
Ola
Bang Oli datang keesokan paginya. Dia langsung ke rumah sakit setelah dari bandara. Setelah melihat Oleander, dia mendongak dan menatapku sejurus. "Did he know?"
Deg.
Pertanyaan yang sudah lama sekali kuhindari. Pertanyaan yang sudah begitu lama kuabaikan. Bukan karena aku tidak mengetahui jawai, akan tetapi karena jawaban itu terlalu menyakitkan sehingga mereka-reka pun terasa lebih baik.
Bisa kurasakan tatapan-tatapan dari mereka di kulit. Namun, aku masih memilih untuk menunduk, memandangi sosok mungil yang sedang terlelap dengan tenang di dalam gendonganku, dan mengedikkan bahu. Semuanya kulakukan dalam keadaan diam seribu bahasa.
Angga, yang selalu berusaha sekuat tenaga untuk melindungi aku, angkat bicara. "Oli, man. Gue rasa sekarang bukan waktu yang tepat buat bahas hal ini," bujuk cowok yang semula duduk di kursi samping tempat tidurku. Sekarang dia sudah berdiri dan berjalan mendekat untuk kemudian berdiri di depan kami, menjadi penengah antara aku dan Bang Oli.
Aku sungguh bersyukur sekali dengan kehadiran lelaki tersebut di dalam hidupku, yang sekarang juga hidup Oleander. Keberadaannya tidak hanya memberiku tempat untuk bersandar, untuk mengadu, untuk berbagi, tempat bagiku untuk mendapatkan kekuatan, akan tetapi juga sebagai pelindung. Bersamanya, aku merasa lebih aman.
"No shxt, man. Tapi, lo pikir apa gak sepantasnya kita mulai memikirkan dan mencari waktu untuk membahasnya, ha?" Bang Oli membantah dengan setengah berbisik. Dia di kalakian memandangku dan sahabatnya itu bergantian. "Lo lihat, kan, betapa miripnya mereka? Lo sadar, kan, La? Ole itu mini me-nya si be–dia! Setiap orang yang tahu kalau lo dan dia pernah dekat akan bisa mengambil kesimpulan mereka sendiri."
Aku memandang anakku yang terima kasih Tuhan tidak merasa terganggu dengan bisik-bisik yang sedang terjadi di sekitarnya. Dan aku tidak dapat mengelak.
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Bang Oli adalah benar adanya. Oleander merupakan versi mini dari seorang Owen Miller. Rambutnya, bibirnya, bentuk wajahnya. Menilik dari warna bola matanya sekarang, aku juga akan berasumsi bahwa semakin hari warna manik-manik itu akan semakin terang.
Persis Owen.
Kucoba sebut nama itu berkali-kali di dalam hati dan kutunggu rasa sakit yang kurasa akan datang. Namun, sedikit saja tidak ada. Hatiku tidak merasakan apa pun ketika mendengar bahkan menyebut namanya.
Terima kasih banyak, Tuhan.
"Yeah, you are right." Aku akhirnya menanggapi ucapan Bang Oli. "Oleander memang mirip sekali sama cowok itu. Dan siapa pun yang pernah lihat kami berdua bisa mengkalkulasikan dua ditambah dua. Tapi, gue ingat betul kalau hubungan, ya, kalau itu pantas disebut hubungan, yang kami jalani tidak begitu diketahui banyak orang, Bang. Dan kalaupun ada, sebagian besarnya adalah orang-orang di circle gue. Lo, Angga, Raisa, dan mungkin karyawan di Beniqno yang pernah melihat kami makan atau minum bareng. Itu aja. Oh!" Aku tiba-tiba ingat satu detail. "Mungkin orang-orang di studio tempat dia rekaman. Tapi, gue rasa mereka gak bakal peduli amat dan gak mau tahu dengan urusan orang lain yang gak penting seperti gue. So ...." Lagi-lagi kunaikkan bahuku sebelah.
Angga juga memilih untuk menambahkan pendapatnya. "Come on, bro. Tunggu dulu lah, paling enggak sampai saat Ola udah dapat waktu istirahat yang cukup. Atau, sampai kita udah ada di rumah. Gak di sini tempat buat ngobrolin soal se-private ini, bro. Gak di depan Ole juga. Oke? Lo pasti paham kalau ketegangan, energi negatif, atau hal-hal semacamnya akan berpengaruh gak baik buat emosi dia, kan? Dan gue yakin kita semua mau menjaga Oleander dengan sebaik yang kita bisa."
