
Arka terlihat sangat senang ketika Lia menerima tawaran nya untuk makan di cafe selama sebulan.
Dari jauh Intan terlihat sangat tidak suka dengan apa yang ia lihat. Setelah Lia pergi dari taman dan meninggal kan Arka sendirian.
Intan menghampiri Arka dengan rasa cemburu dan muka yang tidak senang.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri Ka, bahagai banget kayak nya." kata Intan.
"Iya... Aku bahagai, sangat bahagai. Karna Lia mau berteman dengan ku dan dan menerima tawaran melukis dari aku." kata Arka dengan senang.
"Hanya itu yang bikin kamu sangat senang seperti orang yang gak waras ya. Senyum-senyum sendiri di taman ini." kata Intan tak senang.
"Iya dong, itu sangat bikin aku bahagia lho Tan. Dan juga, aku dapat lukisan dari nya." kata Arka.
"Sebagus apa sih lukisan gadis itu bagi kamu Ka, sampai kamu mau dia bikin lukisan untuk mu." kata Intan.
"Bagus baget lah menurut ku. Bukan nya kamu udah liat kan bagai mana lukisan Lia yang begitu cantik." kata Arka memuji.
"Tidak secantik lukisan orang yang ahli melukis kan Ka, dan juga apa kamu bilang tadi?" kata Intan baru ingat apa yang Arka kata kan.
__ADS_1
"Imbalan nya, aku akan mengajak Lia makan di cafe selama sebulan." kata Arka.
"Kamu gila ya, makan di cafe selama sebulan. Hanya untuk lukisan, apa kamu sudah gak ingat kalau kamu gak boleh makan di cafe." kata Intan.
"Aku tidak perduli, yang penting aku akan menjadi lebih dekat dengan kami sering makan bersama." kata Arka tidak peduli.
"Ka, kamu yang benar aja dong. Jangan bikin masalah deh. Kasihan mama dan papa mu." kata Intan.
"Jangan sampai mereka tahu, aku tidak ingin mama sedih nanti nya Intan. Kamu adalah sahabat andalan ku." kata nya sambil berjalan pergi meninggal kan Intan.
Intan hanya bisa melepas kan nafas berat nya. Walau bagai mana pun, melihat Arka bahagia seperti itu adalah hal langka bagi nya.
"Kamu tidak pernah bahagia seperti itu dengan ku Ka. Dari kita sama-sama tumbuh hingga dewasa seperti ini. Kamu tidak pernah bahagia seperti itu pada ku." kata Intan bergumam sendiri.
Lia duduk di depan kelas nya sendiri. Saat Arka lewat dan menghampiri nya.
"Hai... Boleh duduk di sini gak." kata Arka.
"Duduk aja Ka, kamu kebiasaan banget deh minta izin dulu baru duduk. Kan bukan punya aku, punya umum juga." kata Lia.
__ADS_1
"Ya, minta izin aja Lia. Biar sopan dan gak terkena amukan orang lain kan." kata Arka.
"Mana ada orang mau ngamuk jika kamu duduk di tempat umum Ka." kata Lia.
"Ada lah, kamu gak tahu ya. Ada yang ngamuk sama kita walau pun kita duduk di tempat umum." kata Arka.
" kalo ada, siapa coba?" kata Lia.
"Coba aja kamu duduk di samping orang gila yang duduk di tempat umum. Dan kamu ganggu orang gila itu. Aku yakin pasti dia ngamuk." kata Arka.
Lia tertawa mendengar kan apa yang Arka kata kan. Ternyata Arka orang nya suka bercanda juga.
"Ya ampun Arka, jika gak kamu ganggu pun kamu akan kena amukan tahu gak. Mana ada yang mau duduk sama orang gila. Yang benar aja kamu ini." kata Lia.
"Jangan-jangan kamu pernah mencoba kalia ya." kata Lia lagi.
"Eh... Enak aja kamu, mana pernah aku duduk dengan orang gila." kata Arka.
Melihat ekspresi wajah Arka yang aneh, Lia tertawa lagi. Lia merasa lucu dengan Arka yang ternyata tidak sama seperti yang ia pikir kan. Arka cowok yang tampan dan asik di ajak berteman.
__ADS_1