
Setelah pelajaran selesai, mereka pun bersiap-siap untuk pulang. Karna mata kuliahan nya gak ada lagi.
Saat berada di luar kelas, Lia tertawa. Ia ingat bagai mana Esy jadi bahan tawaan satu kelas karna mulut nya.
"Ada apa sih Lia, bahagia banget kayak nya." kata Arka saat melihat Lia tertawa.
"Eh.... Kok kamu ada di sini sih Ka, udah selesai ya pelajaran kamu." kata Lia.
"Udah, udah dari tadi malahan. Kenapa sih tertawa tadi. Bagi kebahagiaan dong sama aku." kata Arka.
"Itu semua karna Esy, Esy bikin diri nya jadi pusat perhatian satu kelas. Termasuk dosen yang sedang ngajar di depan kelas." kata Lia.
"Itu semua juga karna kamu Lia, coba aja kamu gak bikin masalah. Aku gak akan jadi pusat perhatian tadi." kata Esy.
"Aku gak ngerti deh apa yang kalian bicara kan. Tapi ya udah deh, pulang sama aku ya Lia." kata Arka.
Lia melihat kearah Esy, teman nya ini menyetujui jika dia pulang bersama pacar nya.
"Orang yang lagi pacaran, masa aku marah sih jika mau antar pacar nya pulang." kata Esy.
"Kamu yang terbaik Esy, tahu banget apa yang benar dan yang salah."kata Arka.
"Tapi dari mana kamu tahu, Lia sekarang jadi pacar ku." kata Arka penasaran.
__ADS_1
"Sudah, jangan di bahas lagi. Aku kan orang pintar, jelas tahu hal yang tersembunyi." kata Esy.
"Orang pintar bohong kan Sy, jelas kamu tahu lah." kata Lia.
"Udah,,, mau pulang gak nih. Masa ngobrol di sini terus sih." kata Esy.
Dari dalam mobil nya, Eza memperhati kan tiga orang yang masih bicara di depan mobil Esy. Ada rasa marah dalam hati Eza, karna ia suka pada Lia.
"Ternyata kamu dan Arka sudah pacaran Lia. Pantasan kamu tidak pernah mau pulang sama aku." kata Eza bicara sendiri.
Sedang Intan juga ada dalam mobil nya. Intan menyeka air mata yang tumpah perlahan dari mata nya. Hati nya sakit sekali melihat Arka yang ia cintai sekarang menjadi milik orang lain.
Tapi, saat melihat Arka bahagia bersama Lia. Intan tahu, sahabat nya tidak butuh dia. Sahabat nya akan bahagia dengan yang lain, maka Intan akan mendukung Arka walau pun hati nya sakit.
"Jalan pak, kita langsung pulang saja." kata Intan pada supir nya.
"Apa kita tidak jadi pergi ketoko kue nya non." kata supir Intan.
"Gak usah pak, kita pulang saja pak. Lain kali saja ketoko kue nya." kata Intan.
Ia ingin memesan kue untuk ulang tahun Arka sebenar nya. Tapi saat ini, hati nya tidak bisa bersahabat. Karna sakit rasa nya saat melihat Arka dan Lia tertawa bahagia.
Ulang tahun Arka memang masih seminggu lagi, rencana nya ia ingin memesan kue agar lebih spesial untuk Arka. Tapi, mau apa lagi sekarang. Tidak ada yang spesial bagi Arka selain Lia. Semua tentang Lia, lukisan yang indah dari Lia. Dan semua barang sederhana dari Lia, hanya itu yang spesial bagi Arka.
__ADS_1
"Lewat gerbang belakang aja pak." kata Intan pada supir nya.
"Baik non." kata supir itu tak mau banyak tanya lagi. Karna terlihat jelas di wajah Intan, ia sedang sangat sedih.
Melihat itu, Eza yang dari tadi nunggu mobil Intan bergerak. Langsung saja menyusul mobil Intan yang bergerak keluar dari gerbang belakang kampus.
Eza membelok kan mobil nya, memotong arah mobil Intan. Supir Intan terpaksa mengerem kan mobil dengan cepat.
"Ada apa sih pak, kok ngerem mendadak." kata Intan.
"Ada mobil yang tiba-tiba memotong arah mobil kita non." kata supir.
Intan melihat di depan nya, Intan kenal betul mobil milik Eza yang ada di depan mobil nya.
Eza keluar dari mobil nya, menuju mobil Intan. Intan membuka kaca mobil nya.
"Mau apa kamu?" kata Intan dengan kesal.
"Aku tidak ingin basa basi dengan mu. Bisa kah aku masuk dan bicara pada mu." kata Eza.
"Kata kan saja di luar, kamu tidak perlu masuk kedalam." kata Intan.
"Masa kamu tidak izin kan aku masuk sih Intan. Padahal aku punya satu kesepakatan yang ingin aku bicara kan pada mu." kata Eza.
__ADS_1