
Ola
Sejarah sungguh-sungguh mengulang kisahnya lagi.
Apa yang terjadi sekarang benar-benar terasa seperti deja vu. Si Beruang Kutub Raksasa itu kembali memperhatikan setiap gerak-gerikku sementara aku menyantap salmon teriyaki, nasi, dan cah buncis yang telah dibuatkan oleh Pak Joko. Namun, bedanya, sekarang kami ada di dalam kantor Angga, sebuah rumah kecil berkonsep open floor yang terletak di sudut kawasan, terpisah dari bangunan utama, akan tetapi tetap mengadopsi gaya industrial yang sama seperti yang dapat dilihat dari desain interior di Beniqno.
Pun, perbedaan juga terletak pada teman makanku. Meski orangnya adalah orang yang sama, akan tetapi dia bukan lagi si Tuan Beruang Kutub Raksasa Bertubuh Keras, Pemarah, Kurang Ajar, dan Suka Seenaknya lagi. Dia kini sudah berubah menjadi si Paling Lembut, Perhatian, dan si Paling Banyak Senyum.
Nada bicaranya sudah lunak, penuh kesabaran. Dia juga sengaja membawaku ke kantornya, bukan mengambil salah satu meja di restoran, karena mempertimbangkan bau dari menu pilihan pengunjung yang sudah pasti bercampur di udara dan tidak ingin mengganggu ketenangan aku dan bayiku. Atau dalam kata lain, dia tidak ingin aku mual dan muntah lagi.
How considerate of him. Am I right?
Apalagi ditambah dengan dia yang selalu melemparkan senyum itu di setiap kesempatan. Senyum yang menjadi kelemahanku semenjak kami remaja, sepuluh tahun yang lalu. Senyum yang ....
No, no, no, no. Jangan berpikiran ke sana, Ola. Jangan. Kalau kamu tidak ingin merusak suasana hati dan nafsu makan kalian, jangan biarkan pikiran kamu melanglang buana ke sana. Sudah, sudah. Stop. Stop overthinking dan perjalanan down to memory lane kamu sekarang juga!
Aku berdeham dan meraih gelas air putih yang ada di atas meja. Berharap air yang kuteguk itu tidak hanya bisa membersihkan kerongkongan dari makanan yang tersekat di sana, akan tetapi juga menghanyutkan pikiran-pikiran tadi dari dalam kepalaku.
Seorang wanita boleh-boleh saja berharap, bukan?
"Aman?" Angga bertanya dengan kerutan di antara kedua alisnya.
Aku berdeham sekali lagi. Rasa khawatir yang mewarnai suaranya membuatku sedikit ... salah tingkah. "Yeah," jawabku setelah sekali lagi membersihkan tenggorokan. "Aman, kok. Cuma seret aja. By the way, makanannya enak banget. Nanti tolong bilangin makasih banyak sama Pak Joko dari gue, ya."
"Okay, nanti aku sampaikan." Dia lalu mengangguk ke arah piringku. "Ya udah. Kalau gitu habisin, gih, makanannya."
"Iya." Aku sedang melahap sepotong salmon teriyaki dari piringku ketika sebuah keinginan muncul di dalam diri. Dan seperti keinginan ibu-ibu hamil lainnya, itu harus segera terpenuhi. "Eh, Ngga."
Pria yang sudah menghabiskan makan siangnya—bayangkan saja, dia juga meminta dibuatkan menu yang sama denganku untuk berjaga-jaga—segera melepaskan pandangan dari ponselnya yang baru saja berdenting dan menatapku. "Ya?"
Well, nada lembut yang digunakan Angga sekarang benar-benar membuat aku dan organ-organ dalam yang berhubungan dengan perasaan ini jadi menggelinjang, dan itu menciptakan sensasi yang aneh dan tentunya berbahaya buatku. Aku ....
__ADS_1
Shxt, Ola. Not now. Jangan pikirkan apa pun soal dia dan senyumnya dan sikapnya dan perasaan apa yang disulut oleh perubahan drastis yang terjadi dalam dua bulan ini. Please, I'm begging you, Ola. Please.
Shxt. Okay, okay.
Aku tidak menyangka bahwa hatiku bisa memohon seperti itu.
