Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
28. Kenangan Rasa Pahit-Manis


__ADS_3

Ola


Tak pernah terbayangkan olehku kalau rasa milkshake pisang dan kurma akan seenak ini. Serius. Sumpah demi apa. Rasanya benar-benar lezat. Nikmat. Pas di lidah.


Atau, setidaknya begitulah yang dipikirkan oleh lidah dan perutku saat ini.


"Gimana, udah selesai? Enak gak?" Angga yang duduk di sofa di seberangku bertanya.


Aku mengangguk sembari meletakkan gelas di atas meja kopi di antara kami. "He-eh. Udah, nih. Enak banget." Kembali kuraih gelas itu dan menghirup isinya sampai terdengar bunyi-bunyian dari sedotan.


Dia tergelak. "I can tell," ujarnya dengan senyum yang tak pudar. "Abis ini mau ke mana? Mau balik ke kantor lagi atau gimana?"


Mendengar kata kantor saja rasanya badanku yang sudah lelah menjadi semakin payah. "Enggak, ah, kayaknya. Capek banget aku. Balik ke apartemen aja, Ngga. Aku mau istirahat."


"Oke." Lelaki itu mengangguk dalam, terlihat sekali sangat menyukai ide ini. "Kalau gitu aku mau ngobrol bentar sama Dimas boleh, ya?"


"Iih, gak usah pake nanya aku juga keles." Aku mencibir. "Ya, boleh lah. Take your time. Aku juga palingan mau telepon Bu Renata untuk bilang kalau aku gak balik lagi terus selonjoran aja. Gak apa-apa, kan, kalau aku tiduran di sini?"


"Gak apa-apa, kok. Kamu mau ngapain aja juga boleh, aku gak bakal larang," ucapnya enteng di kalakian.


"Yeee, kayak aku yang mau ngapa-ngapain aja."


Dia tertawa mendengar protes dariku. "Ya udah, aku ke depan bentar, ya."


Kulihat dia berjalan mengitari meja untuk mendekatkan diri padaku. Saat tubuhnya mulai membungkuk, aku mengangkat tangan untuk menghentikan gerakannya. "Eits! Kamu mau apa?" todongku sambil menatap matanya.


Ekspresi bingungnya terlihat lucu bila disandingkan dengan tubuh yang kekar dan mendominasi itu. Seharusnya yang ada di wajah tampannya hanya raut yakin dan percaya diri. Bukan yang ada sekarang ini. "Aku ... aku ... aku mau .... Aku mau ... ini." Akhirnya dia dapat menyelesaikan kalimatnya dengan melakukan apa yang dia maksud.


Mengecup keningku.

__ADS_1


Well ....


But, hmph ....


"Ngga." Aku mengembuskan napas panjang. "Kamu gak bisa terus-terusan memperlakukan aku dengan cara seperti ini. Ini, tuh, sikap yang terlalu manis untuk dua orang yang hanya sekadar berteman. Aku ... aku, kan, udah bilang ke kamu kalau aku tidak mau merasa terbebani. Dan itu ... apa yang kamu baru saja lakukan bikin aku kepikiran, Ngga. Please, kamu mau ngertiin perasaan aku, kan?"


Dalam tengadah, bisa kulihat ekspresi-ekspresi yang melintas di muka cowok itu. Bingung berubah menjadi rasa mengerti yang bercampur dengan sesuatu yang mengganjal hatiku.


Apakah itu sedih yang tampak di sana barusan?


Lalu, kenapa aku juga ikut-ikutan menjadi sedih?


Diusirnya cepat-cepat apa yang ada di dalam hatinya dengan mengulas senyum di bibir. "Oke. Aku minta maaf, ya." Angga kemudian juga menghela napas panjang. "Sialan. Banyak banget kesalahan aku sama kamu," komentarnya sambil berseloroh.


Namun, aku tahu kalimat itu bukan sepenuhnya bercanda. Mengetahui Angga, aku yakin dia sedang menyiksa dirinya dengan rasa itu secara berlebihan.


