Pair Of Shoes

Pair Of Shoes
Sebuah Impian


__ADS_3

“Angel!” panggil seseorang dari kejauhan.


Merasa namanya dipanggil, gadis bernama Angel itu langsung membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang perempuan cantik yang tengah duduk di atas kursi roda, tersenyum kepadanya.


“Nina!” seru Angel yang langsung berlari ke arah perempuan berkusi roda itu sambil memeluknya dengan begitu erat. “Gimana kabar lo? Baik-baik aja, kan?”


“Gue baik. Gue kangen banget sama lo, Ngel,” katanya sambil membalas pelukan Angel.


“Gue juga kangen banget sama lo. Nyokap sama bokap lo mana?”


Nina menunjuk ke arah belakang Angel. Melihat kedua orang tua Nina, Angel langsung menghampiri mereka dan memeluk mereka silih berganti.


“Seneng banget bisa lihat tante sama om lagi.”


“Kami juga begitu gembira bisa bertemu lagi denganmu, Ngel,” ucap perempuan setengah baya itu yang merupakan ibunya Nina.


“Yang sabar ya tante. Angel yakin, suatu hari nanti Nina pasti bisa jalan lagi seperti dulu.”


“Doakan saja yah sayang, semoga semua harapan kita akan terwujud.”


“Amiin, Tante.”


Setelah bertemu dengan keluarga Nina, Angel pun segera mengantar mereka semua menuju taksi untuk menuju rumah mereka.


“Ya, ampun!” teriak Angel saat berada di dalam taksi begitu ia melihat ke arah pergelangan tangannya.


“Kenapa, Ngel?” tanya Nina bingung.


“Gelang kunci gue hilang! Sebentar, gue cari dulu gelang gue yang sepertinya tertinggal di bandara,” katanya menjawab yang langsung keluar dari taksi.


“Eh, Angel!” teriak Nina memanggil.


“Mau ke mana Angel?” tanya ayah Nina begitu melihat Angel keluar dari taksi.


“Katanya mau cari dulu gelangnya yang hilang, Yah,” jawab Nina yang terlihat cemas begitu melihat sahabatnya langsung berlari dan kembali masuk ke dalam bandara.


Angel segera bergegas keluar dari taksi dan mencari gelang kuncinya yang hilang. Ia terus mencoba untuk mencari gelangnya ke setiap sudut. Namun, sepertinya ia tidak berhasil menemukan gelang kesayangannya itu. Dengan berat hati, Angel kembali meninggalkan bandara dan melupakan gelang yang sangat ia favoritkan itu.


“Gimana? Ketemu?” tanya Nina saat melihat sahabatnya kembali.


Angel menggeleng pelan dan terlihat sangat kecewa sekali. Ia menundukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam taksi.


“Itu gelang kesayangan gue, Nin.”


“Mau gue bantu untuk cari ke dalam lagi?”


“Nggak perlu, sekarang kita pulang aja. Elo kan mesti istirahat,”


Dengan berat hati, Nina mengangguk. Walau sebenarnya ia ingin sekali membantu mencari gelang kesayangan sahabatnya itu.


Sementara itu, Mike bersama teman-temannya yang lain tengah berada di sebuah restoran, tempat makan favorit mereka berempat.


Mereka tengah menikmati kebersamaan mereka dengan menyantap hidangan makanan yang tampak sangat lezat itu.


“Jadi, gimana? Soal perbincangan tempo lalu itu masih berlaku, kan?” tanya Bryan sambil menatap ke tiga sahabatnya silih berganti.


“Soal yang mana?” tanya Ghea bingung.


“Soal piagam bergilir, kalau salah satu diantara kita ada yang married duluan,” jawab Bryan hingga membuat Mike dan juga Ken langsung tersedak begitu mendengar jawaban Bryan barusan.

__ADS_1


“Gue berani jamin, pasti lo dulu yang bakalan nikah!” seru Ken sambil menunjuk ke arah Mike.


“Ko, gue?” katanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Iya. Ko, Mike duluan sih yang nikah? Pacaran aja dia kan belum pernah. Cerita soal perempuan yang dia suka aja kayanya nggak pernah,” sambung Ghea yang membuat Mike kembali tersedak mendengarnya.


“Aku ada perempuan yang di suka, ko. Kamu aja yang tahu!” kata Mike yang langsung mengklarifikasi.


“Siapa? Ko, aku nggak tahu. Apa kalian tahu?” tanya Ghea sambil melirik ke arah Ken dan juga Bryan.


Pertanyaan Ghea barusan membuat Ken dan juga Bryan langsung melirik tajam ke arah Mike, hingga membuat Mike panik dan langsung menggelengkan kepalanya pelan ke arah kedua temannya.


