling bertatapan satu sama lainnya. Angel masih bingung dengan apa yang sedang di katakan oleh Bryan, sebenarnya siapakah perempuan yang di cintai Bryan?


“Bryan, kamu serius ingin merebut perempuan itu dari kekasihnya?”


“Apa yang aku inginkan harus aku dapatkan. Dan aku, tidak akan pernah melepaskannya!” tegasnya.


“Tapi, aku tidak bisa seperti itu! Harusnya, aku lebih awal mengenalnya. Tapi sayang, perempuan itu lebih dulu mengenal kekasihnya dari pada aku.”


Melihat ekspresi wajah Bryan yang tampak sedih, Angel mencoba untuk menghiburnya seraya memegang bahu Bryan dengan lembut.


“Bryan, aku fikir kamu terlalu egois. Dan menurutku, seharusnya kamu . . . "


Belum sempat Angel melanjutkan pembicaraannya, handphonenya berdering begitu keras.


“Maaf, aku angkat telepon dulu."


Angel langsung mengangkat teleponnya dan sedikit menjauh dari hadapan Bryan.


" Iya hallo, ada apa, Kak? Apa? Iya, aku segera ke sana sekarang!”


“Kenapa, Ngel?” tanya Bryan yang melihat Angel tampak pucat pasi.


“Bryan, maaf aku harus pergi. Aku ada urusan, pembicaraan kita nanti dilanjutkan kembali!” tutur Angel yang langsung pergi begitu saja dengan terburu-buru.


“Angel, tunggu!”


Sementara itu, Ghea dan Mike yang sedang menikmati makanan mereka harus terganggu dengan handphone Mike yang tiba-tiba berdering. Dan, begitu terkejutnya Mike setelah menerima telepon itu, wajahnya langsung berubah menjadi pucat pasi.


“Ada apa, Mike? Kenapa wajah kamu tampak pucat? Kamu sakit?” tanya Ghea tampak khawatir.

__ADS_1


“Ghea, maaf banget aku nggak bisa mengantar kamu pulang hari ini. Aku harus pergi!”


“Kamu mau ke mana? Memangnya ada apa?” tanya Ghea bingung.


“Aku harus pergi dulu, maafkan aku!” ucap Mike yang langsung pergi dengan terburu- buru.


“Tapi, Mike!” teriak Ghea tampak kecewa.


Mike langsung masuk ke dalam mobilnya kemudian ia langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara Angel, ia pergi berlari untuk mencari taksi. Namun, taksi tak ada yang berhenti satu pun. Karena kesal dan tampak buru-buru, Angel sudah tidak peduli lagi dengan dirinya yang sama sekali tidak mendapatkan taksi. Ia pun pergi berlari dengan terburu-buru dan seperti sedang menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Mike akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Setelah memparkirkan mobilnya, Mike tampak berlari-lari di koridor rumah sakit sambil mencari sebuah ruangan.


“Mike?” teriak Mario saat melihat adiknya sudah datang.


“Kak, gimana keadaan Mia sekarang? Mia nggak kenapa-kenapa, kan? Kenapa Mia bisa masuk rumah sakit?”


“Tadi, tiba-tiba saja Mia pingsan, nenek dan kakek yang sedang di rumah langsung panik dan menelepon kakak. Kakak pun langsung menjemput Mia dan membawa Mia ke rumah sakit,” cerita Mario.


“Kak, Mia gak akan kenapa-kenapa, kan?” tanya Mike yang sudah berlinangan air mata.


“Sabar Mike, yakinlah Mia tidak akan kenapa-kenapa!” tutur Nita, istri Mario sambil menggenggam tangan Mike.


Mike terlihat sangat khawatir, Mike pun memeluk Nita begitu erat dengan air mata yang terus berjatuhan dan membasahi kedua pipinya.


“Mia gak akan kenapa-kenapa kan, Kak? Aku gak mau kehilangan Mia,” ucap Mike dengan terbata-bata.


“Kamu yang sabar, Mike. Kak Nita yakin Mia pasti nggak akan kenapa-kenapa.”


Melihat kedua orang tuanya keluar dari ruangan, Mike, Mario dan Nita langsung menghampiri kedua orang tua mereka dengan berharap-harap cemas.


“Bagaimana dengan keadaan Mia sekarang?” tanya nenek dan kakek yang tampak khawatir.


Tanpa menjawab pertanyaan nenek dan kakek, ibu Mike terlihat tampak sangat sedih. Beliau hanya bisa menangis hingga membuat suaminya berusaha untuk menenangkannya.


“Kita hanya tinggal menunggu waktu, kita sudah tidak ada harapan lagi,” jawab ayah Mike tampak putus asa.


“Apa? Itu nggak mungkin, papah dan mamah kan dokter, harusnya kalian bisa menyembuhkan Mia!” teriak Mike emosi.


“Mike, sabar!” ucap Nita berusaha menenangkan adik iparnya.


“Pah, Mah, katakan kalau itu tidak benar?”


“Mike, masalah hidup dan mati seseorang kita sebagai dokter sekali pun tidak bisa berbuat banyak. Usia manusia hanya Tuhan yang tahu, jika Tuhan sudah menghendaki seseorang untuk mati dia pasti akan mati. Jika Tuhan memintanya untuk hidup, dia pasti akan tetap hidup,” tutur ibu Mike sambil menangis.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tangis Mike kembali.


“Ikhlaskan Mia, biarkan dia pergi dengan tenang. Kasihanilah Mia, biarkan Mia melepaskan semua rasa sakitnya. Biarkan impiannya yang terakhir menjadi kenangan yang paling manis untuknya, Mike,” tutur Mario menasehati.


“Aku ingin bertemu Mia untuk terakhir kali,” pinta Mike dengan deraian air matanya.

__ADS_1


__ADS_2