
Esy terus menelfon Eza, tapi telfon nya tidak di angkat. Esy juga menacri Eza di rumah sakit itu. Tapi Eza tidak ada di mana pun, Eza menghilang begitu saja.
Sebenar nya Eza tidak bermaksud untuk tidak memberi tahu kan pada yang lain. Tapi Eza tidak ingin membuat yang lain jadi ikut panik dan cemas.
Eza sekarang sudah sampai di rumah mama tiri nya. Benar saja, di sana sudah ramai orang yang datang. Rumah itu di penuhi dengan tangisan.
Eza masuk kedalam rumah dengan langkah kaki yang berat, Eza seakan tak percaya pada apa yang telah terjadi. Tapi saat Eza sudah berada di dalam rumah, apa yang tidak ia percaya adalah nyata.
Mama tiri nya memeluk nya, saat melihat Eza berdiri tegak mematung di sana. Mama tiri nya, langsung berdiri dan jatuh dalam pelukan nya. Di sana terbaring Intan yang sudah tidak bernyawa.
"Eza.... Mama tidak percaya ini nak. Kenapa Intan pergi dengan sangat cepat." kata mama tiri nya sambil menagis.
"Sabar ma, sabar... " hanya kata itu yang mamapu ia ucap kan. Karna hati nya juga tidak bisa menerima apa yang telah terjadi.
__ADS_1
"Tenang kan diri mu Windi, ayo duduk lagi." kata mama Eza.
Sedikit yang kalian harus tahu, mama Eza dan mama Intan. Mereka tidak pernah bermusuhan, walau pun papa Eza telah menikahi mama Intan tanpa restu dari mama Eza. Tapi mama Eza tidak pernah menyalah kan mama Intan sebagai perebut suami nya. Jadi nya, mereka tetap baik sesama madu.
Sesama mama tidak bermysuhan, tapi sesama anak dan papa lah yang bermusuhan. Mama Intan selalu menggap Eza anak nya, begitu juga mama Eza. Mereka tidak masalah sebagai sesama mama.
Suasan terlihat sangat sedih, mama Intan yang di panggil Windi itu pun mau melepas kan pelukan dengan Eza anak tiri nya.
Eza menghampiri Intan yang terbaring itu, ia melihat adik tiri nya dengan penuh perhatian. Intan seakan orang yang sedang tidur lelap.
"Intan, apa yang terjadi pada mu. Kenapa bisa seperti ini Intan." kata Eza.
Saat itu, papa memegang bahu Eza. Papa tidak berkata apa pun, hanya menyerah kan selembar kertas yang terlihat sudah kusut karna genggaman.
__ADS_1
"Apa ini pa." kata Eza.
"Baca saja kertas itu, maka kamu akan tahu apa isi nya. Dan jika kamu ingin lebih jelas lagi, kamu bisa masuk kedalam kamar adik mu nanti." kata papa.
Eza tidak membaca nya sekarang, ia memutus kan untuk melihat nya nanti saja. Ia terus menatap wajah Intan. Ada rasa sedih di hati nya, karna ia dan Intan tidak pernah akur dulu nya.
Eza ingat, saat bersama dengan Intan. Saat Intan marah pada nya, saat Intan tertunduk sedih ketika semua teman kampus mengata kan diri nya wanita murahan karna telah tidur bersama Arka. Padahal itu semua hanya lah bohongan yang Arka dan Intan kata kan.
Eza ingat, betapa adik nya sedih saat Arka dan Lia bersama. Tapi, tidak pernah ia tunjuk kan jika ia sedih ketika mereka bersama. Malahan, Intan rela jadi tameng untuk hubungan mereka.
Eza ingat semua nya, tapi sekarang. Orang itu sudah tidak bernyawa lagi di sini. Orang itu sudah tidak bisa berkata apa pun lagi sekarang, hanya tinggal kenagan yang akab terus di ingat.
"Kenapa kamu pergi begitu cepat Intan, waktu mu masih panjang lagi Intan. Apa yang sebenar nya kamu laku kan sampai bisa terjadi kecelakaan ini." kata Eza lirih.
__ADS_1