
Ola
Aku melihat Angga mengantar Bang Dimas yang berpamitan dengan melambai padaku ke pintu apartemen. Aku balik melambai padanya. Setelah pintu apartemen tertutup lagi, Angga berjalan dengan santai ke arah sofa. Tak lama kemudian, dia berdiri di belakangku.
Mama langsung semringah ketika melihat pemuda itu di layar. "Hai, Ngga. Apa kabar kamu?"
"Baik, Tante. Tante sama Om gimana? Pasti seru banget, ya, bulan madunya." Angga menimpali.
Mama yang digoda malah tersenyum malu-malu.
Wait, what is that? "Ma, are you blushing?" tanyaku saat melihat rona yang muncul di pipi wanita yang melahirkanku itu. What the ...? Hal itu benar-benar berhasil membuatku ternganga. "Ma, you are blushing! You are. Shoot! Why are you blushing? Oh, my God! Aku gak mau tahu apa-apa soal ini. Aku gak mau dengar. Aaaaaaa. Aku gak mau peduli sama apa yang bikin Mama jadi tersipu-sipu kayak gitu. Aaaaaa. Gak mau, gak mau, gak mau! Anggaaaa. Udah lah. Jangan goda Mama lagi. Aku gak mau tahu soal ini!"
Kupukul kepala Angga menggunakan bantal sofa yang ada di dekatku. Kupicingkan mata sambil terus menggeleng-gelengkan kepala, berharap guncangan itu dapat mengusir apa pun bayangan yang tercipta di sana. Ya, Tuhan! Aku benar-benar tidak ingin tahu apa pun soal kehidupan pribadi orang tuaku. Melihat warna merah di pipi mama saja sudah membuat perutku bergulung-gulung. Ya, Tuhan. Jijik, jijik, jijik!
Terdengar tawa Mama dan Angga di tengah badai histeria yang melandaku. Lalu, tawa mereka disusul oleh suara berat yang sudah kudengar seumur hidupku. "Lagi ngetawain apa, sih? Hey, Sweetheart. Kenapa kamu videocall sambil tutup mata? Kamu baik-baik aja, kan?"
Segera aku membuka mataku setelah mendengar pertanyaan dari Papa. "Enggak apa-apa, Pa. Aku aman, kok," jawabku sambil memamerkan senyum. Dan bukan senyum yang palsu juga.
"Syukurlah. Gimana kabar kamu, Ngga? Kerjaan, semua, aman? Gak ada yang keganggu karena jadi bodyguard-nya Olavia, kan?"
Lengan kiri Angga melingkar di bahuku sementara siku kanannya bertelekan di sandaran sofa. Posisi ini membuat kepalanya lebih tinggi beberapa sentimeter dari kepalaku dan jarak di antara kepala kami sangatlah dekat. Oleh karena itu, aku bisa merasakan gelak yang ke luar dari dalam dadanya barusan. "Enggak lah, Om. Semua aman, juga bisa diurus dari mana aja. Di restoran ada Dimas, di klub ada Erik. So." Pemuda itu mengedikkan sebelah bahunya.
"Good, good. Makanya Om bilang kita itu harus work smart, not just hard. Good. Eh, Oliver masih di Singapura, ya?"
"Iya, Om. Katanya mau balik weekend ini, tapi masih belum pasti jadi apa enggaknya."
__ADS_1
"Oh, oke, oke. Ya, udah. Selesaikan beres-beres, yuk, Honey," ajak Papa ke Mama sambil mengusap-usap bahu wanita yang telah dinikahinya selama lebih dari tiga puluh tahun itu. "Sudah jam delapan lewat, loh. Bisa-bisa nanti kita ketinggalan rombongan."
"Oke, deh, Mama, Papa. Kalau gitu kalian lanjut aja dulu. Happy touring, ya!"
"Bye, Sweetie. Bye, Angga."
"Bye, Tante. Take care, okay?"
"Always. Lobe you, Sweetheart."
"Love you, guys. Bye."
Panggilan video tak lama berselang terputus.
Kubersihkan sudut mata dengan ujung jari.
Bahuku naik dan turun dengan gerakan yang lumayan jelas. "Iya, iya. Aku tahu, kok. Emang dasarnya pregnancy hormones ini bikin aku mellow banget, ya, mau diapain lagi."
"Ya, gak perlu diapa-apain juga, sih. Lagian, kan, bentar lagi baby-nya lahir. Jadi, mellow-mellow-nya bentar lagi juga abis."
