
Hari sudah malam, Mike tak kunjung pulang juga. Angel merasa khawatir karena sudah selarut ini Mike masih belum pulang juga. Angel pun mencoba untuk menunggu di luar, namun Mike tak kunjung datang juga. Karena terlalu lama menunggu, Angel pun sampai tertidur di teras rumahnya.
“Angel?” seru Mike yang baru saja pulang.
“Mike? Udah pulang? Udah makan?” tanya Angel yang baru saja terbangun.
“Kamu ngapain tidur di luar?”
“Aku nungguin kamu pulang, aku khawatir karena kamu jam segini belum pulang juga. Telepon aku juga nggak kamu angkat, apa yang sebenarnya terjadi? Apa sudah berhasil?”
Mike menggeleng pelan dan mengajak Angel untuk masuk ke dalam, “Aku belum berhasil, Ngel. Sepertinya, aku tidak akan bisa mewujudkan impian terakhir Mia,” ucap Mike tampak sedih.
“Hey Shincan, kenapa kamu jadi pesimis begitu? Mana Mike yang selalu optimis dan percaya diri? Mana Mike yang arogan dan selalu berjuang demi impiannya? Semangat dong, semangat!”
“Aku sudah tidak ada semangat lagi Ngel, aku putus asa!”
“Mike . . .”
“Aku mau istirahat, kamu pergi tidurlah.”
Mike segera menuju kamarnya hingga membuat Angel tampak sedih melihat Mike yang tidak percaya diri seperti itu.
Esok harinya, Angel sama sekali tidak ada semangat untuk bekerja. Ia masih terus memikirkan Mia dan usaha Mike selama ini untuk mewujudkan impian Mia.
“Gue mesti gimana?” gumam Angel tampak gelisah sambil menekuk wajahnya.
“Kenapa, Ngel?” tanya Sisi yang melihat Angel begitu risih.
“Si, elo tahu gak tempat untuk mendaftar pertandingan lomba lari itu di mana?”
“Kenapa nggak coba tanya Mike?” saran Sisi.
“Jangan tanya Mike, Mike sekarang sedang banyak fikiran dan tampak frustasi. Elo tahu kan masalah Mia?”
“Oh iya, gue tahu, gue sudah mendengar masalah itu dari Bayu.”
“Nah, elo bisa temenin gue nggak untuk mendaftarkan adik Mike ke perlombaan lari?”
“Are you sure, Angel?”
“Iya, ayo cepat kita pergi sekarang!” seru Angel bersemangat yang langsung menarik tangan Sisi seraya membawanya pergi.
Melihat Angel dan Sisi pergi begitu terburu-buru, Bryan terlihat tampak penasaran sebenarnya apa yang membuat Angel begitu terburu-buru?
Seharian ini, Angel dan Sisi sedang berusaha mencari tempat untuk mendaftarkan Mia dalam pertandingan lomba lari. Dan, hasilnya tetap sama, nihil dan tidak ada yang mau menerima orang yang memiliki riwayat penyakit seperti Mia.
Sampai di tempat terakhir, dengan hujan turun begitu derasnya, Angel berusaha untuk membuat Mia ikut serta dalam pertandingan. Bahkan, Angel terlihat sedikit memohon sampai ia berlutut di depan panitia pelaksana. Melihat Angel yang mati-matian menolong Mia, Sisi menjadi khawatir dan begitu terharu.
“Ngel, ayo kita pulang. Percuma, lebih baik kita pulang aja, yuk?” saran Sisi yang mengajak Angel untuk pulang.
__ADS_1
“Tapi, Si?”
“Ngel, ayo pulang, ini sudah malam. Elo dari tadi belum istirahat, sampai elo harus hujan-hujanan pula dan berlutut begitu lama. Pulang yuk, jangan menjatuhkan harga diri lo!”
Akhirnya Angel menyerah, dengan berat hati Angel mengikuti saran Sisi untuk pulang. Namun, saat Angel hendak pulang, panitia pelaksana itu memanggilnya dan mengajaknya berbicara. Dan, begitu gembiranya Angel, karena Mia akhirnya diizinkan untuk mengikuti lomba.
Panitia itu begitu terharu dan tersentuh dengan usaha Angel yang sampai rela berlutut dan hujan-hujanan demi Mia. Dengan berita yang menggembirakan ini, Angel pun segera menuju rumahnya untuk segera memberitahukan kabar gembira ini kepada Mike.
“Mike . . . Mike!” teriak Angel sesampainya di rumah.
Mike yang baru saja pulang, begitu terheran-heran mendengar ada seseorang yang berteriak memanggil namanya malam-malam begini.
“Siapa malam-malam begini teriak-teriak?”
“Mike!” teriak Angel kembali.
“Angel? Ada apa? Hey, kenapa kamu basah kuyup seperti ini?” tanya Mike yang langsung menghampiri Angel.
“Aku berhasil, aku berhasil, Mia dapat mengikuti pertandingan lomba lari. Kamu dapat mewujudkan impian terakhir Mia!” seru Angel sambil memegang tangan Mike kemudian terjatuh.
