
Mike yang baru saja masuk ke dalam perusahaan JJ. Entertaiment, mendengar ada suara teriakan seseorang di ruangan sebelah. Karena penasaran dengan teriakan seseorang itu, ia langsung menengok. Namun, belum sempat melihat, Sisi langsung memanggil Mike dan mengajaknya untuk pergi dengan cepat-cepat. Mike pun kemudian pergi menyusul Sisi yang sudah berada di depannya.
“Angel!” panggil seseorang.
“Oh, mbak Vivi ada apa?”
“Kamu ke ruangan Properti yah, ada beberapa coustum yang harus kamu susun rapih."
“Oke!”
Dengan semangat 45, Angel langsung bergegas menuju ruangan Properti. Sementara Mike, ia langsung mengunjungi Bryan di ruangannya.
“Bryan, elo seneng banget ya menjadikan gue sebagai aktor lo?” seru Mike yang baru saja masuk.
“Hey, elo udah dateng? Cepet juga, mana asisten lo?”
“Sisi lagi sibuk ngurusin soal naskah dan hal-hal penting lainnya,” jawabnya sembari duduk dan menyilangkan kedua kakinya.
“Sbenarnya Mike, kalau lo bukan seorang pelari, elo itu cocok banget jadi aktor. Akting elo lumayan, ko!”
“Gue nggak berminat jadi aktor, impian gue sejak dulu kan menjadi seorang pelari. Sebentar lagi juga kan, gue bakalan merambah menjadi pelari internasional, hebat gak, tuh?” ucapnya berbangga diri.
“Bangga banget sih lo, ya udah lo ketemu sama sutradaranya aja dulu. Dia lagi di ruang properti, lagi sibuk ngurusin setting.”
Mike mengangguk kemudian pergi. Sementara Mike pergi, handphone milik Bryan berdering begitu nyaringnya. Begitu melihat ke layar ke handphone, ternyata itu panggilan dari Ghea, sahabatnya.
“Iya, Ghe?”
“Lagi sibuk?” tanya Ghea di sebrang telepon sana seraya duduk di sebuah kursi dengan suasana berada di ruang make up.
“Lumayan sih, tapi ini lagi senggang, ko. Kenapa?”
“Kalau gak sibuk, gimana kalau nanti kita dinner bareng?”
“Boleh, kamu di mana? Biar aku jemput!”
Sementara itu, sesampainya di ruang properti, Mike banyak berbincang-bincang dengan sutradara dan banyak menanyakan soal film barunya itu. Sembari berdiskusi, beberapa karyawan wanita di sana tampak melirik-lirik kecil ke arah Mike.
“Oke, peran ini pokoknya cocok banget untuk kamu, Mike. Ini hanya tinggal jadi diri kamu sendiri.”
“Siap pak sutradara, tapi film ini tidak akan mengganggu jadwal latihan saya, kan? Soalnya, 2 bulan lagi saya ada pertandingan.”
__ADS_1
“Tenang, syuting ini akan disesuaikan dengan scedule kamu, jadi ini tidak akan berbenturan.”
“Oke, saya percaya dengan pak sutradara.”
“Ya sudah, kamu boleh tunggu dulu di sini atau mau lihat naskahnya dulu juga boleh. Nanti, biar asisten saya yang bawakan untuk kamu.”
“Sipp, saya tunggu di sini saja.”
Sutradara pun pergi dan membiarkan Mike menunggu. Sementara Mike menunggu, tiba-tiba saja Mike dikejutkan dengan seorang perempuan yang membawa beberapa pakaian yang begitu banyak ke dalam ruangan dengan heboh.
“Elo?” seru Angel dan Mike bersamaan.
“Kenapa kita malah ketemu lagi, ngapain elo di sini?” ketus Mike.
“Gue kerjalah di sini, emangnya mau ngapain lagi. Elo sendiri ngapain di sini?”
“Mike, ini naskahnya!” seru seorang pria yang merupakan asisten dari sutradara seraya membawakan naskahnya untuk Mike. “Oh, kebetulan ada Angel di sini. Angel, mulai sekarang kamu akan sering bertemu dengan Mike. Kita akan bekerjasama untuk film terbaru dengannya Jadi, bantulah Mike, yah?”
