
Selama Mike, Angel dan Mia berlari. Kedua orang tua Mike sudah kembali dari rumah sakit tempat di mana mereka berkerja. Bahkan, kedua orang tua Mike diberitahukan oleh nenek dan kakek Mike, kalau Mia diajak berlari oleh Mike dan juga istrinya. Karena tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar, kedua orang tua Mike langsung bergegas pergi untuk mencari anak-anaknya.
Ternyata memang benar, Mike sedang berlari bersama dengan Angel dan juga Mia. Melihat mereka bertiga berlari, ibunda Mike tampak menitikkan air matanya karena begitu terharu dengan kebersamaan anak-anaknya yang terlihat begitu bahagia.
Mike, aku begitu kagum padamu. Kamu kakak yang hebat dan bertanggung jawab, kamu anak yang berbakti dan penuh perhatian. Aku tidak menyangka, kamu akan mewujudkan semua impian adikmu. Aku terharu, aku belum pernah melihat orang sebaik dirimu. Aku bangga padamu, Mike. Batin Angel sambil terus berlari dan menyeka air matanya.
Setelah menghabiskan hari untuk berlari bersama Mia, Mike membiarkan adiknya itu untuk beristirahat dengan memberikannya minuman sambil menyeka keringat adiknya yang sudah mulai membasahi seluruh tubuhnya.
“Senang?” tanya Mike sambil menatap wajah adiknya.
“Senang sekali. Makasih banyak kak Mike, makasih banyak kak Angel,” katanya riang.
“Sama-sama, Mia,” jawab Angel sambil memeluknya erat.
“Kalian datang?” tanya Mike saat melihat keluarganya berada di tepi lapangan kemudian datang menghampirinya.
“Mike, mamah bangga padamu,” ucap sang ibu sambil memegang kedua pipi anaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Mike tersenyum lebar kemudian memeluk erat ibunya. Sementara ayah Mike memeluk erat Mia dan mencium kening anak bungsunya itu.
“Aku ada permintaan lagi, bolehkah?” tanya Mia sambil menatap seluruh keluarganya.
“Apa itu, Mia?” tanya ayah Mike.
“Aku ingin sekali mengikuti pertandingan, apa itu bisa?” tanya Mia hingga membuat semuanya saling beradu pandang.
“Mia, tidak adakah permintaan lain selain itu?” tanya ibunya sambil menghampirinya.
“Hanya itu yang aku mau. Aku mohon, ini akan menjadi permintaan terakhirku,” pintanya dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan bilang permintaan terakhir. Berapapun permintaan kamu dan apapun itu permintaanmu, kakak akan kabulkan,” tutur Mike pelan.
“Benarkah?” tanya Mia tidak percaya.
Mike mengangguk dan memeluk erat adik kesayangannya itu. Melihat kasih sayang Mike untuk Mia, membuat Angel kembali menitikkan air matanya. Setelah mengantar Mia pulang dan makan malam bersama keluarga, Angel dan Mike berpamitan pulang.
“Angel?” tanya Mike saat sedang mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
“Hah? Ada apa?” tanyanya yang tampak terkejut.
“Kamu nangis?” tanya Mike kembali yang melihat istrinya sedang menyeka air matanya.
“Nggak, ko. Aku nggak nangis,” elaknya.
“Jangan bohong, kamu kenapa menangis?”
Sesaat Angel terdiam dan tidak menjawab. Mike tampaknya sedang menunggu jawaban darinya dan terus terdiam sambil berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
“Aku terharu melihat kedekatan kamu dengan Mia, aku juga terharu melihat pengorbanan kamu untuk Mia. Tapi, Mike? Bagaimana mungkin kamu membawa Mia masuk ke dalam pertandingan, apa itu bisa?” tanya Angel sambil menatap wajah Mike.
“Aku harus bisa melakukannya. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa membawa Mia masuk ke dalam pertandingan.”
“Tapi, Mike?”
“Ini permintaan terakhirnya dan aku harus mewujudkannya. Aku tidak boleh mengingkarinya. Aku tidak ingin selama Mia hidup, aku tidak bisa mewujudkan impiannya,” tutur Mike begitu antusias dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Mike?”
Mike menghentikan mobilnya di tepi jalan, tak terasa butiran air matanya berjatuhan hingga membuat Angel juga ikut menangis bersamanya. Untuk pertama kalinya, Angel melihat Mike menangis seperti ini. Mike yang Angel kenal adalah Mike yang sombong, angkuh, arogan, keras kepala, pemarah dan juga egois.
“Menangislah jika kamu ingin menangis. Aku di sini akan menemanimu,” ucap angel pelan.
