Pangeran Lemah Ku

Pangeran Lemah Ku
39


__ADS_3

Esy tidak bertanya apa pun lagi pada Lia, dia tahu jika Lia sedang sangat sedih sekarang ini.


"Ayo Lia, aku antar kamu sekarang juga." kata Esy.


"Gak usah, pakai mobil aku aja. Kamu bisa menemani Lia di belakang biar aku yang nyetir." kata Eza.


"Gak usah, kalian masuk kuliah saja. Biar aku naik taksi." kata Lia.


"Tidak perlu Lia, biar kami ikut bersama mu. Kita bisa cepat sampai jika pakai mobil aku kan, nanti jika nunggu taksi akan lama." kata Eza.


"Tapi kalian harus kuliah, kan dosen ingin semua nya hadir." kata Lia.


"Tidak jadi masalah Lia, kuliah bisa kita kejar nanti. Sahabat yang paling penting untuk saat ini." kata Eza.


"Iya Lia, Eza benar. Kita bisa tanya kan pada yang lain apa yang dosen sampai kan. Masalah sahabat adalah yang terpenting." kata Esy.


Tumben banget untuk hal sahabat, Eza dan Esy kompak. Biasa nya akan berdebat untuk hak yang terkecil sekali pun. Tapi masalah Lia, tidak ada kata perdebatan bagi mereka berdua.


Akhir nya, Lia pun menuruti apa yang teman nya kata kan. Lia bersama dengan dua sahabat nya meninggal kan kampus menuju kerumah sakit.

__ADS_1


Mobil melaju secepat yang Eza bisa bawa kan. Esy dan Lia duduk berdua di belakang, Eza sendiri sambil nyetir mobil di depan.


"Berdoa saja Lia, semoga Arka baik-baik saja." kata Esy pada Lia.


"Iya Lia, kamu harus pikir positif ya. Jangan sedih dan jangan mikir yang macam-macam." kata Eza.


Lia hanya mengangguk kan kepala, mendengar kan apa yang sahabat nya kata kan.


Beberapa saat kemudian, mobil Eza pun sampai di rumah sakit. Lia turun secepat mungkin, di susul Esy dan Eza. Lia berjalan secepat mungkin menuju kamar Arka.


Sampai di sana, mama papa Arka sedang gelisah di depan pintu kamar Arka. Sedang Intan terlihat sedih sekali.


"Lia, dokter sedang berusaha di dalam. Kondisi terakhir nya kritis Lia." kata Intan.


Mama Arka tiba-tiba memeluk Lia, mama menangis bersama Lia saat saling berpelukan. Tak ada kata yang terucap, hanya suara tangisan yang terdengar.


Mereka menanti kan dokter keluar dari kamar Arka, mereka ingin sekali mendengar kan kabar yang baik dari dokter.


Saat pelukan mama Arka telah lepas dari Lia, Intan memegang tangan Lia.

__ADS_1


"Lia, bisa kah aku bicara sebentar dengan mu. Ada hal yang ingin aku bicara kan." kata Intan.


"Iya." kata Lia.


Lia mengikuti Intan dari belakang, ternyata Intan menuju taman yang tak jauh dari kamar rawat Arka.


"Lia, tahu kah kamu sebenar nya aku mencintai Arka dari dulu. Dari sejak kami sama-sama remaja dan aku kenal apa itu cinta." kata Intan memulai pembicaraan saat mereka sudah sampai di taman.


Lia kaget dengan apa yang Intan kata kan. Selama ini dia tidak tahu jika Intan mencintai Arka. Karna, Intan tidak pernah terlihat punya perasaan pada Arka, jika di depan Lia. Maka nya Lia tidak bisa menebak, jika Intan cinta sama Arka.


"Tidak, aku tidak tahu jika kamu mencintai Arka. Kamu tidak menunjuk kan bahwa kamu cinta sama Arka. Apa kah Arka tahu kamu cinta pada nya, Intan. Aku tidak keberatan jika kamu bersama Arka." kata Lia dengan rasa bersalah nya.


"Tidak Lia, aku tidak ingin bersama Arka. Karna Arka tidak punya perasaan yang sama pada ku. Arka tahu aku cinta pada nya, karna aku pernah mengata kan apa yang aku rasa kan pada nya. Tapi sayang nya, Arka hanya punya rasa sebagai teman pada ku." kata Intan.


Mengata kan hal itu, air mata nya jatuh. Mengalir di pipi nya, tanpa Lia sadari, ternyata selama ini orang yang selalu membantu hubungan Arka dan Lia adalah orang yang mencintai Arka itu sendiri.


"Tapi kenapa kamu malah membantu aku dekat sama Arka. Padahal kamu sendiri cinta sama dia, Intan." kata Lia tak percaya.


"Rasa cinta itu akan selalu ada Lia, tidak akan terkikis hanya karna orang itu tidak bersama kita. Aku akan merasa bahagia, saat Arka bahagia bersama orang yang ia cintai. Dan itu adalah kamu." kata Intan.

__ADS_1


__ADS_2