"No, no, no. It's okay. Enggak apa-apa, kok, Ngga. Don't beat yourself up. Aku cuma mau kasih tahu batasan-batasannya aja. Sebelum ... sebelum ... yaaah, sebelum mengambil keputusan apa pun di kemudian hari," jawabku. Kukedikkan bahu dengan seenaknya untuk menyembunyikan salah tingkahku


Aku betul-betul mengerti apa yang dimaksudkannya. Namun, aku juga harus bisa mengambil sikapdl demi kebaikan aku dan bayiku. Satu hal yang dapat aku pelajari dari pengalamanku bersama Owen adalah, aku tidak ingin menjadi seseorang yang buta akan obsesiku untuk menemukan pasangan sejati. Aku tidak ingin terlalu menaruh kepercayaan besar pada perasaanku sekarang. Kini, aku akan memberikan kesempatan kepada logika untuk memimpin perbuatanku.


Kuanggukkan kepala pada pria yang masih berdiri di depanku itu. "Okay, aku ngerti."


"Thank you," sahutnya lekas-lekas.


"Sama-sama."


Dia lalu berdeham. "Ya udah, aku ke luar dulu, ya. Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung telepon aku aja. Okay?"


Aku mengangguk. "Okay."

__ADS_1


Dengan begitu Angga berbalik dan berjalan. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan tertutup.


Kuhela napas panjang-panjang. "Oh, my God," gumamku pada ruangan yang kosong. Apa yang baru saja terjadi?


Pandanganku otomatis menoleh dan mengkonfirmasi sesuatu. Bingkai foto yang pecah itu masih ada di sana.


Angga pasti sudah lupa dengan keberadaan pecahan-pecahan kaca tersebut karena terlalu fokus mengurusi aku yang kehabisan tenaga sebab emosi-emosi yang kualami tadi.


Badan otomatis berdiri tegak dan kaki tanpa komando mulai berjalan ke arah pigura di lantai. Dengan hati-hati aku berjongkok dan mengangkat pigura itu menggunakan ujung-ujung jari.


Untung pecahnya hanya berupa rekahan besar-besar. Tak ada bagian halus yang akan membahayakan orang lain.


Segera aku berdiri dan menuju tong sampah di sudut ruangan, dekat dapur minimalis di mana kami menikmati makan siang tadi. Kubuang pigura dan kacanya. Bersama dengan foto di tangan, aku kembali duduk di sofa tempatku semula.


Di atas kertas itu terlihat sepasang muda-mudi yang tersenyum dengan sangat lebar ke kamera. Angga menggunakan gaun dan toga wisudanya sedang merangkul aku yang waktu itu memakai bodycon dress dengan sulaman payet berwarna baby pink.


Sebenarnya itu bukanlah foto kami berdua saja, akan tetapi bertiga dengan Bang Oli. Namun, waktu itu kami masih sangat menjaga sikap agar abangku tidak curiga. Jadilah, karwna tidak ada foto berdua, dia menggunting bagian Bang Oli dan menyisakan kami saja.


Aku ....


Seperti saat pertama kali mengetahui apa yang telah dilakukan Angga terhadap foto tersebut, kini pun aku masih merasa sangat ... tersipu. Namun, getir dan manis menjadi satu kala aku ingat apa yang terjadi setelah siang itu.


Ya, Tuhan yang Maha Pengampun dan Maha Besar. Tolong ajarkan aku bagaimana cara untuk melepaskan perasaan pahit yang telah lama bersarang di dalam hati ini.


Kuelus permukaan foto itu sekali, dua kali, tiga kali, sebelum aku berdiri dan meletakkannya kembali di atas meja kerja Angga. Aku berharap, ketika aku melihat foto itu lagi di masa depan, perasaan yang disulutnya hanya suka, tidak ada lagi duka yang menodainya.


Aku berharap.


Semoga saja Tuhan mengabulkan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2