
Ola
Setelah hari itu, semua terasa hampir berjalan dengan mulus. Pergi dan pulang kerja bersama Angga atau Bang Oli. Makan siang ke mana pun aku suka. Kembali lagi ke kantor atau langsung pulang ke apartemen. Makan malam juga terserah padaku dan akan selalu ada yang mengantar.
Begitu setiap hari selama sebulan ini.
Setelah minggu kedua dijaga oleh Angga dan Bang Oli, Mama dan Papa mulai percaya kalau aku akan baik-baik saja dan akhirnya memilih mewujudkan keinginan mereka untuk berlibur keliling Eropa selama satu bulan. Mereka berpikiran dengan begitu, mereka akan siap mengerahkan seluruh jiwa dan raga untuk menyambut kedatangan cucu pertama keluarga Arifin di bulan April nanti.
Kehamilanku sudah memasuki bulan kesembilan. Melalui panggilan video, Mama terus menyarankan aku untuk mulai mengambil cuti dari urusan kantor. Papa bahkan menyarankan aku untuk benar-benar mundur dan menjadi silent partner saja di Swarga Desain agar bisa memusatkan diri untuk membesarkan buah hati.
Sembilan bulan yang lalu, bisa kupastikan bahwa aku akan langsung menolak ide ini dengan perlawanan penuh. Namun, sekarang, setelah menelan buku-buku perkembangan anak dan ilmu parenting, jujur saja aku merasa Papa dan Mama ada benarnya juga.
Oleh karena itu, aku mulai mempersiapkan kepergianku dengan memilih calon yang akan menggantikan posisiku di kantor. Dalam dua minggu, dengan bantuan dari Bu Renata yang mengaku masih berat hati melepaskan bos paling baiknya, Swarga Desain kini akan dikontrol oleh Bu Raya. Desainer senior yang baru pindah ke Jakarta.
Yeah, you heard that right. Aku tidak memilih salah seorang dari pegawai lamaku yang julid dan tidak profesional itu. In fact, aku memberikan mereka surat peringatan yang secara garis besar berisi; jangan julid atau keluar dari sini.
Well, sebagian dari mereka memilih untuk tetap berada di bawah naungan perusahaan kecilku. Mereka hanya tinggal membuktikan kemampuan mereka untuk menghilangkan sifat julidnya.
****
Angga
"Olavia, udah belum?" Gue kemudian mengetuk pintu kamarnya berkali-kali. Wanita pujaan gue itu sudah menghabiskan lebih dari satu jam di dalam sana.
What the hell is she doing really? Kenapa dia memiliki kecenderungan untuk membuat gue kehilangan akal sehat gue, sih? Hobi banget bikin gue parno.
"Olavia, Sa–" Sial. Gue hampir saja menyebut kata terlarang itu. Untung saja mulut gue masih bisa direm.
Selama hampir dua bulanan ini, jujur saja gue masih sering keceplosan. Namun, Olavia selalu berlagak tidak tahu atau tidak mendengar. Dia akan mengalihkan perhatiannya dari gue atau mencari sesuatu untuk dikerjakan di saat-saat gue bertingkah seperti orang tolol itu.
__ADS_1
Yaaah, mau gimana lagi. Gue rasa gue tidak akan pernah terbiasa untuk tidak memanggil wanita yang paling gue sayang itu dengan sebutan Sayang. So, what? Just sue me.
"Sampai kapan kamu mau di dalam sana? Aku kira tadi ada yang mau berangkat cepat biar sampainya juga cepat," canda gue masih dari balik pintu.
Tak lama terdengar suara kunci pintu diputar.
Gue segera mundur dua langkah dari pintu.
"Kamu, ih!" Gue tahu-tahu sudah dihadapkan dengan the love of my life yang tidak terlalu lovely. Tampangnya gusar. Dengan kening berkerut, mata berapi-api, dan napas keras, dia memandang gue. "Sabar dulu, kenapa? Kamu gak tahu, sih, gimana jadi ibu hamil. Make baju aja butuh perjuangan tahu, Ngga!" semprot dia.
Oops! Sepertinya gue salah lagi, Pemirsa.
"Sorry," pinta gue sambil meringis.