“Jadi, mau main rahasia-rahasiaan, nih?” tanya Ghea kembali.


“Eh, gimana kalau kita liburan bareng?” seru Ken yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


“Boleh juga, tuh. Kita juga udah lama banget kan nggak liburan bareng,” kata Bryan yang langsung menyetujui rencana dadakan dari Ken.


Ghea melirik tajam ke arah teman-temannya. Karena semuanya sudah mengangguk tanda setuju, dengan sangat terpaksa Ghea juga menyetujui rencana liburan bersama teman-temannya itu.


Karena hari sudah malam, Mike beserta teman-temannya yang lain memutuskan untuk pulang. Melihat Ghea pulang diantar Bryan, Mike terlihat memasang ekspresi murungnya. Entah apa yang ia rasakan saat ini, akan tetapi ia hanya bisa membalas dengan senyuman ketika Ghea dan Bryan melambaikan tangannya kepadanya.


Setelah mobil Bryan berlalu, Ken langsung mengantar Mike pulang ke rumahnya karena kebetulan sahabatnya itu tidak membawa kendaraan pribadi.


“Thank’s, Ken,” tutur Mike begitu ia keluar dari mobil Ken.


“Jangan murung terus lo. Jelek banget muka lo.”


“Iya, bawel. Hati-hati di jalan."


Ken mengangguk kemudian pergi. Setelah mobil Ken berlalu, Mike pun langsung masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang terasa begitu beratnya.


“Bayu!” teriak Mike sesampainya ia di rumah.


“Ada apa, Mike?” tanya seorang perempuan bernama Sisi yang merupakan asisten Mike.


“Bayu mana? Gue mau buat perhitungan sama dia!” katanya kesal.


“Memangnya kenapa sih, Mike?” tanya Sisi bingung.


“Bayu!” teriak Mike kembali sambil mencari sosok manajernya itu dan mengabaikan asistennya.


“Ada apaan sih, Mike? Ada apa nyariin gue?” tanya Bayu yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Melihat Bayu yang baru saja keluar dari kamar mandi, Mike langsung menghampiri manajernya itu dan menatapnya dengan sorotan mata tajam.


“Heh, kenapa elo gak bilang sama gue kalau Ghea kemarin telepon gue soal kepulangan Bryan? Elo sengaja ya, mau buat gue terlihat tampak bodoh di depan Ghea?”


“Aduh, soal itu gue beneran lupa. Sorry banget, deh!” jawab Bayu yang tampak terlihat menyesal.


“Elo tahu nggak? Gara-gara lo, gue jadi merasa nggak berguna di depan Ghea!” sewotnya galak.


“Iya, sorry banget, Mike. Gue tahu gue salah, makanya gue minta maaf. Oh iya, pelatih lo tadi datang ke sini.”


“Ngapain?” tanya Mike sambil mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas seraya meneguknya.


“Soal pertandingan, 2 bulan lagi akan ada pertandingan. Jadi, kalau elo sudah tidak terlalu sibuk dengan project lo yang lain, elo bisa langsung latihan kembali.”


“Oke, atur-atur aja sama kalian berdua. Gue mandi dulu,” jawab Mike dengan ekspresi wajah yang tampak tidak terlalu bersemangat.

__ADS_1


Mike langsung meninggalkan Bayu dan segera menuju kamar mandi setelah mengambil handuk miliknya. Sementara Bayu, ia hanya bisa saling beradu pandang dengan Sisi sambil menghela nafas panjang.


“Kenapa lagi dia?” tanya Bayu.


“Entahlah, semenjak Mike pulang, ekspresi wajahnya terlihat sangat kusut,” jawab Sisi pelan.


“Pasti soal Ghea lagi,” ujar Bayu yang langsung diberi anggukan oleh Sisi.


Sementara itu, Angel tampak sedang menemani sahabatnya yang baru saja kembali ke rumahnya sejak kepulangannya ke Indonesia. Sambil membantu Nina melipat pakaian miliknya, Angel tampak sedikit memikirkan gelang kunci kesayangannya yang hilang tadi siang di bandara.


“Nin,” panggil Angel pelan.


“Hm?”


“Gue mau cari rumah baru, Nin,” tutur Angel tiba-tiba.


“Rumah baru? Untuk apa? Bukannya, rumah lo yang elo tempati itu baik-baik aja, yah?” tanya Nina sambil menatap wajah sahabatnya itu bingung.


“Iya, sih. Tapi, gue lagi cari suasana baru aja. Gue mau cari rumah yang sedikit lebih besar.”


“Kenapa? Emangnya, lo udah gak betah tinggal di rumah lo yang sekarang?”


