Pangeran Lemah Ku

Pangeran Lemah Ku
42


__ADS_3

Esy melihat Eza dari tadi, ponsel nya terus saja berbunyi menanda kan ada panggilan masuk kedalam ponsel nya.


"Eza, angkat telfon nya. Mungkin ada yang ingin papa mu kata kan." kata Lia.


Eza melihat kearah Lia, benar juga apa yang Lia kata kan. Sudah berkali-kali papa nya menelfon, mungkin ada yang ingin papa sampai kan. Akhir nya, Eza angkat juga telfon dari papa nya dengan malas.


"Hallo.... " kata Eza.


"Eza, kamu di mana sih. Kenapa susah banget angkat telfon papa." kata papa marah.


Ada yang aneh di balik suara papa, ada nya suara tangisan di belakang sana. Yang mengiringi suara papa nya.


"Ada apa sih, ngapain marah-marah." kata Eza.


"Di mana kamu sekarang, kamu gak tahu jika adik mu kecelakaan." kata papa.


Papa terlihat sangat sedih, dan suara tangisan di belakang itu. Suara mama tiri nya yang sedang menangis. Tapi tunggu dulu, papa nya bulang adik nya kecelakaan. Adik, bukan kah Eza tidak punya adik. Ya selain Intan lah, mana ada dia punya adik.

__ADS_1


"Adik kecelakaan pa?" kata Eza tak mengerti.


"Ya adik mu kecelakaan, Intan adik mu kecelakaan Eza." kata papa.


"Apa?" kata Eza sangat kaget.


"Intan kecelakaan." kata Eza lagi.


Eza baru sadar, jika Intan tidak ada di tengah-tengah mereka semua. Dari kemarin malam Intan sudah tidak ada terlihat lagi. Bukan dari kemarin malam, Intan tidak kembali saat dia pergi setelah bicara dengan Lia waktu itu.


"Di mana Intan sekarang pa, bagai mana keadaan nya sekarang." kata Eza cemas.


"Kok di rumah sih, kata papa Intan kecelakaan. Kenapa di rumah, apa gak parah." kata Eza.


"Eza, bukan gak parah. Intan sudah meninggal karna kecelakaan itu. Nyawa nya tidak bisa di selamat kan lagi." kata papa dengan sangat sedih.


"Pa, jangan bercanda pada ku. Ini bukan waktu nya papa membohongi ku. Kata kan yang sebenar nya pa, apa yang terjadi." kata Eza tidak enak. Eza masih berharap jika papa membohongi nya.

__ADS_1


"Eza, apa yang papa kata kan adalah yang sebenar nya. Sekarang mama mu juga ada di rumah mama tiri mu. Kamu segera kesini jika ingin melihat adik mu." kata papa.


Eza mematung, papa telah menutup telfon nya. Tapi, Eza tidak bergerak sedikit pun. Benar, Intan tidak ada di tengah-tengah mereka saat ini. Berarti apa yang papa kata kan adalah benar.


Dengan cepat Eza keluar dari rumah sakit itu, Eza tidak ingat untuk mengata kan pada semua nya yang ada di rumah sakit. Eza pergi begitu saja, saat hati nya sudah bisa ia kuasai.


Tak ada yang tahu, jika Eza pergi dari rumah sakit itu. Karna tadi nya, Eza mengangkat telfon dari papa nya di tempat yang agak jauh dari kamar Arka agar tidak menggamggu.


"Eza kok lama banget ya, ngangkat telfon aja selama ini." kata Esy saat sadar jika Eza sudah lama pergi.


"Mungkin sebentar lagi akan kembali Esy, kamu gak bisa jauh aja dari Eza." kata mama Lia.


"Ngak kok tante, bukan gak bisa jauh. Tapi Eza lama banget, udah dari tadi lho angkat telfon nya." kata Esy.


"Susul aja gih, mana tahu lupa jalan kan. Atau ngak telfon aja Eza nya." kata Lia.


"Iya, telfon aja Eza nya. Mau nyusul kan gak tahu kemana kan." kata mama Arka.

__ADS_1


Semua nya terlihat bahagia saat ini, karna takut akan kehilangan Arka sudah tidak ada lagi dalam hati mereka semua.


Mereka tinggal menunggu operasi Arka yang sedang berlangsung. Tapi, belum seutuh nya rasa bahagia sih. Masih ada rasa cemas dalam hati mereka. Takut jika operasi tidak berjalan lancar kan.


__ADS_2