Pair Of Shoes

Pair Of Shoes
Jerman


__ADS_3

Esok harinya, Mike beserta manajer dan asistennya sudah berada di bandara dan menunggu keberangkatan pesawat mereka di waiting room sambil menunggu boarding time. Sementara Mike menunggu, ia mendengarkan lagu lewat eardhphone yang diberikan Ghea sebagai hadiah ulang tahunnya.


Sambil memejamkan matanya, ia begitu menikmati lagu-lagu dari 5 seconds of summer. Sementara itu, Angel yang baru saja datang, duduk di samping Mike sambil memegang pasportnya dengan gembira.


Pesawat keberangkatan menuju Jerman sebentar lagi akan take off. Setelah dipanggil oleh rekan kerja barunya, dengan semangat 45, Angel segera angkat pantat dan bergegas menuju pesawatnya bersama rekan kerjanya yang lain.


“Mike, ayo!” teriak Bayu memanggil.


Mike membuka matanya dan segera menyusul manajer dan asistennya yang sudah beranjak pergi terlebih dahulu darinya. Setibanya di dalam pesawat, Mike duduk di samping window seat. Karena itu merupakan tempat favoritnya selama berpergian ke luar negeri.


Sementara Angel, ia duduk tepat di belakang kursi Mike dan di samping window seat juga. Angel terlihat sudah tidak sabar untuk segera sampai di Jerman karena ia mempunyai firasat yang mendebarkan sesampainya ia di sana.


Karena merasa bosan, Angel menuliskan nama Jerman di jendela pesawat. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Angel, Mike pun menuliskan nama Jerman di jendela tersebut.


Semoga akan terjadi hal yang menyenangkan di sana. Harap Angel dan Mike dalam hati mereka.


Sementara itu, Ghea, Bryan dan Ken tampak sedang makan siang bersama di sebuah restoran setelah kepergiannya Mike ke Jerman.


“Hari ini Mike ke Jerman?” tanya Bryan.


“Iya, gue tidak sempat mengantar dia ke bandara. Soalnya, kerjaan gue di kantor banyak banget,” jawab Ken sambil menyantap makanannya.


“Dari JJ. Entertaiment juga ada ada yang pergi ke Jerman untuk menyelesaikan syuting terakhir mereka di sana. Kalau sudah sampai di sana, nanti gue akan menghubungi Mike.”


“Elo nggak ikut ke Jerman?” tanya Ken sambil menatap wajah sahabatnya itu.


Bryan menggeleng dan kembali memakan makanannya. “Nggak, Ken. Gue harus mengurusi arti-artis baru yang baru saja di trainee beberapa bulan yang lalu.”


“Sibuk banget ya lo?”

__ADS_1


“Ya, begitulah. Balik dari Inggris, kerjaan gue di kantor banyak banget.”


Melihat Ghea yang sejak tadi hanya diam saja, Bryan dan Ken saling beradu pandang dengan bingung.


“Ghe, kenapa? Dari tadi aku lihat kamu diem terus?” tanya Ken sambil memperhatikan Ghea yang sejak tadi hanya memutar-mutar sendok makannya.


“Kenapa? Kamu sakit?” tanya Bryan sambil memegang kening Ghea.


“Nggak, ko. Aku baik-baik aja. Aku cuma sedang memikirkan sesuatu.”


“Fikirkan apa? Soal kerjaanmu?” tanya Bryan.


Ghea menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. Ken mengerti, sepertinya ia tahu apa yang sedang difikirkan Ghea saat ini.


“Gue ke toilet dulu,” ujar Bryan yang kemudian pergi.


“Cinta memang rumit, yah,” kata Ken membuka suara. “Maka dari itu, aku nggak pernah percaya kalau diantara persahabatan laki-laki dengan seorang perempuan itu tidak pernah memendam perasaan saling suka.”


“Cinta itu tak akan menjadi rumit kalau kita menjalaninya dengan santai. Segala sesuatu yang rumit itu pasti akan menjadi rumit kalau kita membuatnya menjadi rumit. Iya, kan?” tutur Ghea sambil menatap wajah Ken.


“Kalau kamu nggak mau semuanya jadi rumit, selesaikanlah kerumitan itu agar menjadi jelas. Jangan membuat ketidak jelasan dalam suatu hubungan.”


