
Mike memegang pipinya yang mulai terlihat berwarna merah merona. Namun, perlahan ia tersenyum lebar dan meminta Angel untuk membuka kotak kedua. Saat Angel membuka kotak kedua, ia sangat terkejut dengan isi dari kotak kedua tersebut. Ternyata, isinya adalah gelang kunci kesayangannya yang sempat hilang di bandara dulu.
“Kenapa gelang ini ada padamu, Mike?” tanya Angel yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Aku tahu gelang ini sangat berharga untukmu. Aku tidak sengaja pernah masuk kamarmu dan melihat album fotomu. Kalau aku perhatikan, foto-foto sebelum kamu bertemu denganku, aku melihat banyak sekali foto kamu yang memakai gelang itu.
“Aku fikir, gelang yang aku temukan di bandara saat itu adalah milikmu. Aku menunggu moment yang tepat untuk mengembalikannya dan ini adalah moment yang sangat bagus untuk aku berikan padamu lagi.”
Angel kembali tersenyum. Gelang yang selama ini ia cari, ternyata berada di tangan orang yang sangat ia sukai. Tuhan memang sudah menakdirkan dirinya untuk bertemu dengan Mike. Dengan hilangnya gelang kesayangannya itu, ia dipertemukan dengan seseorang yang begitu special untuknya.
“Mike, gelang ini sangat berharga untukku. Gelang ini adalah pemberian dari mendiang ayahku. Aku sangat menyukai gelang ini dan aku sangat sedih saat kehilangan gelang ini. Ternyata, selama ini gelang ini ada padamu. Aku benar-benar tidak menyangka sama sekali.”
Mike tersenyum dan menggenggam kedua tangan Angel dengan lembut. “Aku baru sadar, ternyata kita pertama kali bertemu itu bukan di Jerman. Sebenarnya, kita pertama kali bertemu itu di bandara. Dan, pertemuan di Jerman itu adalah pertemuan kita yang kedua yang menyebabkan keadaan kita menjadi seperti ini. Apa ini takdir? Kita harus bertemu dengan hal-hal yang seperti ini?”
“Apapun dan bagaimanapun cara kita bertemu, tapi aku sangat berterima kasih sekali kepada gelang ini. Karena gelang ini, kita bisa sampai seperti ini,” sambung Angel yang kembali mengenang pertama kali mereka bertemu saat di Jerman, menikah, kemudian bisa menghabiskan hari bersama di pantai seperti sekarang.
Mike tersenyum lebar. Ia membantu Angel untuk memakaikan kalung sepatu dan gelang kuncinya yang sempat hilang, kini ditemukan kembali. Setelah mengaitkan gelang tersebut di pergelangan tangan Angel, Mike sempat memegang tangan Angel begitu lama.
“Kenapa, Mike?” tanya Angel bingung.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Mike mencium kening Angel dan memeluknya begitu erat. Angel sama sekali tidak mengerti arti dari pelukan ini. Pelukan ini, seperti pelukan perpisahan, perpisahan yang entah kapan bisa berjumpa lagi.
Tiba-tiba saja Mike meneteskan air matanya dalam pelukan Angel. Semenjak mengenal Angel, entah kenapa Mike berubah menjadi pria yang mudah meneteskan air matanya. Dulu, hanya Mia yang mampu membuat Mike menangis. Kini, Angellah yang paling sering membuat Mike meneteskan air matanya kembali. Apa seorang pria tidak boleh menangis seperti ini?
Maafkan aku Angel, maafkan aku. Batin Mike.
Hari ulang tahun Angel telah berlalu, Angel dan Mike pun menginap satu malam di sebuah penginapan. Selama di penginapan, keduanya banyak menghabiskan waktu mereka bersama. Sampai akhirnya Angel tertidur, Mike membawa Angel dengan menggendongnya ke kamarnya. Sambil menyelimuti dan memandangi wajah Angel begitu lama, Mike tersenyum lebar.
“Sweet dream, Angel,” ucapnya pelan sambil mencium kening istrinya.
Pagi harinya, Mike dan Angel pergi bersama untuk melihat matahari terbit sambil bergandengan tangan. Sambil memperbaiki jaket yang di pakai Angel, Mike merangkul istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
“Mike,” panggil Angel yang membuat langkah Mike terhenti. “Bryan sudah mengetahui soal pernikahan kontrak kita,” tutur Angel hingga membuat Mike membalikkan badannya dan menatap wajahnya begitu lekat.
“Ghea juga sudah mengetahui soal pernikahan kontrak kita,” sambung Mike sambil tersenyum ketir hingga membuat Angel tampak begitu terkejut mendengarnya. “Ghea memintaku untuk tinggal di sisinya.”
“Kamu jawab apa?” tanya Angel yang mulai tampak berkaca-kaca dan takut untuk mendengar jawaban Mike.
“Aku menjawab iya,” jawab Mike dengan terbata-bata.
__ADS_1
Angel tersenyum kecut dan mulai meneteskan air matanya. Namun, ia cepat-cepat menghapusnya agar Mike tidak melihatnya.
“Bryan juga baru saja mengatakan perasaannya kepadaku, dia bilang dia mencintaiku dan ingin hidup bersamaku.”
Mike kembali tersenyum kecil dan mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Pergilah, Bryan cocok untukmu. Dia pria yang baik, aku sudah mengenalnya sejak lama. Bryan bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta, kamu orang yang tepat untuk Bryan.”
“Tapi, aku tidak menyukai Bryan. Aku hanya menyukai pria yang berada di depanku saat ini,” tutur Angel pelan yang kembali meneteskan air matanya dan membuat Mike menatap wajah Angel dengan begitu dalam.
Jawaban ini sejak dulu memang sudah Mike tunggu-tunggu. Tapi, ia takut mendengar pernyataan itu. Ia takut, kalau pada akhirnya, keduanya akan sama-sama terluka dengan perasaan yang sedang merasakan saat ini.
“Seorang kribo menyukai seorang Shincan, dia sangat mencintai pria psikopat yang berada di hadapannya ini hingga membuatnya merasakan warna-warni kehidupan ini,” kata Angel kembali dengan kedua bola mata yang mulai memerah.
“Aku sadar, dengan aku mengatakan perasaan ini hubungan kita tidak bisa dilanjutkan kembali. Di dalam kontrak tertera dengan jelas. Jika status pernikahan kontrak ini diketahui oleh pihak luar dan jika salah satu diantara kita berdua sampai ada yang jatuh cinta duluan, maka akan dikenakan sanki dan kita akan bercerai. Jadi, posisiku sekarang sudah melanggar dua aturan itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mike?”
Mike terdiam dan masih manatap wajah Angel yang sejak tadi sudah beruraian air mata.
“Ayo, kita pulang,” ucapnya yang hanya bisa mengucapkan kalimat tersebut.
__ADS_1
Angel hanya menuruti perintah Mike dan mengikutinya dari belakang. Selama perjalanan pulang, di dalam mobil, Mike dan Angel hanya saling terdiam dan tidak membuka suara sama sekali.