
Eza sedang berada di kamar Intan, kamar adik tiri nya. Dia membuka kertas yang papa berikan pada nya tadi. Kertas yang Intan tinggal kan sebelum kecelakaan itu terjadi.
Di kertas itu terdapat pesan singkat dari Intan, tulisan tangan Intan yang mengata kan sesuatu. Jika aku mati, jantung ini untuk Arka. Itu pesan singkat yang ada dalam kertas kusut yang papa berikan.
Saat membaca pesan itu, bagai di sambar petir di siang hari. Eza terpaku kaget, dia sangat tidak menyangka. Jika donor jantung yang Arka dapat kan adalah jantung Intan.
"Tidak.... Ini tidak mungkin, kamu tidak mungkin melaku kan hal bodoh kan Intan." kata Eza bicara sendiri.
Eza tidak percaya apa yang ia baca, apa mungkin Intan sebenar nya tidak kecelakaan. Tapi bunuh diri, karna ingin menyelamat kan Arka.
Eza terduduk di lantai samping tempat tidur Intan. Eza membenam kan wajah nya, di samping kasur Intan.
"Aku tidak percaya apa yang kamu laku kan, kamu tidak bunuh diri kan Intan, kamu tidak bodoh kan." kata Eza.
Untuk menguat kan apa yang Eza pikir kan, Eza memutus kan untuk mencari tahu sendiri di dalam kamar Intan.
__ADS_1
Dalam kamar Intan pasti ada banyak bukti yang akan menguat kan apa yang Eza pikir kan. Kan papa juga bilang, jika ingin tahu lebih jelas cari di kamar Intan.
Eza bangun, lalu menghampiri meja belajar Intan. Yang letak nya tak jauh dari jendela kamar. Eza duduk di kursi itu, membuka laci tempat buku-buku Intan tertata rapi.
Eza menemukan sebuah buku diary, buku diary itu bersampul kan foto Arka dan Intan.
Eza membuka buku itu, lalu membaca nya pelan-pelan kata demi kata.
Tak ada yang aneh dari setiap kata dalam buku diary itu, dari lembaran buku pertama hingga penengah buku itu.
Tapi, saat beberapa lembar lewat dari tengah-tengah buku itu. Mulai terlihat coretan-coretan sedih di sana.
Eza semakin tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran Intan saat menulis kata-kata itu.
Eza pun pindah kehalaman berikut nya, Eza melihat di sana ada foto Arka dan Intan sedang tertawa bahagia. Foto dengan seragam smp yang masih mekekat di badan mereka.
__ADS_1
Eza pun membaca tulisan di halaman terakhir itu dengan sangat teliti.
*Dear diary, keadaan Arka semakin memburuk dan dalam kondisi kritis. Hanya ada satu cara untuk menyelamat kan Arka dari kritis nya. Yaitu, dengan mengganti kan jantung nya dengan jantung ku.
Arka akan bahagia bersama Lia, jika aku korban kan hidup ini untuk menyelamat kan Arka. Maka setidak nya, aku akan bisa bersama Arka. Karna jantung ini akan menyatu dengan Arka sealam Arka hidup*.
"Tidak..... Itu bodoh nama nya. Itu bukan cinta." kata Eza bicara sendiri. Lalu melanjut kan membaca kembali.
*Aku akan menyelamat kan Arka, dan mewujud kan impian Arka untuk menikahi Lia. Dengan begitu, Arka akan bahagia selama nya. Dan aku juga akan bahagia dong, karna aku kan hidup dalam diri Arka.
Ini lah cinta sejati, tak harus memiliki tapi tetap bersama selama orang yang aku cintai ini hidup*.
"Bodoh kamu Intan.... Bodoh kamu tahu gak. Ini bukan cinta sejati nama nya, ini pembodohan terhadap diri sendiri." kata Eza tak percaya pada apa yang ia baca.
Eza menangis di atas meja belajar Intan. Ia tak percaya apa dengan apa yang Intan pikir kan. Benar saja, Eza tak percaya jika Intan sengaja kecelakaan.
__ADS_1
Intan ternaya bunuh diri, demi memberi kan donor jantung pada Arka. Intan korban kan nyawa nya untum Arka tetap hidup.
"Kamu bodoh Intan, bodoh sekali. Cinta seperti apa yang kamu miliki hingga ini. Kamu sangat tidak waras." kata Eza marah dan bicara sendiri.