"Sorry, sorry. Enak aja kamu bilang sorry." Olavia mendengkus. "Sabar aja kenapa, sih? Kamu udah malas nganterin aku ke mana-mana? Kamu udah capek ngurusin aku? Udah bosan? Iya?"
Dia sekali lagi menghela napas panjang. Cara berdirinya yang tegang tadi sudah mulai mengendur.
"Good. Good." Sepelan mungkin gue memuji dia. "Sekarang, kasih kesempatan aku buat menjelaskan, ya, Olavia. Aku gak malas. Aku gak capek. Aku gak bosan. Aku nanya kamu udah siap apa belum karena kamu sendiri yang bilang tadi kalau kamu udah lapar, mau cepat-cepat sampai dan makan ubi bakarnya. Iya, kan? Aku cuma mau kamu mendapatkan apa yang kamu pengen aja, kok. Lagian kamu mau pakai baju apa aja juga udah pasti cantik banget."
Sialan. Gue tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji penampilan dia. Meski hanya memakai celana legging panjang berwarna hitam dan sport bra yang juga berwarna senada, Olavia adalah wanita paling cantik di dunia setelah Nyokap bagi gue. Hands down. Gue tidak peduli sama Jodie Comer atau the Kardashians yang katanya jadi wanita-wanita paling cantik di dunia.
Bullshxt.
Ini dia wanita yang paling cantik ada di depan gue.
And her most beautiful pregnant belly.
Fxck. Tidak ada yang tidak indah dari seorang Olavia Marie Arifin, wanita pujaan gue.
__ADS_1
"Udah. Kamu tinggal tambahin kaus aja biar nanti gak masuk angin di mobil." Gue akhirnya menyimpulkan tanggapan gue. "Aku tunggu."
"Eh, kamu mau ke mana?" Tiba-tiba dia menyambar lengan gue saat gue hendak berbalik.
Ya, pantas saja kalau gue bingung, kan? "Engg, aku mau ke ruang tengah. Nonton TV sambil nungguin kamu."
Perempuan didepan gue itu malah tampangnya jadi masam lagi. "Ih, kamu!" Dia berseru.
Okaaay. Ada apa lagi ini? "Iya, Sa– eh, Olavia. Ada apa?" Mampus! Hampir saja. Gue lalu mencoba untuk mengaplikasikan mantra yang baru saja gue beri tahu kepada wanita gue ini. Gue hirup napas dalam-dalam dan gue buang secara perlahan dan diam-diam. Ini yang penting. Diam-diam. Biar Olavia tidak salah kira lagi. Gue tidak mau berada di sisi jeleknya lagi.
Olavia gue yang tercinta itu mengulurkan tangannya. "Mana? Siniin!" tanya dan suruhnya dalam satu waktu.
Ya Tuhan, yang Maha Mengerti. Tolonglah hamba untuk mengerti permintaan wanita ini. "Apanya yang siniin, Olavia?" Gue bertanya dengan suara yang sengaja dilembutkan.
Keningnya semakin berkerut. "Baju! Tadi kamu suruh aku pake baju kaus, kan? Mana? Sini bajunya!"
Dia tidak mungkin sedang meminta itu, kan? Gue mencubit baju yang gue pakai dengan ujung ibu jari dan telunjuk. "Ini maksud kamu?"
"Olavia menyilang kedua tangan dan meletakkannya di atas perutnya yang besar. "Iya, apa lagi?"
Oalah. Dasar Angga tidak peka. Untuk kesekian kalinya, ternyata Olavia mau menggunakan baju yang sedang kupakai. Lantas gue buka saja baju itu di sana dan gue pakaikan ke dia. "Udah?"
Olavia menyurukkan hidungnya ke kerah baju kaus oblong polos yang barusan gue pakai dan menghirup napas dalam-dalam. "Udah," katanya sambil menghela napas dan tersenyum.
Damn. Gue suka sekali ketika dia melakukan itu. Gue suka sekali mengetahui bahwa Olavia menyukai aroma gue yang tertinggal di baju yang gue pakai itu.
God damn it. Cewek ini benar-benar!
Bersambung ....
__ADS_1