Mike membalas menatap wajah Angel. Untuk beberapa saat, Mike dan Angel saling beradu pandang. Kemudian, Mike memeluk Angel dan menangis di dalam pelukannya. Tangisan Mike pecah seketika dan itu membuat Angel mencoba untuk menenangkannya dengan menepuk-nepuk pundak Mike dengan pelan dan penuh kasih sayang.
“Aku tidak ingin kehilangan Mia, aku sangat menyayanginya. Mia tidak akan meninggalkan aku kan, Ngel?” tangis Mike.
“Tidak Mike, Mia akan selalu bersama kita. Percayalah, keajaiban pasti akan datang dan Mia pasti akan sembuh.”
“Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana?” katanya terdengar lirih.
Angel semakin mempererat pelukannya. Melihat Mike yang seperti ini, Angel semakin ingin membuat Mike tetap tersenyum seperti dulu dan ingin selalu membuatnya bahagia.
Semenjak kejadian hari itu, Mike berusaha untuk mencari cara agar Mia bisa mengikuti pertandingan. Bahkan, sampai pelatih lari Mike pun turut serta untuk membantu Mike. Namun, dari beberapa informasi yang di dapat, seorang peserta yang memiliki riwayat penyakit atau cacat, tidak izinkan untuk mengikuti pertandingan. Dan, itu semua membuat Mike semakin frustasi.
“Ngel, elo lagi ngapain?” tanya Nina yang tengah berada di rumah Angel dan melihatnya sedang membuat sesuatu.
__ADS_1
“Gue sedang membuat pakaian.”
“Pakaian untuk siapa?” tanya Nina penasaran.
“Untuk adiknya Mike. Gue ingin memberikan sesuatu untuk Mia dari hasil tangan gue sendiri.”
“Oh iya, Mike masih berusaha untuk membuat Mia mengikuti pertandingan, Ngel?”
Angel mengangguk pelan, “Gue kasihan melihat Mike yang bekerja keras untuk adiknya, gue tidak bisa melakukan apa-apa selain mendukungnya. Gue bingung, Nin.”
“Kayanya elo cinta banget yah sama Mike?” tutur Nina tiba-tiba.
“Hah, apa? Cinta sama Mike?” seru Angel yang tampak terkejut.
“Iya, gue belum pernah melihat elo sebegitu pedulinya terhadap orang lain dan rela begadang hanya untuk membuat pakaian untuk adiknya Mike.”
“Emangnya, sebelumnya gue nggak pernah seperti ini, yah?”
“Ngel, gue kenal elo sejak kecil. Gue tahu elo cuma pernah jatuh cinta sekali dan pacaran cuma sekali. Untuk move on dari mantan pacar lo aja, elo butuh waktu 4 tahun. Sekarang, giliran elo punya pacar malah langsung nikah. Berarti, elo emang cinta banget sama Mike!”
Angel terdiam dan mencoba untuk mencerna apa yang sudah dikatakan sahabatnya itu. Apa mungkin itu benar? Apa mungkin, Angel mulai menyukai Mike? Seorang Mike yang egois dan arogan, apa mungkin Angel menyukainya?
“Sudahlah, nggak usah bahas soal Mike lagi bisa, kan? Mending, sekarang bahas tentang elo aja,” potong Angel mengalihkan pembicaraan.
“Bahas soal gue? Bahas apaan?”
“Soal kaki lo, elo mesti ikut terapi, Nin. Elo kan, nggak cacat permanen. Elo masih bisa jalan, kecelakaan 1 tahun yang lalu itu tidak harus membuat lo menyerah, kan?”
“Gue bukannya menyerah, Ngel. Gue gak yakin aja dengan kemampuan gue sendiri."
Angel menyimpan setengah bahan jadinya yang hendak ia jahit di atas meja. Ia datang menghampiri Nina dan menggenggam kedua tangan Nina dengan begitu erat.
“Elo jangan kalah dengan Mia, elo tahu kan cerita soal Mia? Dia tidak pernah patah semangat untuk tetap bertahan hidup dan meraih impiannya, meski itu mustahil terjadi. Elo juga harus semangat, elo harus meraih impian lo untuk menjadi seorang desainer. Elo harus bisa menjadi seorang desainer dan bekerja sama bareng gue. Elo mesti percaya diri, Nina. Percaya sama gue, elo pasti bisa berjalan lagi. Elo pasti bisa!”
Nina begitu terharu mendengar ucapan Angel yang memotivasi dirinya. Begitu beruntungnya Nina memiliki Angel yang selalu ada untuknya. Melihat Nina beruraian air mata, Angel menghapus air matanya dan memeluknya erat.
“Don’t cry Nina, be your smile. Elo harus tetap tersenyum, semangat?”
__ADS_1
“Semangat!”