
Semenjak pertengkaran itu, Bryan mengantar Ghea pulang ke rumahnya dengan suasana yang terlihat mengganjal. Setelah berpamitan, Ghea masuk ke dalam rumahnya hingga membuat Bryan hanya bisa menatap kepergian sahabatnya itu dengan lirih.
Namun, tiba-tiba saja Ghea kembali ke luar hingga membuat Bryan yang hendak masuk ke dalam mobilnya, menghentikan langkahnya.
“Bryan!” panggil Ghea.
“Ghea? Ada apa?”
“Besok, kita masih bisa makan bersama, kan?” tanyanya.
“Ya bisalah, memangnya atas alasan apa kita tidak bisa makan bersama?”
“Aku ingin memperbaiki suasana saat makan malam kita tadi. Dan, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Oke, besok kita dinner bersama lagi.”
“Sampai jumpa besok, Ian,” tutur Ghea lembut sambil tersenyum simpul.
“Sampai jumpa besok, Ghea.”
Hari demi hari mulai terlewati. Angel kini harus menerima dengan sabar kalau dirinya dan juga Mike sudah resmi menjadi rekan kerja. Dan, Angel pun harus dengan sabar bekerja sama dengan Mike. Karena ia harus membantunya memilih pakaian, sepatu, bahkan aksesoris lainnya.
“Ngel, elo bisa temenin Mike ke butik nggak? Ada pakaian yang harus di pakai oleh Mike di dalam adegan nanti. Bisa, kan?” tanya sang produser.
Angel mengangguk pelan menyetujui. Setelah di minta ke butik oleh produser, Mike dan Angel pun segera menuju parkiran.
“Ngapain lo diem? Cepetan naik, elo yang nyetir!” perintah Mike dengan seenaknya.
“Gue gak bisa nyetir,” jawab Angel hingga membuat Mike terkejut mendengarnya.
“Whatt? Jadi, ceritanya gue ini yang nyetir?” teriaknya kesal.
“Iya, elo yang nyetir. Cepetan masuk!” teriak Angel kasar dan langsung masuk begitu saja ke dalam mobil.
“Kenapa jadi dia yang merintah gue? Aisshh, menyebalkan sekali dia!”
Dengan terpaksa, Mike pun mengemudikan mobilnya dikarenakan Angel yang tidak bisa menyetir. Angel yang sudah berada di dalam mobil, tidak sengaja melihat ada sebuah bingkai foto di dashboard mobil Mike.
Foto itu adalah foto Mike dengan ketiga sahabatnya. Melihat foto tersebut, Angel hanya tersenyum sinis dan memalingkan wajahnya dari foto tersebut.
“Itu cewe yang ada di wallpapper handphone lo, yah?” tanya Angel membuka suara.
“Hey, kenapa lo bisa tahu soal itu?”
“Gak sengaja gue lihat waktu kita berdua ada di Jerman, lagian elo sendiri yang memperlihatkan foto gadis itu ke gue."
“Kapan? Ko, gue gak inget?”
__ADS_1
“Saat di hotel waktu kita berdua mabuk berat dan sampai terjadi . . . "
Angel langsung memalingkan wajahnya dan tidak kembali melanjutkan perkataannya. Mike yang tersadar juga langsung terlihat kembali menyetir.
Sesampainya di butik, Angel dan Mike langsung mengambil beberapa pakaian yang sudah di pesan produser. Sambil menunggu pakaian itu datang, Angel dan Mike melihat-lihat beberapa pakaian yang terlihat sangat mahal itu.
Tanpa disengaja, Mike melihat ada sebuah piano hitam yang tersimpan di sudut ruangan. Mike pun mendekatkan dirinya ke arah piano tersebut dan sempat membunyikan suaranya.
“Elo bisa main piano?” tanya Angel yang mengagetkan Mike.
“Nggak, gue gak bisa main piano,” jawabnya tampak gugup.
“Masa, sih? Kelihatannya elo bisa tuh, jangan-jangan elo punya bakat terpendam soal musik lagi!” selidik Angel.
“Sok tahu lo, udah sana tungguin pakaiannya!” perintah Mike galak.
“Iya, Mr. Bawel!” tutur Angel dengan mulut yang mencibir.
Setelah pakaiannya sudah datang, Mike dan Angel kembali ke lokasi syuting dan melakukan take beberapa kali.
Malam harinya, Ghea mengajak Bryan makan malam bersama di sebuah restoran mahal. Sambil mencicipi menu terbaru, Ghea terus memandangi wajah Bryan yang tampak berbeda dari biasanya.
Bryan yang tersadar sejak tadi Ghea memandanginya terus, langsung menatap balik wajah Ghea yang terlihat sangat cantik itu.
“Ada apa, Ghe? Dari tadi kamu ngelihatin aku terus?”
“Nggak, kamu kelihatan ganteng aja malam ini," puji Ghea hingga membuat Bryan tersipu malu.
"Kamu gak ajak Mike dan Ken makan bareng sama kita?”
