
Sudah tiga hari berlalu, tapi Arka belum juga masuk. Hari ini hanya Intan yang terlihat di kelas, Arka tidak ada di sana.
Lia memberani kan diri nya masuk kedalam kelas Arka, untuk menemui Intan dan bertanya di mana Arka sekarang.
"Intan, maaf kan aku menggangu waktu mu. Aku ingin hanya ingin menanya kan di mana Arka pada mu." kata Lia dengan hati-hati.
"Emang penting banget ya lho tahu di mana sahabat gue sekarang." kata Intan sinis.
"Aku hanya ingin tahu aja Intan, karna Arka sudah tiga hari gak ada kabar nya." kata Lia.
"Bukan urusan lho deh kayak nya Lia, mau kemana Arka. Dan lho gak usah sok kehilangan gitu juga kali." kata Intan.
"Oooo... Gue tahu Lia, lho ingin makan gratis di cafe ya. Karna gak ada Arka, jadi gak bisa makan di cafe gratis lagi kan." kata Intan sembarangan.
"Mulut kamu bicara seenak nya aja ya Intan, aku hanya ingin tahu Arka di mana tapi kamu malah bicara yang menyakit kan." kata Lia.
"Intan, bicara kamu di jaga ya. Dia kan cuma bertanya, ngapain sewot gitu sih." kata Eza tiba-tiba saja datang.
"Eza..... "Kata Lia.
__ADS_1
"Oh,,, sekarang kamu belain gadis ini ya Za, cocok sih kalian. Sama-sama perebut milik orang." kata Intan pada Eza.
Lia tidak mengerti apa yang Intan kata kan. Tapi, Lia tak menyangka jika Eza kenal dengan Intan. Dan kayak nya ada hubungan di antara Intan dan Eza.
"Ayo Lia, gak perlu kamu tanya sama orang yang kayak dia ini. Dia gak akan jawab juga." kata Eza sambil membawa Lia pergi.
Eza membawa Lia untuk duduk di taman. Terlihat Lia ingin Eza menjelas kan apa sebenar nya terjadi.
"Kamu pasti ingin tahu kan apa hubungan aku dan Intan. Dan sampai-sampai Intan bilang aku dan kamu sama-sama perebut milik orang." kata Eza.
Lia mengangguk, menjawab apa yang Eza kata kan. Ia ingin sekali tahu apa yang terjadi antara Intan dan Eza sebenar nya.
"Aku tidak menyalah kan mama Intan sih, itu salah papa yang tidak jujur karna memilih menikah dengan anak orang kaya. Tapi, itu semua terungkap setelah kami sama-sama dewasa. Cerita nya sangat panjang, jika ingin aku cerita kan." kata Eza sedih.
"Sudah lah Za, tidak perlu membangkit kan apa yang telah menjadi kan rasa sakit dalan hati. Jalani saja apa yang ada, walau tidak semanis yang kita ingin kan." kata Lia.
"Kamu benar Lia, tidak perlu membangkit kan luka lama kan." kata Eza.
"Lia.... Kamu di sini ternyata ya. Aku di tinggal gitu aja." kata Esy yang dari tadi mencari nya.
__ADS_1
"Maaf Esy, aku ada perlu tadi. Dan baru saja kesini." kata Lia.
"Eh... Ada mas tampan juga di sini. Boleh ganbung dong ya." kata Esy saat melihat Eza.
"Boleh... Gabung aja lah gak ada yang melarang kok." kata Eza.
"Lia, apa Arka gak masuk juga hari ini." kata Esy bertanya masalah Arka.
"Gak Esy, Arka juga tidak ada di kelas saat ini. Aku juga gak tahu kemana anak itu." kata Lia terlihat sedih.
"Kalian dekat banget ya sama Arka itu, sampai di cariin segala setiap hari." kata Eza.
"Iya jelas dong kan....... Auk... Sakit." kata Esy tiba-tiba.
Kaki Esy di injak oleh Lia, agar Esy tidak main sebut aja apa yang akan ia mau kata kan. Karna Lia tahu, Esy orang nya main lepas aja jika bicara.
"Lia... Kamu main injak aja kaki ku." kata Esy.
"Maaf Sy, gak sengaja. Kamu sih di situ kaki nya." kata Lia.
__ADS_1