Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
10. Si Paling Kayak Setan


__ADS_3

Ola


Aku baru saja selesai mandi dengan bantuan Mama saat kudengar suara grasak-grusuk dari luar ruangan. Belum sempat otakku membuat tebakan-tebakan soal daei mana asal suara itu, tahu-tahu pintu ruanganku sudah terbuka dan di sanalah dia berada.


Sahabatku si Drama Queen. Lengkap dengan ekspresi yang didramatisasi dan bahasa tubuh yang hiperbola. "Olaaaaay. Oh, my God!" serunya ketika dia berlari ke arahku.


Untung tubuhku sudah sedikit lebih enakan. Kalau tidak, aku yakin kami berdua akan berakhir di atas lantai saat dia menyerangku dengan pelukannya yang kuat. Untung juga Mama masih berdiri di dekatku dan beliau membantu memegang tubuhku yang sedikit kehilangan pijakan saat si Sableng ini menghantamku dengan perhatiannya.


"Lo gak apa-apa, kan? Lo udah mendingan, kan? Lo kenapa sih sebenarnya? Ha? Kenapa lo gak ngasih tahu gue kalau lo sakit? Kenapa gue harus tahu dari Oli kalau lo masuk rumah sakit, ha? Olay! Gue kan bestie elo. Seharusnya elo yang kasih tahu gue langsung!" Dia mencecar setelah melepaskan dekapan yang meremukkan badan namun dirindukan hati itu.


"Babe, kamu hati-hati, dong. Ola kan masih belum pulih banget. Nanti kalian jatuh gimana?" Suara Mas Johan nan lembut namun serius menyusup di antara kami. Membuat istrinya meringis.


"Eh, sorry," ucapnya dengan bergelimang rasa bersalah. "Sorry, Tan." Dia lalu menoleh dan meminta maaf pada Mama.


Mama tersenyum dan mengibaskan tangan. "Ih, gak apa-apa kali, Raisa. Memanglah Ola itu butuh kekuatan dari kamu, biar dia bisa cepat pulih." Mama kemudian mengembangkan tangannya dan memasukkan Raisa ke dalam pelukan. "Apa kabar pengantin baru? Bulan madunya udahan aja?"


Raisa kini tersipu.


Well ... jarang-jarang sahabatku yang tidak tahu malu itu bersikap seperti ini. "Engg, enak, Tan. Hehe. Nanti bulan madunya sambung lagi kalau si Olay udah keluar dari rumah sakit."


Tawa Mama tersembur mendengar jawaban yang, sudah aku bilang, kan?, tidak tahu malu dari Raisa yang sipunya sudah tersapu senyum selebar pulau Jawa.


Mas Johan menggeleng tak habis pikir, akan tetapi dia juga tidak dapat menyurukkan gelak. "Gimana keadaan lo, La? Udah mendingan? Sorry kita baru bisa datang sekarang. Kita sampai ke rumah udah larut banget semalam."

__ADS_1


Aku menyambut pelukan Mas Jo. "Gak apa-apa, Mas. Santai aja. Gue udah baikan kok. Gue yang seharusnya minta maaf. Gara-gara gue trip bulan madu kalian harus selesai sebelum waktunya."


"Ah, jangan ketularan lebay-nya bini gue deh lo," selorohnya. Setelah itu dia menyapa Mama. "Hai, Tante. Apa kabar?"


"Hai, Johan. Tante baik, Tante baik. Semakin segar aja kamu." Mama menggoda pengantin baru itu.


"Duh. Tante bisa aja bikin saya salah tingkah."


Kami semua pun tertawa.


"Yuk, Sayang. Ke tempat tidur lagi, yuk."


Aku lalu berjalan di antara Mama dan Raisa.


"Dan lo bayangin aja mereka gak ngebolehin gue pakai parfum! Pakai parfum, Lay! Emang mereka pikir parfum gue parfum yang dipakai sekarang terus baunya bisa tercium dari jarak dua belas kilometer? Sinting mereka berdua! Sorry, Tante. Tapi, bagi aku mereka memang sudah kehilangan akal. Lebih-lebih lagi si Angga itu!