“Hey, kamu kenapa?” tanya Mike kembali tampak khawatir.
“Mike, Mia dapat mengikuti pertandingan, usaha kita tidak sia-sia!”
“Kamu serius?”
“Ya Tuhan, terimakasih banyak Angel, kamu memang malaikat penolongku. Terimakasih banyak!” seru Mike yang tampak terharu dan memeluk Angel begitu erat dengan mata berkaca-kaca.
“Sekarang, kamu telepon keluarga kamu dan katakan pada mereka, Mia akan mengikuti pertandingan itu!”
Mike mengangguk pelan dan segera menghubungi keluarganya. Mendengar kabar dari Mike, ayah Mike begitu gembira dan sangat berterima kasih sekali kepada Mike juga Angel. Keluarga Mike juga tampaknya menangis bahagia, akhirnya impian anak mereka dapat terwujud juga.
Begitu mendengar dirinya bisa mengikuti pertandingan, Mia pun tampak senang sekali dengan menitikkan air mata bahagianya.
“Angel, gantilah pakaianmu sekarang dan pergilah istirahat. Hari ini kamu pasti sangat lelah," tutur Mike setelah menutup teleponnya.
Angel mengangguk pelan dan segera berganti pakaian. Namun, Angel tidak sama sekali langsung tidur, ia malah melanjutkan kegiatannya untuk menjahit pakaian yang ia desain sendiri untuk ia berikan kepada Mia.
Semalaman begadang hingga menjelang pagi, akhirnya pakaiannya sudah jadi juga. Dengan senyuman yang mengambang di bibirnya, Angel begitu puas dengan hasil karyanya.
Setelah menyelesaikan pakaian yang ia buat, Angel segera bersiap-siap untuk pergi menemani Mike latihan. Karena hari ini hari libur, Angel pun pergi menemani Mike latihan.
“Mike!” teriak Angel dari tepi lapangan.
“Ada apa?
“Minum dulu!”
Mike menghampiri Angel dan mengambil botol minuman yang diberikan Angel untuknya. Melihat Mike begitu berkeringat, Angel menyeka keringat di kening Mike dengan menggunakan tangannya.
__ADS_1
“Ada angin apa nih kamu perhatian banget sama aku?” selidik Mike terheran-heran.
“Memangnya kenapa? Gak boleh aku perhatian sama kamu?”
“Apa jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta lagi sama aku?” goda Mike.
“A . . a . . apa? Sok tahu banget sih, Shincan!” seru Angel gelagapan.
“Kenapa gugup gitu? Salting ya? Ingat, di dalam kontrak sudah tertera. Siapa yang jatuh cinta duluan, dapat dikenakan denda. Jangan-jangan, kamu mulai suka lagi sama aku. Iya, kan?” goda Mike kembali.
“Ikh, kamu apaan, sih? Norak banget, deh!”
“Dasar, Kribo!” ledeknya sambil mengacak-ngacak rambut Angel.
“Mike, kebiasaan banget, deh! Nanti cantiknya aku hilang kalau rambut aku berantakan!”
“Ckck, pede banget kamu!”
“Ikh, kamu ya, nyebelin banget!” seru Angel yang langsung mengacak-ngacak rambut Mike dan menggelitiknya.
Mike membalas perlakuan Angel dengan menarik hidungnya. Setelah cukup lama beristirahat, Angel menemani Mike berlari kembali mengitari lapangan.
Melihat tali sepatu Angel terlepas, Mike kembali mengikatkan tali sepatunya. Angel tersenyum senang, ia teringat saat pertama kalinya Mike mengikatkan tali sepatunya dulu di Korea. Semua kenangannya dengan Mike di Korea pun terkenang kembali di dalam bayangannya.
“Mike, gendong!” pinta Angel manja.
“Dih, manja banget sih kamu, pesek!”
"Ikh, pelit banget sih kamu!”
Angel pergi meninggalkan Mike. Melihat Angel yang ngambek dan pergi meninggalkannya, Mike langsung berlari mengejarnya dan tiba-tiba saja ia langsung menggendongnya hingga membuat Angel sangat terkejut karena sikapnya yang tak terduga.
“Mike, kamu ngapain?”
“Katanya minta digendong, gimana sih kamu, kribo!”
“Tapi, gak tiba-tiba juga!”
“Udah deh, berisik!” serunya yang langsung berlari. “Pegangan yang erat!”
“Mike!” teriak Angel sambil memejamkan matanya ketakutan dan menggandeng leher Mike dengan begitu erat.
“Mike?” panggil seseorang dengan setengah berteriak.
Mike yang sedang berlari sambil menggendong Angel dan tertawa bersamanya, mendadak menghentikan semua aktivitasnya dan terdiam membisu melihat apa yang ada di depan matanya.
“Ada apa, Mike?” tanya Angel bingung.
Angel melihat ada seseorang yang berdiri dihadapan mereka sekarang. Dan, memang benar orang itu adalah Ghea. Angel meminta Mike untuk menurunkannya, Mike pun segera menurunkan Angel dengan ekspresi wajahnya yang kebingungan dan terlihat gugup begitu melihat Ghea.
__ADS_1