Bang Oliver Andreas Arifin itu akhirnya mengeluarkan napan panjang. Dadanya mengembang dan mengempis seiring dengan karbondioksida yang dikeluarkannya dari dalam tubuh nan dibawa untuk mengunjungi gym secara berkala. "Fxck. Oke, oke." Dia menunduk dan mengangguk pada lantai di bawah pandangannya. "Shxt. Sorry. Sorry, Lala," pintanya saat mendongak. "Maafin gue. Sorry. Sorry."
Di kalakian dia melingkarkan lengannya di sekitar bahu dan mengecup keningku. Dia juga menyelipkan ujung jari telunjuknya ke dalam kepalan tangan Oleander yang sedikit terbuka. "Sorry, La. I guess I was just nervous. I am still nervous actually. Melihat bayi yang udah lo lahirkan, shxt, elo, La. Adik gue satu-satunya. Melihat anak lo dengan mata dan kepala gue sendiri rasanya begitu ... menegangkan. Sekaligus mengharukan. Dan gue ... gue kira gue pasti gugup karena emosi-emosi itu."
"It is different, you know." Bang Oli melirikku sebentar sebelum mengembalikan pandangannya pada Oleander lagi. "Pas dia ada di dalam perut lo dibanding sekarang saat dia sudah ada di sini. Semua ... dan gue maksud semuanya ... jadi terasa sangat nyata. Emang beneran terjadi. Dan gue merasa gue agak gak siap menghadapi banyaknya hal yang kayaknya gak gue ketahui. Gue ... gue merasa gagal menjadi kakak lo. Gue merasa gak becus untuk melindungi dan menjaga lo. Gue ... gue rasa Papa dan Mama juga kecewa banget sama gue, La. Tapi, ya ... karena mereka adalah orang tua yang paling baik di dunia ini, jadi mereka pasti gak akan pernah bilang itu ke gue. Tapi, gue yakin banget mereka merasakan itu."
__ADS_1
Well, that's ... that's really heavy. "Gue gak tahu kalau lo merasa kayak gitu, Bang. Sumpah. Dan lo emang seharusnya gak merasa kayak gitu karena lo gak salah apa-apa." Sekonyong-konyongnya insting untuk membela saudara kandungku itu terjaga. "Gue yang bikin semua keputusan ini sendiri, Bang, dan gue juga yang akan menerima konsekuensinya. Despite all the things that happened, seperti yang sudah sering gue bilang, gue tidak menyesal dengan kehadiran anak gue. Karena gue yakin banget Tuhan ngasih apa yang kita butuhkan dan dialah yang gue butuhkan."
Kupeluk pinggang Bang Oli dengan lengan kiri. "Udah, lo gak usah kepikiran gitu, Bang. Gue juga udah cerita semuanya sama Mama dan Mama gak pernah bilang kalau mereka kecewa sama lo. Mereka aja gak marah sama gue yang bikin onar, Bang. So, you just have to forgive yourself. Mungkin sambil beliin Oleander mainan sampai dia besar nanti."
"Kalau itu, sih, gak usah lo minta juga bakal gue kerjain. Udah ada di dalam kepala," ungkap Bang Oli yang kini telah bersemangat lagi. Hilang sudah kabut hitam yang membayanginya tadi.
"Wh, Yang, sini, deh, si Ole. Aku bantu pindahin ke tempat tidur. Biar kalian bisa lebih enakan ngobrolnya. Lagian kamu pasti capek megangin dia terus." Angga menimbrung.
Aku menyaksikan betapa cepatnya kepala Bang Oli bergerak dari semulanya menatap Oleander lantas berputar sembilan puluh derajat untuk menoleh pada sahabat yang berdiri di sampingnya. "What the ...? Yang? Apa gue gak salah dengar? Ha? Kunyuk, lo ngomong apa barusan?" Dia kembali menatap aku dan Angga bergantian dengan alis yang tinggi di dahi.
Si Angga masih punya nyali untuk cengengesan. "Sorry, man. Gur belum sempat cerita sama lo karena ke-hectic-an beberapa hari ini. Ya, gitu, deh." Cowok itu mengedikkan bahu. "Gue barusan manggil adik lo Sayang."
Bang Oli menatapku menyelidik. Aku juga ikut-ikutan cengengesan. "Iya, Bang."
Entah apa yang aku iyakan. Namun, sepertinya Bang Oli bisa membaca makna-makna yang tersirat. Mungkin sebab itu pula dia mengerang. "Ugh. Ternyata banyak banget yang perlu kita bahas, ya. Sialan. Kayaknya gue udah terlalu sibuk banget sama kerjaan sehingga gue tidak tahu sama apa yang sudah terjadi sama sahabat dan adik gue sendiri."
Bersambung ....
__ADS_1