"Dia dapat nomor gue dari mana? Ah, iya. Pasti dari Oli. Sebelumnya gak pernah nge-chat gue, nelepon gue, udah main ngasih perintah aja. Tanpa ba bi bu udah berani langsung ngatur-ngatur gue. Paling enggak kasih salam dulu, kek. Perkenalan dulu, kek. Halo, Raisa. Ini nomornya Angga, di-save ya.


"Ini enggak. Dia pikir dia siapa? Gak ada angin gak ada hujan langsung bilang, Raisa. Nanti kalau lo ke rumah sakit, tolong jangan bawa bla bla bla. Jangan bawa ini, jangan bawa itu. Jangan lakuin ini. Jangan lakuin itu. Dia pikir gue gak tahu, ha? Dia pikir gue juga gak mau yang terbaik buat sahabat gue? Dia pikir gue gak peduli sama kesehatan lo?


"Dia pikir lo lemah banget sampai harus dilarang-larang segala macam gitu, ha? Dia pikir lo anak kecil yang harus dikasih batasan gitu? Dia pikir lo gak bisa ngatur hidup lo sendiri? Lagian kenapa dia tiba-tiba muncul dalam hidup lo sih? Gak ngerti gue. Dia tuh kayak setan aja. Dari yang sebelumnya gak ada, terus tahu-tahu ada aja dan berlagak kayak dia yang paling ngertiin elo. Ada apa sih sebenarnya?"


****

__ADS_1


Angga


Well ... this is awkward. No, no, no. Ini bukan awkward lagi, akan tetapi situasi ini sudah super duper duper duper awkward.


Raisa yang berdiri membelakangi pintu dari tadi tidak ngeh kalau ada orang yang masuk ke dalam ruangan. Di tengah-tengah aksi protesnya pada wanita pujaan gue yang kini duduk di atas tempat tidur, sahabat Olavia itu tidak ngeh kalau pintu kamar sudah dibuka.


Lebih lagi dia tidak ngeh kalau yang masuk adalah gue. Cowok yang baru saja dikatakannya seperti setan. Dari yang sama sekali tidak ada tiba-tiba langsung menjadi raja di kehidupan Olavia. Yang sok ngatur, sok ngerti.


Gue tidak marah, tidak. Gue paham apa yang dirasakan oleh cewek modis pengantin baru ini. Namun, itu bukan berarti gue akan membiarkan pendapat tak berdasarnya memukul gue mundur. Enggak. Enggak akan. Justru akan gue jadikan cambuk untuk membuktikan bahwa gue benar-benar memaknai semua janji-janji gue sama Olavia.


Gue menatap sejurus ke arah the love of my life. Matanya menyorotkan permintaan maaf atas ucapan yang ke luar dari mulut Raisa. Namun, dari sini gue juga bisa lihat sudut bibirnya yang terangkat sedikit. Entah karena dia senang gue bisa mendengar luapan uneg-uneg yang mungkin saja mewakili perasannya juga atau karena diam-diam dia ingin menantang, melihat apa yang akan gue perbuat.


Okay, then. Challenge accepted, baby.


Tante Yuni, satu orang lagi yang posisinya menghadap ke arah pintu dan yang mengetahui keberadaan gue, hanya mengulas senyum tipis, sangat tipis sehingga gue yakin Raisa dan Mas Johan tidak akan menyadarinya kalau mereka tidak betul-betul memperhatikan. Walaupun tipis, akan tetapi dukungan yang diberikannya sangat berarti buat gue yang sedang mempersiapkan diri untuk mengumumkan kedatangan gue.


Gue lalu mengetuk pintu yang sudah ternganga itu tiga kali.


Barulah, setelah mendengar suara lain selain suaranya, Raisa berbalik. Matanya melebar ketika meregistrasi bahwa yang baru saja mengetuk pintu adalah gue.


Si Paling Kayak Setan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2