Inhale, exhale.
"Gue mau milkshake pisang campur kurma. Ada gak di dapur?"
Kini, salah satu alis yang bertaut penuh risau tadi naik tinggi di dahinya.
Nah, aku bisa menangani sikapnya yang seperti ini. Seperti sebelum dua bulan ini.
Namun, kepuasan batinku hanya bertahan beberapa detik saat bibirnya mengatakan "done" tanpa memberikan protes atau ejekan terlebih dahulu. Selanjutnya di kalakian dia sekonyong-konyongnya mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di sana. "Ada lagi, gak?" tanyanya santai, seperti milkshake pisang dan kurma adalah permintaan standar yang didengarnya sehari-hari.
Atau, jangan-jangan ....
God damn it.
Kenapa, sih, aku ini?
"Olavia?"
Suara Angga berhasil melepaskan aku dari perangkap pikiranku sendiri. "Eh, ya. Sorry."
"Kamu masih kepengen sesuatu yang lain, gak? Niat aku, sih, biar sekalian dibikinin sama orang dapur. Tapi, kalau enggak ada, nanti juga gak apa-apa, kok. Yang penting, kalau kamu mau sesuatu, jangan sungkan minta sama aku. Ya?"
Senyum itu lagi.
Tatapan yang teduh itu lagi.
__ADS_1
Sialan.
Aku kembali berdeham. Kuselipkan rambut yang kugerai ke belakang telinga sambil tersenyum dengan awkward. Aku mengangguk dengan awkward, menjawab pernyataan Angga tadi dengan "ya, oke" yang parau, yang membuatku terpaksa benar-benar berdeham kali ini dengan awkward. Kesudahannya aku menunduk, mengambil garpu, dan kembali makan. Dengan gerakan yang awkward.
Aku harap aku bisa kembali melanjutkan makanku. Namun, setelah berusaha untuk tidak overthinking agar tidak merusak nafsu makan, nafsu makan yang kuperjuangkan akhirnya tersapu olwh ombak salah tingkah karena sikap manis si Anggarasyah Emilio Addams yang duduk di seberang meja.
Sialan.
"Loh? Kok gak dihabisin? Tinggal dikit lagi, tuh." Angga berkomentar saat aku dengan berat hati akhirnya harus mendorong piring agak ke tengah sebagai tanda telah selesai.
"Udah kenyang," timpalku sembarangan.
Yeah, right. Kalau udah kenyang, terus siapa, dong, yang minta milkshake pisang campur kurma barusan? Hm?
Oh, shxt.
Angga tak malu menampakkan giginya saat tertawa dan menggeleng. "Kamu, ya," ujarnya seraya meletakkan kedua siku di atas meja dan menopang dagunya yang dipenuhi oleh rambut-rambut baru tumbuh dengan kepalan tangan. Senyum itu masih mengembang di wajahnya. "Ya udah, gak usah dipaksain kalau udah kenyang. Mau gerak dulu, gak? Jalan-jalan keliling sini. Siapin tempat buat milkshake-nya."
"Ah, saran yang bagus. Oke." Aku lantas menggeser kursi dan bangkit dari tempat duduk. Bukannya aku benar-benar harus "menurunkan" makanan yang kusantap tadi demi menyediakan tempat untuk milkshake-ku seperti yang Angga katakan, hanya saja berdiri dan berkeliling ruangan enam kali enam meter ini membuatku terhindar dari pengamatan cowok itu.
Baguslah. Karena aku sudah lelah ber-salah tingkah ria di depannya.
Sepatuku sudah dari tadi kulepas dan kuganti dengan sandal rumah yang disediakan Angga di dekat pintu. Otakku segera saja memfokuskan indra pada rasa sandal yang sedang kupakai itu. Hm. Aku jadi ingin tahu siapa saja yang sudah pernah mengunjunginya di sini dan menggunakan sandal ini?
Eergh, Ola!
Kegelengkan kepalaku sekilas, berusaha melakukannya dengan sehalus mungkin agar Angga tidak menyadari huru-hara yang sedang terjadi di dalam diriku.
Andai saja aku tahu bahwa kekacauan di dalam sini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang akan terjadi.
Bersambung ....
__ADS_1