
Setelah hari cukup sore, Lia dan Arka memutus kan untuk pulang. Arka menawar kan agar ia mengantar kan Lia pulang.
Lia menerima tawaran dari Arka, supir nya pun melaju kan mobil mereka dan menuju rumah Lia.
Rumah Lia terlihat sederhana, tapi tertata dengan rapi dan indah. Karna mama yang mengurus rumah nya dengan tangan nya sendiri.
Setelah Lia sampai, Arka minta izin untuk langsung pulang saja. Karna ia harus pulang dengan segera.
Lia paham, karna hari sangat sore. Tapi yang jadi masalah bagi Arka bukan hari yang sangat sore. Melain kan, jantung nya yang terasa sakit tiba-tiba saja.
Belum beberapa jauh dari rumah Lia, Arka sudah sangat kesakitan. Ia memegang dada nya dengan kuat, rasa sakit nya seakaan semakin lama semakin memuncak di jantung nya.
"Mas Arka kenapa mas, apa sakit nya kambuh." kata Roni.
"Cepat pulang kerumah Roni, aku gak kuat lagi ayo." kata Arka seakaan tidak ada suara.
Roni melaju kan mobil nya dengan sangat cepat, berharap Arka bisa sampai kerumah dengan segera mungkin.
"Apa obat mas Arka habis mas." kata Roni.
__ADS_1
"Obat nya di rumah,.... Sakit sekali." kata Arka.
Arka terus merintih kesakitan, sambil memegang dada nya. Sedang kan Roni berusaha sebisa mungkin mereka bisa sampai di rumah dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, mobil pun mencapai gerbang rumah Arka. Satpam membuka pintu gerbang dengan cepat. Mobil pun masuk kerumah dengan sangat cepat nya.
Di rumah masih ada Intan yang bertamu, belum pulang hingga hari sangat sore.
"Nyonya.... " kata Roni berteriak.
"Ada apa Roni, kamu berteriak begitu." kata mama sambil keluar.
"Ada apa ini Ka.?" kata mama sangat cemas.
"Apa kamu gak minum obat lagi hari ini. Apa kamu lupa minum obat." kata mama sambil membantu Roni membawa Arka masuk kedalam kamar Arka.
Intan mengikuti dari belakang dengan sangat panik nya. Tak lama mereka sampai di kamar Arka, kamar nya banyak terdapat lukisan tangan Lia yang indah.
Mama menelfon dokter, dokter pribadi yang di tugas kan untuk merawat Arka. Sedang kan Arka sangat menyedih kan, ia meronta kesakitan. Saat sakit nya datang, ia bukan lelaki tampan yang cool lagi.
__ADS_1
Intan sangat sedih, ia menitik kan air mata jika melihat Arka merintih kesakitan. Sampai sekarang, tak ada jantung yang cocok untuk nya. Jika pun ada mana ada orang yang mau memberi kan jantung nya.
Walau pun mereka orang kaya, tapi harta bukan lah segala nya. Tak ada guna nya harta jika kita sakit. Tak kan enak punya harta jika jiwa kita tersiksa.
Itu lah yang Arka rasa kan, hidup dalam kemewahaan keluarga. Tapi, ia tidak bisa merasa kan nya. Karna sewaktu-waktu tanpa di undang dan tanpa bisa di cegah. Jantung nya akan menghukum nya dengan sendiri nya.
"Arka, bertahan nak... Mama tidak ingin kehilangan kamu." kata mama.
"Sabar tante, Arka pasti baik-baik saja." kata Intan menguat kan.
Tak lama dokter pun datang, bersamaan dengan papa yang pulang dari kantor.
Dokter masuk lalu memeriksa keadaan Arka, dokter memberi kan satu suntikan yang membuat Arka tenang. Karna jika sudah kambuh, obat nya tidak akan mempan lagi bagi nya.
Hanya obat pereda rasa sakit yang mampu membuat ia tenang. Tapi itu juga tidak akan lama, ada kala nya obat pereda rasa sakit itu hanya bertahan beberapa jam saja.
Bagai perut nya sangat banyak terdapat tanda jarum suntik. Sangking banyak nya ia menerima suntikan obat pereda rasa sakit.
Suntikan itu sudah tidak berarti lagi bagi nya. Karna setiap sakit nya tidak mempan obat, maka ia akan di suntik.
__ADS_1
Mama memeluk papa, karna mama sangat takut Arka kenapa-napa.