
Eza termenung setelah sambungan telfon dia putus kan. Kalian tidak tahu Intan telah tiada, hanya demi cinta. Kata Eza dalam hati nya, ia mengedip kan mata nya saat ingat Intan.
Eza tidak ingin menagis lagi, hanya memikir kan Intan telah pergi. Karna pikiran nya di kacau kan oleh Esy yang sedang mencari di mana ia berada.
Eza cepat masuk kedalam mobil nya, tujuan utama Eza adalah kembali kerumah. Karna nomer ponsel Esy masih saja tidak bisa di hubungi.
Eza merasa cemas pada keadaan Esy, karna hari sudah malam dan jalan menuju rumah nya agak sedikit jauh. Dan akan melewati jalan yang lumayan sepi penduduk.
Eza memacu mobil nya dengan sangat cepat, berharap bisa sampai dengan cepat kerumah. Agar tahu, apa kah Esy ada di rumah atau tidak.
Sedang kan Lia juga mencoba menghubungi Esy terus menerus. Hanya saja, Esy tidak bisa di hubungi. Beberapa saat tadi juga Lia sudah menanya kan tentang Esy pada mama Esy. Tapi, mama Esy bilang, kalau Esy belum pulang kerumah sejak tadi pagi.
Tak lama, Eza sampai kerumah nya. Di depan pintu rumah Eza melihat gadis yang sedang menangis. Eza kenal betul dengan gadis itu, dia tak lain adalah Esy teman nya.
"Esy.... " kata Eza.
Dengan cepat Esy menagangkat wajah nya. Ia kenal suara siapa yang memanggil nama nya.
__ADS_1
"Eza.... " kata Esy bahagia sambil menyapu air mata yang ada di pipi nya.
"Ini kamu kan Za, kamu kemana aja sih. Aku cemas nyariin kamu." kata Esy sambil memeluk Eza.
"Maaf kan aku ya, udah bikin kamu cemas sampai harus nyusul aku kerumah ku." kata Eza membalas pelukan Esy.
"Dan aku gak maksud bikin kamu repot gini Esy, maaf kan aku ya. Aku janji gak ada lagi hal yang seperti ini." kata Eza lagi.
"Kamu kemana aja Za, aku kan takut jika kamu kenapa-napa. Kamu gak papa kan Za?" kata Esy.
"Gak Esy, aku baik-baik saja. Aku tadi ada urusan sebentar, urusan mendadak yang bikin aku gak sempat kasih kabar pada mu." kata Eza.
"Sekarang, aku antar kamu pulang ya. Karna mama mu pasti sangat cemas. Kamu kan gak bisa di hubungi. Lia juga sangat khawatir sekarang." kata Eza.
"Oh iya,, hp ku habis batrai dan aku gak bisa pulang karna gak bawa mobil. Lia pasti sudah menelfon mama ku dan bertanya di mana aku sekarang." kata Esy.
"Telfon aja Lia sekarang, pakai hp aku aja. Tapi sebelum itu, ayo masuk kemobil dulu. Di sini sangat dingin kan." kata Eza.
__ADS_1
Esy tidak bicara apa pun, hanya mengikuti langkah Eza kembali kemobil. Sebenar nya ada yang ingin Esy tanya kan pada Eza. Kenapa rumah nya tidak ada orang sama sekali. Kemana mama nya, kenapa rumah di tinggal gitu aja. Tapi, Esy menahan pertanyaan itu.
Setelah masuk kedalam mobil, Esy meminjam hp Eza untuk memberi kabar pada Lia, agar Lia tidak cemas. Esy juga meminta Lia mengata kan pada mama Esy, jika diri nya baik-baik saja dan sedang berjalan menuju rumah.
Setelah selesai bicara sama Lia melalui telfon Eza, hati Esy masih penasaran dengan apa yang Eza lakukan hari ini. Dan rumah nya kosong itu kemana mama Eza. Esy tidak bisa menahan rasa penasaran nya lagi. Bibir nya sangat ingin bergerak untuk bertanya.
"Eza, kemana mama mu, kenapa tidak ada orang di rumah kalian?" kata Esy.
"Mama sedang pergi kerumah mama Windi." kata Eza.
"Mama Windi?" kata Esy.
"Iya mama Windi." kata Eza.
"Bukan kah mama Windi itu mama tiri mu kan Za. Bearti mama Windi itu mama Intan dong." kata Esy.
Eza terdiam saat kata-kata Esy menyentuh telingga nya. Eza lupa jika Esy tahu tentang keluarga nya. Siapa Intan bagi Eza, dan nama mama Intan kan sudah ia kata kan pada Esy sebelum nya.
__ADS_1
"Kamu pasti tahu juga kan Za, di mana Intan sekarang. Dan kenapa dia tidak datang kerumah sakit. Kamu kasih tahu aku ya, jika tahu Intan di mana. Karna Lia dan yang lain nya sibuk lho nanyain Intan yang gak ada kabar nya." kata Esy sambil senyum.