
Tadi malam, Intan gak bisa tidur, karna ia memikir kan Arka. Soal nya, saat ia datang kerumah sakit. Arka masih saya menatap wajah Lia yang ada di lukisan itu.
Dan sekarang, Intan sudah berada di kampus. Intan menunggu Lia, tapi belum datang juga. Biasa nya Lia datang agak pagi, tapi hari ini sudah agak siang. Lia belum juga menampak kan batang hidung nya.
Tak lama, Intan melihat Eza dan Esy berjalan kearah taman. Intan menghampiri Esy untuk menanya kan di mana Lia.
"Esy tunggu." kata Intan.
Esy menghenti kan langkah saat suara Intan menyentuh telingga nya. Esy menoleh kebelakang, dan melihat suara yang ia kenali memanggil nya.
"Esy tunggu sebentar, aku ingin tahu di mana Lia sekarang." kata Intan.
"Untuk apa kamu cari Lia, mau sakitin hati nya lagi." kata Esy.
"Aku ada perlu sama Lia, dan gak ada urusan nya sama kamu. Kamu yang gak tahu apa-apa jangan banyak bicara Esy." kata Intan naik darah.
"Dasar wanita gak tahu malu kamu ya. Jangan cari Lia... " kata-kata Esy tertahan oleh Eza.
__ADS_1
"Esy sudah, jangan bikin ribut saat ini. Bilang saja apa yang ingin Intan ketahuai, kita kan emang gak tahu apa-apa tentang masalah mereka." kata Eza.
"Eza, kamu kok malah belain Intan sih. Aku marah sama kamu, jika kamu belain orang yang nyakitin hati Lia." kata Esy marah sambil berjalan pergi.
Eza tidak tahu mau bilang apa, Esy malah salah paham sama Eza.
"Lia gak kekampus hari ini, aku juga gak tahu apa alasan nya." kata Eza pada Intan.
Intan hanya diam saja, apa yang terjadi beberapa hari ini bikin dia dan Arka jadi bahan pembicaraan seisi kampus.
"Eza, kamu juga mikir yang sama ya sama apa yang semua pikir kan pada aku dan Arka." kata Intan pada Eza, saat Eza ingin berlalu begitu saja setelah mengata kan di mana Lia.
"Tidak semua yang kamu ketahui sama dengan yang sebenar nya Eza. Kalian semua gak tahu apa-apa tentang kebenaran kejadian kemarin." kata Intan.
"Intan, semua yang ada di sana mendengar kan apa yang kalian bicara kan. Dan kamu mau bilang, apa yang terjadi gak sama dengan apa yang sebenar nya." kata Eza.
Intan tak bisa menjawab apa pun yang Eza kata kan. Kenyataan nya memang lah berbeda, tapi demi teman nya. Ia korban kan harga diri dan kehormatan nya di depan semua orang.
__ADS_1
"Jujur Intan, aku sangat kecewa sama kamu. Dulu saat Lia dan Arka pertama jadian, kamu adalah tameng pelindung pertama untuk hubungan mereka. Tapi saat ini, kamu adalah penghancur hubungan mereka." kata Eza.
Rasa nya ingin sekali Intan bilang pada semua orang. Jika dia dan Arka tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi rasa itu di tahan nya, ia ingat permintaan Arka. Dan wajah Arka yang terbaring lemah di rumah sakit.
Eza pergi meninggal kan Intan di sana, Intan hanya mematung tanpa sepatah kata pun. Siapa yang melihat nya jelas saja merasa jijik pada nya. Semua teman kampus nya, akan berbisik-bisik saat ia lewat di antara mereka yang duduk-duduk, baik di taman atau di mana saja.
Beberapa saat kemudian, karna malas berada di kampus. Intan memutus kan untuk kembali kerumah sakit, dan melihat keadaan Arka di rumah sakit.
"Kita kerumah sakit aja pak." kata Intan pada supir nya setelah ia duduk di dalam mobil.
"Tapi non, kuliah nya non gimana. Dan jika ibuk bertanya pada saya apa yang akan saya jawab." kata supir itu.
"Gak perlu jawab apa pun pak, bilang saja sama mama. Tanya kan pada non Intan apa yang non laku kan. Bilang begitu saja pak." kata Intan.
"Tapi non.... " kata supir itu.
"Mau jalan atau saya panggil taksi online aja pak." kata Intan.
__ADS_1
"Baik non, kita jalan sekarang." kata supir itu takut.
Akhir nya, supir itu pun menjalan kan mobil nya. Meninggal kan kampus, menuju kerumah sakit.