Aku menoleh pada pria yang masih menyungging di belakang sofa itu dengan alis yang tinggi di dahi. "Kamu pikir abis lahiran aku langsung normal, gitu? Nope. Nope. Kau salah, Kisanak. Masih ada banyak hal lagi yang akan aku hadapi."
Bisa kurasakan bahunya naik dan turun saat dia mengedikkannya. "Ya, gak apa-apa juga. Apa pun yang kamu hadapi, aku akan terus ada di samping kamu untuk support kamu dan bayi ini." Angga lalu meletakkan tangannya di atas perutku.
Sebuah tendangan tiba-tiba saja terasa dari dalam.
__ADS_1
"Oh, my God! Kamu rasain itu, gak?" Aku bertanya pada Angga yang terlihat sama terkejutnya denganku.
"Ya, Tuhan, Sayang! Aku .... Aku ...." Cowok itu jelas kehilangan kata-kata karena apa yang baru saja terjadi.
Memanglah ini bukan merupakan gerakan pertama yang kurasakan dari bayiku. Namun, ini adalah respons pertama yang diberikan oleh bayiku saat Angga menyentuh perutku untuk yang pertama kali pula.
Dilepaskannya pagutan di sekeliling tubuhku untuk berpindah tempat ke depanku. Kini dia bersimpuh di antara kakiku. Perutku yang besar dan mencuat berada sejajar dengan pandangannya. "Sorry. Seharusnya tadi itu ... eh, aku .... Sorry. Sekarang aja aku ... aku .... Duh, Sayang, aku boleh ...?"
Walau kalimatnya tak selesai, akan tetapi aku paham apa yang dia minta. Segera saja kuangkat baju yang menutupi hingga ke bawah dada dan mengangguk pada pria yang masih menatapku penuh harap itu.
Angga mengangkat tangannya yang gemetar. Dibiarkannya dulu kedua telapaknya menetap di sana sebelum kemudian mulai mengusap-usap perutku dengan pelan. "Oh, my God. Sayang. Aku udah pengen melakukan ini dari saat pertama kali aku tahu kalau ada bayi di dalam perut kamu. Aku gak tahu kalau pada akhirnya aku akan mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan keinginan aku itu. Oh, my fxcking God. Aku nangis lagi. Shxt, aku nangis lagi."
Air mataku akhirnya meleleh juga, mengiringi bulir-bulir bening yang mengalir di pipi pria yang kini sedang menempelkan keningnya di perutku itu.
Sesungguhnya, bukan hanya itu alasan derasnya air mata. Aku juga tidak menyangka bahwa aku akan merasakan sentuhan seperti yang diberikan Angga di masa kehamilanku ini. Padahal aku sudah membayangkan bahwa pengalaman pertamaku mengandung tanpa seorang pasangan akan menjadi sangat berat, penuh rasa sepi, dan diisi oleh kekosongan. Namun, tidak begitu kenyataannya. Disamping keluargaku, ada Angga yang dengan setia menemani.
Dia sebenarnya bisa saja pergi, tidak mempedulikan aku lagi, hanya karena aku tengah mengandung anak dari laki-laki lain. Dia bisa saja menelantarkan perasaan yang dia miliki untukku dengan alasan aku kini sudah tidak sendiri lagi, ada seorang anak yang kemungkinan besar akan menjadi beban bagi hubungan yang ingin dibangun. Dia bisa saja memilih wanita-wanita lain di luar sana, yang lebih cantik dan, terutama sekali, bebas. Tanpa tanggung jawab yang menunggu di rumah.
Namun, tidak. Dia tetap ada di sini, di sampingku. Memilih aku. Bahkan jauh sebelum aku memutuskan untuk membuka hati lagi untuknya.
Aku benar-benar berutang banyak pada Angga.
Kuletakkan pula tanganku di atas tangan Angga yang jauh lebih besar, lalu kubawa tangan-tangan itu mendekat ke bibirku. Kukecup satu per satu telapak itu. "Thank you. Thank you so much karena kamu sudah ada di sini, menemani kami, ya. Jujur, aku gak tahu kami bakal gimana kalau gak ada kamu."
Satu kecupan basah terasa di atas perutku. Lagi-lagi si bayi merespons dengan caranya sendiri. Semakin sering Angga memberikan kontak, semakin sering dia bergerak.
__ADS_1
Ya, Tuhan. Belum lahir saja, sepertinya bayiku sudah begitu menyukai Angga.
Bersambung ....