Pangeran Lemah Ku

Pangeran Lemah Ku
38


__ADS_3

Hari ini Lia kuliah, kuliah seperti biasa nya. Sebenar nya, Lia malas untuk kuliah. Karna, tadi malam Arka kambuh lagi sakit nya. Mama Arka mengata kan itu pada Lia, sehingga Lia harus tidur di rumah sakit tadi malam.


Tapi pagi nya, Arka memaksa untuk Lia pergi kekampus. Karna pesan Esy, dosen ingin semua datang hari ini kan.


"Lia, bagai mana kondisi pangeran lemah mu saat ini."kata Esy pada Lia, saat mereka duduk di taman.


"Kondisi Arka semakin memburuk saja Sy, semakin hari semakin lemah saja kata dokter." kata Lia.


"Kamu yang sabar ya Lia, banyak berdoa, karna doa bisa membuat mu kuat." kata Esy.


"Iya, kamu benar Esy. Tak ada yang bisa aku laku kan saat ini selain berdoa saja." kata Lia.


"Kalian kok ngerumpi sih pagi-pagi begini." kata Eza yang tiba-tiba saja datang lalu bicara.


"Eh... Ngerumpi apaan, kamu gak lihat kita lagi ngomong baik-baik malah di bilang ngerumpi. Dasar juling kamu Eza." kata Esy.


"Wah... Main kasar, bilang aku juling lagi." kata Eza.


"Memang iya, kamu juling. Gak lihat apa yang lagi orang laku kan. Main ngomong aja, gak biamillah lagi." kata Esy.


"Bismillah, kalian ngerumpi ya pagi-pagi gini." kata Eza.


"Ya ampun dasar nyebelain." kata Esy sambil memukul Eza.

__ADS_1


"Lah salah aku di mana, kata nya harus pakai bismillah ya aku pakai bismillah lah. Kan gak ada yang salah." kata Eza.


"Kamu.... " kata Esy. Kata-kata nya di tahan Lia. Lia yang dari tadi jadi pendengar akhir nya gak sabar juga lama-lama, dengan sikap dua teman nya ini. Tiap kali bertemu, bumbu nya adalah debat dan selalu bertengkar.


"Udah deh ya, kalian berdua kok gak bisa damai dari dulu sampai sekarang. Masa berdebat terus sih." kata Lia.


"Maaf Lia, aku kan gak mulai masalah. Ini semua kan salah nya Eza." kata Esy.


"Lah... Kok malah aku yang kamu salah kan sih. Kamu yang bikin rumit kenapa aku yang kena." kata Eza tak terima.


Itu sudah biasa, masalah debat nya pasti akan muncul lagi saat mereka saling menyalah kan satu sama lain.


"Emang kamu yang salah kok, kenapa kamu gak ngaku salah aja sih." kata Esy.


Pada akhir nya, kedua nya akan diam jika sudah Lia kata kan seperti itu. Walau bagai mana pun, di antara mereka berdua. Lia adalah orang tengah yang mampu menjadi pemisah di tengah debat hangat kedua sahabat nya.


Saat mereka sedang terdiam, tiba-tiba ponsel Lia berbunyi. Ada seseorang yang menelfon nya.


Lia melihat di layar ponsek nya, tidak ada nama sama sekali. Nomer baru yang menelfon nya.


"Siapa Lia, kenapa gak di angkat." kata Esy.


"Ngak tahu siapa, nomor baru deh yang nelfon ini." kata Lia.

__ADS_1


"Angkat aja Lia, mana tahu ada perlu nya kan." kata Eza pula.


Lia pun mengakat telfon itu, ia penasaran siapa yang sedang menelfon nya ini.


"Hallo... " kata Lia.


"Hallo Lia, kamu di mana sekarang." kata suara perempuan.


"Aku di kampus, kenapa ya. Ini siapa sih?" kata Lia.


"Ini aku Intan, Lia. Sekarang Arka lagi kritis." kata Intan. Ternyata yang menelfon nya itu adalah Intan.


Lia sangat kaget saat mendengar kan Intan mengata kan tentang Arka yang kritis. Dia terdiam, nembuat sahabat nya bertanya-tanya apa yang terjadi.


"Lia, kamu masih bisa dengar aku kan. Apa kah kamu bisa kesini sekarang Lia." kata Intan.


"Iya, aku dengar kamu. Aku akan kesana sekarang juga." kata Lia.


Lia menutup telfon nya, mata Lia sekarang tidak bisa menahan air mata nya untuk jatuh, mengalir di pipi nya.


"Ada apa Lia, siapa yang menelfon mu itu. Apa yang terjadi." kata Esy bertanya bertubi-tubi.


"Aku mau kerumah sakit sekarang Esy, Arka sedang kritis." kata Lia.

__ADS_1


__ADS_2