Pangeran Lemah Ku

Pangeran Lemah Ku
50


__ADS_3

Tak lama, Eza pun sampai di rumah sakit itu. Dia menuju kamar Arka, depan kamar Arka sudah ada Lia dan Esy yang menanti Eza dengan resah.


"Maaf ya, Esy Lia, kalian jadi nunggu aku lama. Soal nya jalan agak macet tadi maka nya aku agak lama baru nyampai." kata Eza.


"Gak papa Za, yang pentung kamu sampai sekarang kan." kata Lia.


"Iya, tapi sampai nya lama Lia." kata Esy.


"Ya ampun Sy, kan Eza udah bilang jalan nya macet. Masa kamu bilang lagi sih, jika Eza lama nyampai." kata Lia.


"Emang nya ada apa sih Lia, sampai kamu minta aku datang kesini." kata Eza.


"Aku ingin kamu jelas kan sesuatu pada kami Eza." kata Lia sambil mengeluar kan hp nya dan menyerah kan pada Eza.


"Apa Ini Lia, apa yang ingin kamu dengar dari aku." kata Eza tak mengerti.


"Aku ingin kamu baca berita yang ada di dalam hp ku itu Eza. Jelas kan pada kami apa yang terjadi sebenar nya." kata Lia sambil mata nya berkaca-kaca.


Eza melihat berita yang ada dalam ponsel Lia. Tidak ada yang dapat ia kata kan saat melihat mobil yang hancur saat bertabrakan dengan sebuat truk yang bermuatan besar itu.


"Eza, kata kan pada kami apa yang sebenar nya terjadi. Itu bukan Intan kan, dan nama di dalam itu bukan nama Intan kita kan." kata Lia ingin tahu.

__ADS_1


Eza tidak bicara, mata nya terasa panas sekali. Ingin sekali buliran itu tumpah melewati pipi nya. Tapi, cepat-cepat ia tahan kan. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata Esy dan Lia teman nya.


"Eza, kamu kok malah diam sih. Tinggal bilang aja ia atau ngak kan beres." kata Esy.


"Iya." spontan Eza mengata kan kalimat yang tidak ingin mereka dengar kan.


"Apa?" kata Lia.


"Kamu gak bercanda kan Eza. Aku gak suka lho kamu bercanda soal ini." kata Lia lagi.


"Tidak Lia, ini kenyataan nya. Intan memang telah tiada, saat aku tidak ada di rumah sakit ini. Itu karna aku pergi kerumah Intan." kata Eza.


"Lia, kita harus kuat. Ini sudaglh takdir Lia." kata Esy mendekap Lia.


Eza tidak bicara apa pun, ia tidak bisa bicara banyak. Takut nya ia mengata kan hal yang tidak ingin diri nya kata kan.


"Eza, kata kan pada ku. Apa kah jantung yang Arka dapta kan adalah jantung Intan." kata Lia tiba-tiba mengata kan hal yang tidak Eza duga.


"Lia, bagai mana bisa kamu simpul kan seperti itu." kata Esy tidak mengerti. Sedang kan Eza diam membisu.


"Esy, apa kah kamu tidak ingat apa yang tertulis dalam berita itu. Korban telah memasang pengaman jantung, agar jantung nya masih bisa di donor kan walau pun orang terlambat membawa nya kerumah sakit." kata Lia.

__ADS_1


Esy diam dengan apa yang Lia kata kan. Karna memanf benar, berita mengata kan korban sudah mengaman kan jantung nya. Dan di hari yang sama, Arka dapat donor jantung yang sesuai dengan organ tubuh nya.


"Eza, kata kan pada ku apa yang sebenar nya terjadi. Apa kah yang Lia kata kan itu benar, jantung Arka itu donor nya dari Intan." kata Esy menatap Eza.


"Iya, jantung Arka itu donor nya Intan." kata Eza dengan suara lemah.


Bruk....


Bunyi sebuah benda jatuh dari tangan seseorang, mereka semua melihat kearah belakang Eza. Di sana berdiri mama Arka, mama Arka terlihat sangat kaget dengan apa yang ia dengar. Sampai mama menjatuh kan sebuah rantang yang ia bawa kan.


"Tante... " kata mereka semua serentak.


"Tidak mungkin, apa yang kalian bicara kan itu tidak nyata kan." kata mama tak percaya.


Mama berjalan mendekati Eza, menatap lelaki itu dengan wajah tak percaya dan ingin penjelasan.


"Kata kan pasa tante Eza, apa yang tante dengar itu bohong kan." kata mama.


"Ini keinginan Intan tante, dan ini lah kenyataan nya. Aku tidak ingin kalian tahu sebenar nya, tapi berita itu sudah tidak bisa aku tutupi." kata Eza.


"Bagai mana dengan Windi mama nya Intan. Apa kah yang terjadi pada nya, bagai mana ini bisa terjadi." kata mama tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2