Angel menggeleng. Ia mengambil ponsel miliknya dan memperlihatkan sebuah pesan text kepada sahabatnya itu.


“Apa, nih?”


“Sms dari tempat kerja gue yang baru. Sekarang, gue sudah resmi bekerja di perusahaan JJ.Entertaiment.”


“JJ. Entertaiment? Perusahaan besar semacam produksi house gitu, kan? Yang menaungi artis-artis papan atas?” tanya Nina yang terlihat sangat antusias sekali.


Angel mengangguk dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang sedang melipat pakaian.


“Semenjak kedua orang tua gue meninggal beberapa tahun yang lalu. Hidup gue sekarang serba berkecukupan. Gue pengen hidup yang layak, yang mampu membiayai hidup gue untuk masa depan nanti. Untungnya, gue berhasil bekerja di perusahaan besar itu. Seleksi kerja di sana itu cukup berat, Nin. Dan, beruntungnya gue berhasil bekerja di sana dengan ujian yang cukup rumit dan sangatlah sulit.”


Nina memeluk sahabatnya begitu erat. Sejak Smp, mereka sudah menjadi teman akrab. Nina juga tahu perjuangan Angel begitu kedua orang tuanya meninggal. Bekerja banting tulang demi melanjutkan sekolahnya. Bahkan, Angel rela tidak melanjutkan kuliahnya hanya untuk bekerja demi kelangsungan hidupnya kelak.


Nina adalah salah satu saksi mata kehidupan Angel yang begitu sulit. Hirup pikuk kehidupan Angel yang sangatlah sulit, Nina tahu betul perjuangan sahabatnya itu seperti apa. Maka dari itu, ia selalu berada di samping Angel dan selalu memberinya support.


“Gue di kontrak selama 3 tahun kerja di sana, Nin. Setelah resmi menjadi karyawan di perusahaan besar itu, gue langsung mendapatkan tips. Dan, itu lumayan banget untuk tambah-tambah uang muka rumah. Gue juga ada rencana untuk menjual rumah gue yang sekarang untuk tambah-tambah rincian biayanya. Makanya, gue langsung cari rumah baru.”


“Memangnya, pekerjaan lo di perusahaan itu seperti apa? Terus, bisnis pakaian yang elo jahit sendiri itu gimana nasibnya?” tanya Nina penasaran.


“Gue akan bekerja sebagai asisten make up artis di sana. Gue juga direkomendasikan untuk menjadi perancang busana di perusahaan tersebut. Masalah bisnis, gue bisa kerjakan bersamaan dengan pekerjaan gue di JJ. Entertaiment.


“Jadi, doain gue yah, Nin. Untuk bekerja di perusahaan besar seperti JJ. Entertaiment itu adalah impian gue dari dulu,” ungkapnya dengan mata yang terlihat berbinar-binar.


Nina tersenyum riang dan memeluk sahabatnya itu begitu erat.


“Selamat ya, Ngel. Akhirnya, elo punya pekerjaan tetap juga. Gue ikut seneng mendengarnya. Akhirnya, impian sahabat gue untuk bekerja di perusahaan tersebut terwujud juga.”


“Iya, Nin, makasih banyak. Oh iya, gue juga mau bilang sesuatu sama lo,” katanya yang langsung melepaskan pelukan sahabatnya itu dan menatap wajahnya dengan tajam.


“Lusa, gue harus ke Jerman. Gue dapet kepercayaan dari bos gue untuk membantu crew yang sedang menjalankan syuting film di sana. Gue juga harus membantu mereka dalam proses pembuatan film terbaru mereka. ”


“Jerman?” teriak Nina dengan mata membelalak. “Itu kan, impian lo banget, Ngel. Sejak kecil elo itu pengen banget ke sana. Fashion dan tempat-tempat di sana kan, keren banget!” seru Nina yang tampak antusias sekali.


Angel mengangguk dan tersenyum lebar sambil menggenggam kedua tangan Nina dengan begitu erat.


“Walau bahasa Inggris gue pas-passan, gue happy banget bisa pergi ke sana. Andai aja lo bisa ikut ke sana, Nin. Pergi ke Jerman kan, impian kita berdua sejak kecil.”

__ADS_1


Nina tersenyum dan membalas menggenggam kedua tangan Angel. “Suatu hari nanti, kita pasti bisa pergi ke sana sama-sama. Jadi, elo mesti cerita sama gue bagaimana dan seperti apa tempat-tempat di sana, oke?”


Angel mengangguk dan kembali memeluk Nina. Nina pun tersenyum dan membalas pelukan hangat sahabatnya itu.


__ADS_2