
Setelah diperkenalkan dengan keluarga Mike dan berbicara banyak dengan keluarga besar Mike, Angel dan Mike kembali ke rumah mereka.
Sesampainya di rumah, Angel duduk termenung di halaman rumahnya sambil menatap langit yang penuh dengan bintang malam. Melihat Angel seorang diri di halaman belakang rumahnya, Mike mencoba menghampirinya dan duduk di sampingnya sambil memberikan kaleng berisi cola kepadanya.
“Bagaimana?” tanya Mike membuka suara sambil meneguk cola miliknya.
“Bagaimana apanya?” tanya Angel tidak mengerti dan membuka kaleng berisi cola pemberian dari Mike kemudian meminumnya.
“Tentang keluarga gue?” tanyanya kembali sambil menatap langit malam.
“Nenek dan kakek lo sangat menyeramkan apalagi ayah lo yang sejak kita datang ke rumah, diam terus tanpa berbicara sama sekali. Itu benar-benar membuat gue takut dan gugup." Angel tampak terlihat ketakutan hingga membuat Mike tertawa mendengarnya.
“Kenapa? Berubah fikiran?” tanya Mike kembali.
Angel menggeleng pelan dan tersenyum kecil.
“Gue iri sama lo, Mike.” Angel menatap wajah Mike dengan kedua bola matanya yang terlihat berkaca-kaca.
“Iri kenapa?” tanya Mike tidak mengerti.
“Keluarga lo sempurna, ada ayah, ibu, kakak, adik, nenek dan kakek. Sementara gue, kedua orang tua gue sudah meninggal sejak usia gue 17 tahun akibat kecelakaan mobil. Satu-satunya yang selamat hanyalah gue, anak semata wayang mereka,” cerita Angel yang membuat Mike terkejut.
“Elo tahu gak, dulu gue sempat trauma naik mobil, loh. Hanya saja, sekarang gue memberanikan diri untuk naik mobil kembali. Sudah selama 3 tahun ini, trauma gue sedikit demi sedikit sembuh dengan perjuangan yang keras. Berlebihan banget yah gue?” tawa Angel hingga membuat Mike menatap wajahnya, namun ia kembali memandangi langit malam yang dipenuhi oleh bintang.
“Semua orang mempunyai masa-masa sulitnya. Mungkin, sekarang elo sudah tahu cerita soal adik gue dari keluarga gue. Gue hanya berharap, elo bisa menerima adik gue yang tidak sempurna.”
“Itu tentu, gue sangat menyukai Mia. Dia anak yang baik dan sangat menyenangkan. Oh iya Mike, boleh gue menganggap keluarga lo sebagai keluarga gue sendiri?” tanya Angel sambil menatap wajah Mike.
Sesaat Mike terdiam dan membalas menatap wajah Angel. Mereka saling beradu pandang dengan sangat lama. Angel dan Mike sama-sama memiliki kesulitan tersendiri yang membuat mereka harus tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan juga tegar.
Sorot mata mereka terlihat lebih dalam dan lebih hangat, berbeda dari biasanya yang terlihat seperti seorang musuh. Sambil tersenyum kecil, Mike menganggukkan kepalanya pelan.
“Anggap saja keluarga gue sebagai keluarga lo sendiri karena bagaimana pun juga elo sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Dan bersiap-siaplah, untuk ke depannya kita akan mulai sibuk dengan persiapan pernikahan kita.”
__ADS_1
“Iya, hari-hari gue kedepannya akan menjadi tidak tenang.”
“Gue juga sama, tapi gue kagum dan salut banget sama lo, Ngel."
“Salut kenapa?” tanya Angel sambil menatap wajah Mike bingung.
“Semua jawaban lo membuat kakek dan nenek gue yang terkenal menyeramkan itu sama sekali tidak berkutik. Mereka langsung setuju begitu saja dan gue sendiri sempat terkejut mendengar semua jawaban lo itu. Tapi, alhasil sukses besar."
“Gue keren dong ya tadi? Kayany/ gue cocok jadi artis, nih,” tawanya dan bersikap narsis hingga membuat Mike langsung mengalihkan pandangan matanya dan kembali mengacak-ngacak rambut Angel yang ikal.
“Kumat lagi penyakit narsis lo!”
