
Tak lama mama datang, mama membawa lukisan yang Arka minta. Lukisan wajah Lia, yang lengkap dengan bingkai nya sekalian.
"Ini lukisan yang kamu ingin kan nak, kamu gak ingin orang nya yang datang sekalian." kata mama.
Arka tersenyum, ia menerima lukisan yang mama nya beri kan pada nya.
"Terima kasih mama, ngak perlu datang kan orang nya. Cukup lukisan nya saja yang menemani ku." kata Arka.
Mama hanya diam, tak bisa menjawab apa pun yang di kata kan anak nya. Pemikiran Arka memang sangat berbeda dengan mama mau pun Intan.
Arka tersenyum bahagia saat menatap lukisan yang ada di tangan nya saat ini. Lukisan Lia yang sedang tersenyum manis, lukisaan itu seakan nyata bagi Arka.
Andai aku orang normal, yang tidak sakit-sakitan Lia. Mungkin secepat nya aku akan menjadi kan mu sebagai istri ku. Kata Arka dalam hati nya.
Memikir kan itu, air mata Arka jatuh perlahan di sudut mata nya. Buliran bening itu, terlihat jelas di mata Intan. Saat melihat air mata Arka, rasa nya dada nya sesak.
"Tante, Intan mau pamit dulu. Apa kah tante gak papa jika Intan tinggal sendiri untuk menemani Arka." kata Intan.
__ADS_1
"Gak papa Intan, nanti juga papa Arka akan datang menemani tante." kata mama.
"Baik lah jika begitu, Intan permisi dulu tante." kata Intan.
"Iya, hati-hati kamu di jalan nanti ya. Terima kasih banyak kamu udah selalu ada untuk Arka." kata mama.
Intan tersenyum, ia pun berjalan keluar dari kamar Arka. Ia meninggal kan rumah sakit itu, menuju taman tak jauh dari rumah sakit.
Di sana, ia tumpah kan semua kesedihan nya. Di bangku taman yang sepi saat ini. Apa yang bisa di laku kan Intan, dia sendiri juga tidak tahu.
.....
Terlihat bagi nya, senyum dan canda tawa Arka yang selalu membuat nya merasa hari-hari nya penuh warna.
"Lia, jangan melamun dong." kata Esy.
Esy dan Eza baru datang dari kantin kampus. Lia tidak ingin ikut makan di kampus tadi, dan Esy juga sengaja memberi kan waktu untuk Lia sendiri. Karna Eza ingin menemani Lia, Esy mencegah nya.
__ADS_1
"Aku tidak melamun kok Sy, hanya saja aku sedang sendiri. Mau bicara sama siapa, saat sendiri." kata Lia.
"Jangan sedih Lia, kamu gak cocok sedih tahu gak. Kamu itu cocok nya ceria." kata Eza.
"Emang sedih itu pakai cocok nya ya Za." kata Esy pada Eza.
"Ya iya lah pakai cocok, jika gak cocok mana bagus nya." kata Eza.
"Kamu bilang ini baju ya, pakai cocok atau ngak nya." kata Esy.
"Udah... Kalian kok berdebat terus saat bersama. Bagai mana jika kalian satu rumah nanti." kata Lia.
"Jika satu rumah kan lain cerita ya mas Eza." kata Esy.
"Mas... Mas... Kamu pikir aku tukang bakso apa di panggil mas-mas. Kan aku udah bilang panggil nama aja lebih enak." kata Eza.
"Satu lagi, aku gak mau satu rumah sama Esy. Esy makan nya banyak, nanti aku bisa tekor lho, jika satu rumah." kata Eza.
__ADS_1
"Dasar Eza pelit, awas kamu jika ungkin-ungkin aku makan nya banyak. Aku masukin bak mandi nanti." kata Esy.
Perdebatan Esy dan Eza sukses bikin Lia melupa kan masalah nya untuk sementara waktu. Karna, Eza dan Esy aka selalu berebut atau pun saling menyalah kan dalam mereka berdebat. Itu akan terlihat sangat lucu dan bisa bikin tertawa.