
Intan menyeka air mata yang jatuh mengalir di pipi nya. Ia tersenyum kearah Lia, dan memegang bahu Lia.
"Lia, Arka telah memilih kamu sebagai pendamping hidup nya. Jangan sia-sia kan Arka dalam hidup mu. Berjanji lah pada ku, cinta kamu pada nya tidak akan terkikis oleh waktu." kata Intan.
"Intan, aku rasa cinta kamu pada nya lebih besar. Sampai kamu rela melepas kan Arka hanya karna ingin melihat Arka bahagia bersama ku." kata Lia.
"Tidak juga Lia, kamu juga memiliki cinta yang besar pada Arka. Hingga kamu mampu menerima segala kekurangan dari sahabat ku. Dan satu hal yang paling penting bagi mu, Arka bahagia saat bersama kamu Lia." kata Intan.
"Berjanji ya Lia, kamu tidak akan meninggal kan Arka. Dan tidak akan membuat Arka sedih selama nya. Kamu akan setia bersama cinta nya Arka." kata Intan lagi.
"Iya Intan, aku akan tetap bersama cinta nya Arka. Aku tidak akan melupa kan Arka selama nya." kata Lia.
Lia tahu apa maksud dari perkataan Intan. Intan tidak mahu Lia melupa kan cinta Arka, walau pun Arka telah tiada. Mungkin Intan, tidak ingin Lia mencintai orang lain selain mencintai Arka.
"Aku anggap itu janji mu pada ku Lia, kamu harus menepati nya ya." kata Intan sambil tersenyum bahagia.
"Aku pergi dulu, jangan ingkari janji mu pada ku Lia." kata Intan sambil berjalan menjauh.
__ADS_1
Lia sedikit merasa ada yang aneh dengan Intan. Senyum nya bahagia itu seakan penuh kesedihan. Intan menangis tapi tersenyum, apa kah cinta nya pada Arka membuat Intan menjadi aneh.
Lia tidak ingin memikir kan masalah Intan yang aneh, tapi yang paling penting adalah bagai mana keadaan Arka saat ini.
Intan tadi tidak tahu mau kemana, arah nya tidak kekamar Arka. Melain kan arah menuju keluar rumah sakit. Itu juga tidak mau Lia pikir kan. Kemana Intan, nanti juga akan datang kembali.
Lia memutus kan untuk menuju kekamar Arka saja. Di sana mama dan papa sudah tidak ada lagi, hanya Eza dan Esy yang ada di kursi depan kamar Arka.
"Lia, kamu kemana aja sih. Kok lama banget pergi nya." kata Esy.
"Iya Lia, di mana Intan. Kok gak sama kamu sih, bukan nya kalian berdua tadi kan." kata Eza.
"Belum ada perubahan Lia, Arka masih sama kondisi nya. Arka masih dalam keadaan kritis nya." kata Esy.
"Jadi, tidak ada perubahan pada Arka. Mama dan papa nya di mana sekarang." kata Lia sedih.
"Mama dan papa Arka di dalam, dokter sudah keluar dari tadi. Tapi Arka masih tidak sadar kan diri sampai saat ini." kata Esy.
__ADS_1
Lia tidak menjawab apa yang Esy kata kan, ia melihat dari luar kamar. Mama sedang menagis di dalam sana, sambil memegang tangan Arka.
"Apa kamu gak mau masuk kedalam Lia, tadi tante pesan sama kami. Jika kamu mau masuk, masuk saja kedalam." kata Esy.
"Nanti saja aku masuk nya, aku gak ingin ganggu mereka. Tante terlihat sangat sedih di dalam sana." kata Lia.
"Kamu juga terlihat sangat sedih Lia, apa kamu mau minum sesuatu. Aku akan beli kan untuk mu." kata Eza.
"Tidak usah Za, aku tidak mau apa-apa." kata Lia.
"Oh ya, kalian gak kembali kekampus aja. Bukan nya dosen bilang ada hal yang penting kan." kata Lia baru ingat.
"Gak papa Lia, nanti saja kami kekampus nya. Kami akan temank kamu di sini dulu." kata Esy.
"Tapi, kuliah kalian bagai mana. Aku gak mau karna aku kalian jadi ikut-ikutan tidak dapat info atau ketinggalan pelajaran." kata Lia tidak enak hati.
"Lia, jangan merasa tidak enak gitu sama kami. Kita adalah teman, apa yang menjadi masalah teman adalah masalah kita juga. Benar kan Esy?" kata Eza.
__ADS_1
"Betul banget Lia, kamu adalah sahabat kami. Kita akan menjadi sahabat selama nya. Jangan pikir kan masalah yang bisa kita selesai kan nanti." kata Esy.
Lia tersenyum bahagia, ternyata sahabat nya sangat peduli dengan Lia.