“Ken, kamu bisa bantu aku?” tanya Ghea tiba-tiba hingga membuat ekspresi wajah Ken tampak begitu serius.


“Bantu apa?” tanya Ken tidak mengerti.


Sementara itu, setelah menempuh jarak yang begitu jauh, akhirnya Angel dan Mike sampai juga di Jerman. Angel dan Mike menginap di hotel yang sama. Karena pergi ke Jerman adalah pekerjaan pertamanya, maka dari itu seluruh biaya dari Jerman sampai kembali ke Indonesia sudah ditanggung oleh perusahaan tempat di mana Angel bekerja.


Dan, kebetulan sekali, kamar hotel tempat Mike dan Angel menginap bersebelahan. Hotel tersebut merupakan hotel berbintang lima, maka dari itu hotelnya tampak begitu mewah.

__ADS_1


Saat Angel baru saja memasuki ruangan kamarnya tersebut, ia begitu terperangah dan sangat terkejut begitu melihat isi kamarnya yang begitu megah dan sangat mewah itu.


“Uwaaa, ini hotel atau istana?” teriak Angel dengan ekspresi wajahnya yang terlihat begitu terkagum-kagum.


Setiap sudut dari kamar tersebut, benar-benar dihiasi oleh barang-barang mahal dan berbentuk berlian. Angel sampai mabuk kepayang melihat semua benda yang berada di dalam kamarnya itu begitu menyilaukan matanya. Saking begitu terkejutnya dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia menggaruk-garuk matanya dan menyubit pipinya beberapa kali.


“OH MY GOD, keren banget!” teriak Angel yang langsung berlari ke setiap sudut di kamar tersebut seperti anak kecil.


Mata Angel langsung tertuju ke sebuah ranjang yang begitu besar. Ia langsung menghempaskan tubuhnya yang mungil ke atas ranjang itu sambil berguling-guling ke sisi kiri juga kanan karena saking begitu bahagianya.


Sementara Mike, dengan ekspresi wajah datarnya, ia menyimpan kopernya di sampingnya kemudian duduk di salah satu sofa sambil menyilangkan kedua kakinya.


“Si, jadwal kita besok apa?”


“Besok kita menuju Cologne,” jawab Sisi sambil melihat sebuah dokumen yang berisi tentang schedule Mike selama lima hari di Jerman. “Kita ada pemotretan untuk produk iklan sepatu di sana dan ada beberapa interview jufa.”


“Tempat apa yang paling terkenal di sana?”


“Katanya sih di Cologne itu ada gereja tua raksasa, gerbang-gerbang batu kuno dan banyak museum menarik seperti museum coklat dan museum budaya,” sambung Sisi.


“Oke, atur-atur aja schedule gue besok. Sekarang, gue mau istirahat dulu,” tuturnya pelan hingga membuat Sisi dan juga Bayu saling beradu pandang kemudian menganggukkan kepala.


Mike langsung menuju tempat tidurnya. Ia membuka mantel miliknya, kemudian menyimpannya di atas kursi. Ia sempat melirik isi ponselnya dan membuka grup chatt whatssapp di mana di dalam grup tersebut, ada kontak Ghea, Bryan dan juga Ken.


Namun, di dalam grup chatt tersebut tidak ada yang istimewa sama sekali. Malah, terkesan sangat sepi. Hanya ada beberapa obrolan mereka yang meminta oleh-oleh dari Mike setelah ia kembali pulang nanti ke Indonesia.


“Tidak ada yang istimewa,” katanya pelan.


Esok harinya, tepat pukul 8 pagi, Mike sudah disuguhi oleh makanan ala Jerman. Menu sarapan hari ini begitu banyak dan begitu special. Dengan ekpsresi malasnya, Mike memakan hidangan makanan itu dengan tak bersemangat sama sekali. Melihat Mike yang sama sekali tidak bersemangat seperti itu, membuat Bayu juga Sisi tampak terheran-heran dengan sikap Mike kali ini.

__ADS_1


“Semangat dong Mike, semangat!” ucap Bayu memberi semangat.


“Yeah, semangat!” tutur Mike pelan.


__ADS_2