“Apa? Kerjasama?”
“Iya, Mike ini naskahnya. Baca-baca saja dulu, gue masih ada kerjaan jadi gue pamit,” pamitnya.
“Dunia bener-bener sempit, kenapa malah ketemu lagi sama cewe gila ini, sih?”
“Apa tadi lo bilang?” teriak Angel kesal.
“Akh, sudah- sudah, gue lagi males ribut sama lo!” ujar Mike yang langsung membaca naskahnya kembali.
“Eh, Sinchan!” panggil Angel mengejek.
“Apa tadi lo panggil gue?”
“Gue kira pertemuan kita di Jerman itu yang terakhir kali. Ternyata, ini malah berbuntut dan bahkan kita bakalan sering bertemu. Apa ini sudah menjadi takdir?”
“Maksud lo takdir?”
Angel melangkahkan kakinya menuju tempat Mike duduk. Ia mendekatkan dirinya ke arah Mike hingga membuat Mike sedikit menjauh dan hampir terjatuh dari kursinya. Namun, Angel langsung menarik kembali kursi Mike dan mendekatkan kembali wajahnya ke arah wajah Mike.
“Nga . . . ngapain lo?” tanya Mike gugup.
“Sejak kapan lo jadi gugup?” tawa Angel.
__ADS_1
“Berisik, bukan urusan lo! Pergi sana!” usir Mike kasar.
Angel yang diusir malah dengan sengaja mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mike. Sampai hembusan nafas Mike pun bisa terdengar begitu jelas olehnya.
“Apa kita berjodoh?"
“Jodoh kepala lo!” teriak Mike sambil mendorong kepala Angel dengan kasar.
“Hey, kasar banget sih lo jadi cowo!”
“Denger ya kribo, gue dan lo hanya sebatas rekan kerja tidak lebih!” tutur Mike kemudian pergi.
Angel melipat kedua tangannya seperti hendak memukul wajah Mike yang tampak songong itu. Namun, tiba-tiba saja Mike kembali dan menghampiri Angel dengan mengacak-ngacak rambutnya.
“Bye, kribo!” tawanya kembali mengejek.
“Shincan!” teriak Angel emosi.
Dengan pertemuan kembalinya Angel dengan Mike di Indonesia, membuat Angel semakin geram dengan tingkah lakunya yang benar-benar minta dilempar ke Danau Toba.
Sepeninggal Mike, Angel tidak sengaja melihat CEO nya itu tampak terburu-buru menuju basment.
Bryan yang terlihat terburu-buru, langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan segera menjemput Ghea di tempat kerjanya.
Setelah bertemu dengan Ghea, mereka berdua pun langsung menuju tempat makan favorit mereka.
“Kamu tidak bisa memakai pakaian yang sedikit tertutup, Ghe?” tanya Bryan sambil memakan makanannya begitu melihat pakaian Ghea yang sedikit terbuka dan juga seksi.
“Aku ini model, jadi setiap hari aku harus memakai pakaian seperti ini. Ini tuntutan profesi!”
“Tapi, kamu kan lagi gak kerja? Apa di luar kerjaan, pakaian kamu harus seperti ini juga?” Ghea terdiam beberapa saat dan menatap wajah Bryan yang sedang makan dengan tatapan sinisnya.
“Kita lagi makan, kan? Bisa kita tenang sejenak?”
“Aku hanya memberi tahu saja. Aku itu sahabat kamu, jadi aku khawatir kalau kamu terus memakai pakaian terbuka seperti itu.”
“Apa karena aku ini sahabatmu, makanya kamu khawatir? Terus, kalau aku bukan sahabatmu, kamu nggak akan khawatir?” tanyanya dengan nada tinggi.
“Ghe, kamu kenapa, sih?”
“Lupakan, Ian! Aku tidak ingin bertengkar denganmu!” jawabnya seraya melanjutkan menghabiskan makanannya.
__ADS_1