“Mereka lagi sibuk, lagi pula ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu, Ian.”
“Hal apa? Sepertinya penting banget."
“Bryan, sebenernya ada hal penting yang ingin aku ungkapkan sama kamu sejak dulu. Hanya saja, aku baru berani mengatakannya sekarang,” katanya sambil menyimpan sendok dan garpunya dan terfokus ke arah wajah Bryan.
Bryan tampak kebingungan dan mulai terlihat tampak bertanya-tanya.
“Aku suka sama kamu Bryan,” ungkap Ghea tiba-tiba.
“Apa?”
“Sejak kecil, aku sudah menaruh hati padamu. Aku sayang sama kamu, aku ingin kita ada hubungan special lebih dari sahabat,” tutur Ghea sambil menggenggam tangan Bryan.
Bryan sepertinya tampak terkejut, ia begitu syock sampai melepas genggaman tangan Ghea dari tangannya.
“Maaf Ghe, aku nggak bisa. Maafkan aku, aku hanya sayang sama kamu sebagai sahabat dan itu tidak akan pernah lebih.”
__ADS_1
“Apa tidak ada kesempatan lagi untuk aku, Bryan? Apa kamu tidak bisa menyukaiku lebih dari seorang sahabat?”
“Lebih baik kamu belajar untuk mencintai orang lain, karena ada orang lain yang lebih memperdulikan kamu dan mencintai kamu setulus hatinya.”
“Siapa? Tapi, aku hanya mencintai kamu. Bryan, benar tidak ada lagi kesempatan kedua untukku?”
Bryan menggeleng pelan kemudian pergi karena tampak masih begitu terkejut dengan ungkapan perasaan Ghea yang begitu tiba-tiba. Sepeninggalnya Bryan, Ghea hanya bisa tersenyum kecil sambil menitikkan air matanya.
Sementara itu, sepulang dari semua pekerjaannya, Angel segera menuju rumah yang baru saja ia beli. Dengan semangat 45, Angel berkeliling melihat rumah barunya itu dan ia sudah cukup merasa puas dengan rumah yang baru saja ia beli itu.
Saat Angel hendak membuka pintu rumahnya, tiba-tiba saja ada sebuah kunci yang hendak membuka pintu rumah Angel. Saat Angel melihat wajahnya, ternyata orang itu adalah . . .
“Shincan?”
“Kribo?”
“Ke . . . kenapa? Tunggu, kenapa elo ada di rumah gue?” tanya Angel bingung.
“Rumah lo? Hey, ini rumah gue!"
“Rumah lo? Tunggu, ini rumah yang baru saja gue beli. Kenapa bisa?”
“Ini pasti ada yang aneh, gue merasa ini benar-benar aneh!”
Angel segera menghubungi nomor si penjual rumah, sementara Mike segera menghubungi asisten dan manajernya. Setelah semua orang berkumpul di rumah baru, semuanya tampak hening. Benar-benar sunyi.
“Jadi, gimana? Ini masalahnya akan menjadi rumit," ujar Mike membuka suara.
“Tapi, saat gue beli rumah in, pak Beni mengatakan rumah ini kosong belum ada pembelinya," jawab Sisi tampak bingung.
“Hey, gue juga membeli rumah ini, tanda tangan rumah ini dengan belum adanya pembeli!” ucap Angel membela dirinya sendiri.
“Jadi, sebenarnya siapa ini yang salah?” tanya Bayu yang semakin tidak mengerti.
“Sebenarnya, ini salah saya. Saya minta maaff, karena penyakit pelupa saya kambuh lagi. Saya baru ingat nona Angel dan nona Sisi datang di hari yang sama dan membeli di hari yang sama juga. Kalian hanya berselang waktu dua jam,” ungkapnya menjelaskan.
“Jadi, jalan keluarnya bagaimana?” tanya Angel kembali.
“Tunggu, siapa yang bapak ingat orang pertama yang datang membeli rumah ini?” tanya Mike kembali.
Bapak itu berusaha mengingat-ngingat kembali. Angel dan Mike tampak cemas menunggu jawaban darinya. Setelah diingat-ingat kembali, ternyata orang yang pertama membeli adalah Mike. Saat mendengar jawaban sang penjual rumah, Angel pun kesal dibuatnya dan melakukan pembelaan diri.
“Ya, nggak bisa gitu dong, Pak. Meski Mike orang pertama yang membeli, saya juga di sini sudah membeli. Bapak harus ganti rugi kalau gitu ceritanya!”
“Aduh, kenapa masalahnya jadi runyam begini? Kenapa kita mesti bertemu dengan wanita ini lagi, sih," keluh Bayu sambil memegang kepalanya kebingungan.
“Mungkin ada satu cara," tutur bapak itu.
__ADS_1
“Apa?” tanya mereka semua kompak menunggu jawaban darinya.
“Pembeli pertama dan pembali kedua tinggal bersama di rumah ini,” sarannya hingga membuat semuanya terkejut mendengarnya