
Mereka bertiga terus saja ngobrol bersama, saling bercanda dan tertawa bersama. Lia baru tahu satu hal, bahwa Eza adalah kakak tiri dari Intan yang berteman dengan Arka.
Pantas saja, ada beberapa yang agak mirip di wajah Eza dan Intan. Terutama pada mata Eza, mata nya sama persis saat melihat mata Intan.
Tapi sayang nya, Eza tak di anggap kakak oleh Intan. Alasan nya sederhana, Intan tak terima jika berbagi papa dengan Eza. Walau pun papa itu jelas papa nya Eza.
Setelah hari mulai sore, mereka bertiga memutus kan untuk pulang. Karna mata kuliah nya sudah tidak ada lagi.
"Lia, apa kamu mau pulang bareng aku. Aku bisa antar kamu pulang." kata Eza secara tak langsung nenawar kan Lia untuk pulang bersama.
"Tidak usah Eza, aku bisa pulang bareng Esy aja." kata Lia.
"Iya... Lia pulang sama aku mas Eza, lain kali aja ya menawar kan pulang bareng nya. Jika aku gak bawa mobil." kata Esy.
Terlihat jelas di wajah Esy, bahwa ia suka sama Eza. Hanya saja, Eza tidak menyadari nya. Bahkan mungkin Eza tidak mengangap Esy ada. Karna saat mereka bersama, Eza hanya bicara pada Lia.
"Baik lah Lia, lain kali aku tunggu kamu pulang bareng aku." kata Eza sambil berjalan pergi kearah mobil nya.
"Ayo Sy kita pulang, hari udah sore nih." kata Lia.
Esy tidak menjawab, hanya berjalan menuju mobil nya saja. Lia merasa aneh dengan sikap Esy yang tiba-tiba diam. Padahal tadi kan sibuk banget tuh anak.
__ADS_1
Dari mobil berjalan, hingga sampai di depan rumah Lia. Esy tidak ada sepatah kata pun mengajak Lia bicara. Entah apa yang ada dalam pikiran Esy saat itu. Tapi yang pasti, ada yang salah dengan hati nya.
....
"Assalamualaikum ma." kata Lia pada mama nya.
"Walaikumsalam anak mama udah pulang ya." kata mama.
"Iya ma, mama lagi apa sih. Kok serius banget di situ." kata Lia saat melihat mama fokus pada sesuatu di depan tv ruang keluarga.
"Mama lagi merangkai bunga Lia, ada yang minta di rangkai kan bunga tadi siang sama mama." kata mama.
"Oh ya,,,, ada yang minat sama bunga yang mama rangkai dong." kata Lia.
Lia tersenyum, apa hubungan lagi sakit dengan udara segar yang di hasil kan dari bunga yang mama nya rangaki. Ada-ada saja manusia, berpikir nya macam-macam saja. Kata Lia dalam hati nya.
"Ya udah ma, Lia kekamar dulu ya. Mau ganti baju dulu deh, capek juga." kata Lia.
"Iya,,,, selesai ganti baju makan ya nak. Makanan udah mama siap kan di meja makan." kata mama.
"Baik ma..." kata Lia sambil berjalan menuju kamar nya.
__ADS_1
.....
Esy baru saja sampai kerumah nya, terlihat wajah gusar nya yang nampak jelas sekali. Ia masih ingat semua kejadian di kampus. Bagai mana ramah nya Eza pada Lia, dan bagai mana perhatian nya Eza pada Lia.
Bukan yang pertama kali sih, hal yang seperti ini sudah sering ia lalui. Bahkan menjadi bumbu di antara pertemanan nya dengan Lia.
Mama melihat Esy yang baru pulang dengan wajah nya yang tidak enak di lihat. Esy duduk di sofa ruang tamu rumah nya. Mama pun menghampiri Esy, dan duduk di samping anak nya.
"Ada apa sih Esy, kok muka kamu jelek banget saat pulang kerumah." kata mama.
"Gak ada apa-apa ma, hanya ada sedikit rasa yang bikin hati kesal aja." kata Esy.
"Jangan terlalu di pikir kan nak, setiap manusia pasti punya masalah dalam hidup nya." kata mama memberi semangat.
Esy tidak menjawab apa yang mama nya kata kan. Rasa nya ia ingin tidak memikir kan apa yang menjadi masalah dalam hati nya. Tapi tidak bisa, walau bagai mana pun. Masalah itu datang sendiri saat ia ingin melupa kan nya.
"Bagai mana kabar Lia nak, sudah lama anak itu tidak kerumah kita kan." kata mama.
"Dia baik-baik aja kok ma. Bahkan sangat baik malah." kata Esy.
"Esy mau kekamar dulu ma, Esy capek banget." kata Esy lagi.
__ADS_1
Belum juga mama menjawab apa yang Esy kata kan. Esy sudah main pergi aja meninggal kan mama nya di sofa ruang tamu.