Angel tertawa lebar dan kembali meneguk kaleng berisi cola miliknya. Angel dan Mike pun menghabiskan malam mereka dengan menikmati pemandangan langit yang penuh dengan bintang dan saling bercerita soal pribadi mereka masing-masing.
Esok harinya, Angel dan Mike mulai disibukkan dengan rutinitas mereka tentang persiapan pernikahan. Angel pun berkunjung ke rumah Nina dan menjelaskan semuanya mengenai pernikahannya.
Nina akhirnya setuju dengan pernikahan Angel juga Mike. Dan pada akhirnya, Nina membantu Angel untuk mempersiapkan pernikahannya.
Hari pernikahan sudah semakin dekat, Angel sering sekali berkunjung ke rumah Mike meski tanpa Mike yang menemani karena ia disibukkan dengan jadwal syuting juga latihan karena ia sedang mempersiapkan diri untu mengikuti kompetisi berlari 2 bulan lagi.
Hari ini, Mike dan Angel akan melakukan fitting baju, Angel dan Mike pun memutuskan untuk pergi bersama. Namun, tiba-tiba saja Mike membawa Angel menuju arah berlawanan ke tempat mereka akan melakukan fitting baju.
“Kita mau ke mana, Mike? Bukannya kita mau fitting baju, yah?” tanya Angel yang sepertinya bingung melihat Mike membawanya ke tempat yang berbeda saat mereka berada di dalam mobil Mike.
“Kita potong jalan, jalanan macet kalau lewat sana. Jadi, kita lewat persimpangan jalan sini aja," jawab Mike yang sedang berkonsentrasi menyetir.
“Mike, lebih baik kita putar arah, deh," saran Angel yang wajahnya tampak mulai terlihat pucat.
“Kenapa? Lagian lewat sini lebih dekat."
“Kita puter balik aja, Mike!” pinta Angel sedikit memaksa.
“Emangnya kenapa, sih? Udah deh, yang bawa mobil kan gue. Jadi, elo gak usah bawel dan berisik!”
__ADS_1
“Mike, gue bilang kita puter balik! Denger gak, sih?” bentak Angel yang tampak bersikeras ingin memutar balik mobilnya.
“Heh, suka-suka gue dong mau lewat mana juga! Elo diem aja deh, kalau elo berisik terus gue turunin juga lo di tengah jalan!”
“Mike, putar arah!” perintah Angel setengah berteriak dengan air muka yang sudah memerah menahan emosi dan air mata yang hampir saja keluar dari pelupuk matanya.
“Nggak!” jawab Mike setengah membentak dan tetap keukeuh.
“Mike! Keras kepala banget, sih!” bentak Angel kembali.
“Berisik lo!”
“Turunin gue sekarang!”
“Apaan sih lo? Norak banget!”
“Turunin gue, Mike!”
Mike tiba-tiba saja ngerem mendadak, wajahnya tampak sudah memerah karena menahan amarahnya.
“Elo gila, hah? Mau elo itu apa, sih?” teriak Mike emosi.
“Elo yang gila! Gue kan udah bilang, gue gak mau lewat daerah sini!”
“Terserah elo deh, lebih baik kita batalkan saja pernikahan ini sekalian!”
“Terserah, lebih baik gue pergi dari pada harus ribut sama lo!”
“Ya udah, sana pergi dan jangan kembali!” teriak Mike hingga membuat Angel bergegas keluar dari mobil Mike sambil membanting pintu mobilnya dengan kasar.
Mike yang emosi langsung pergi begitu saja meninggalkan Angel sendirian di tengah jalan sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Angel yang ditinggal begitu saja hanya bisa menahan emosinya yang sudah memuncak.
“Dasar psikopat, cowo brengsek, idiot!!” teriak Angel memaki-maki dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya.
__ADS_1
Angel kemudian pergi dengan berjalan kaki dan menghapus air matanya yang sudah mulai berjatuhan ke dasar pipinya. Dengan kendaraan yang lalu lalang di sampingnya, Angel tampak sangat sedih dan menggigit-gigit jarinya karena takut akan suatu hal.
“Elo gak akan ngerti Mike, gue takut. Gue takut kalau gue harus mengikuti jalan itu,” tangis Angel kembali.