
Sudah hampir satu bulan sejak kejadian itu, tapi Arka masih belum sadar kan diri sampai saat ini. Kata nya, memang butuh waktu yang lama buat Arka menyesuai kan organ tubuh baru nya itu.
Apa yang terjadi pada Intan sudah bisa di terima oleh mama nya dengan lapang dada. Karna, Eza bilang pada semua orang. Ini adalah pilihan yang Intan buat sendiri, jadi tidak bisa menyalah kan siapa pun dalam hal ini.
Apa yang Eza kata kan bisa mereka semua terima dengan lapang hati. Walau pun tidak mudah untuk mengikhlas kan kepergian Intan. Mama tetap bisa menerima kenyataan sekarang.
Mama Windi juga tidak menyalah kan siapa pun, atas meninggal nya Intan. Karna, Eza selalu bilang pada mama, bahwa ini adalah takdir Intan, dan sudah menjadi ketentuan yang maha kuasa.
Saat ini, Eza dan Lia sedang ada di dalam kamar Arka. Arka masih terbaring dengan lelap nya, di bantu oleh alat pernapasan dan selang infus.
"Kapan kamu sadar Arka, sudah lama kamu tidur di sini." kata Lia.
"Iya Arka, jika kamu gak sadar juga. Aku akan nikah sama Lia. Karna kamu sudah tidak mau sama Lia lagi kan." kata Eza.
"Jangan bercanda kamu Za, masa iya mau nikah sama aku. Esy kamu mau kemanain sih." kata Lia.
Lia tahu sahabat nya bercanda, karna Esy dan Eza sekarang sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Bahkan rencana nya Eza akan mengada kan lamaran seminggu lagi.
"Esy akan jadi istri pertama ku, kamu istri kedua ku. Aku yakin kalian akan jadi madu yang aku, karna kalian sahabat. Dari pada nunggu Arka yang gak mau banggun." kata Eza.
__ADS_1
"Lagian aku aja udah mau lamaran, lah kamu gak bangun-bangun Ka. Mana ada orang cinta ninggalin kekasih nya hanya untuk tidur lama-lama. Yang ada kekasih mu di ambil orang tahu gak." kata Eza lagi.
Lia menatap Eza dengan tatapan kesal nya. Tapi berbeda dengan Lia, Eza malah senyum bahagia melihat Lia kesal.
Saat mereka bercanda seperti itu, ternyata Arka merespon apa yang Eza kata kan. Jari tangan nya bergerak-gerak perlahan.
"Lia, lihat jari Arka bergerak-gerak." kata Eza yang nenyadari nya duluan.
Lia pun melihat kearah jari tangan Arka, benar saja. Arka merespon apa yang Eza kata kan pada nya tadi. Karna itu, Arka berusaha bangun.
"Arka, aku akan menikahi Lia jika kamu gak bangun sekarang juga." kata Eza lagi.
"Eza, Arka bangun sekarang. Panggil dokter Za." kata Lia dengan air mata bahagia.
"Lia, aku tidak akan membiar kan kamu di ambil orang." kata Arka dengan suara pelan nya.
Eza tersenyum, ia pun berjalan untuk memanggil dokter. Sedang kan Lia sangat bahagia dengan apa yang Arka kata kan. Sampai Lia tidak menjawab satu kata pun, Lia hanya menagis bahagia saja, sambil tangan nya menggengam tangan Arka.
Setelah dokter selesai meneriksa keadaan Arka. Dokter itu pun keluar dari dalam kamar Arka, sedang kan mama dan papa baru saja sampai. Langsung masuk kedalam dan memeluk Arka anak nya dengan penuh rasa haru dan bahagia.
__ADS_1
"Sayang, akhir nya kamu bangun juga. Bagai mana keadaan mu saat ini nak." kata mama.
"Arka baik-baik aja sekarang ma, kayak nya tidak ada yang sakit lagi sekarang." kata Arka.
Bahagia, di dalam sana penuh dengan kebahagiaan. Di tambah Esy dan mama Lia yang baru saja datang setelah dapat kabar, bahwa Arka sudah sadar.
"Aku akan bikin pembalasan pada orang yang ingin merebut calon istri ku." kata Arka saat Eza berada dekat dengan nya.
"Esy, kamu tahu gak. Jika Eza ini mau menjadi kan calon istri ku sebagai istri kedua. Dia ingin menikahi calon istri ku. Kata nya karna kamu gak cantik." kata Arka.
Mendengar itu, Esy menatap Eza dengan tatapan marah nya. Dan Lia hanya bisa senyum begitu juga yang lain juga ikut senyum. Karna tahu, apa yang Arka kata kan itu bohong dan bercanda.
"Eza..... " kata Esy.
"Ngak kok sayang, ngak.. Arka bohong sama kamu." kata Eza.
"Kurang ajar banget kamu Ka, awas kamu ya." kata Eza.
Semua nya tertawa dengan apa yang mereka saksi kan. Esy benar-benar bikin Eza takut dengan tingkah nya. Padahal kan Esy juga tahu apa yang Arka kata kan itu tidak benar ada nya.
__ADS_1