
Angga
"Angga? Kenapa lo bisa ada di sini?"
Hm. Let's see. Karena gue menyetir mobil gue dari rumah gue ke rumah ini?
Namun, gue tidak mengatakan itu pada dia. Instead, gue hanya mengedikkan bahu dan mendudukkan bokong gue di samping Olavia. Saat gue bertemu pandang dengan orang tua wanita pujaan gue dan abangnya yang juga sahabat gue, gue seketika dibuat gugup.
Om Arifin sedang memandang gue lekat-lekat dari balik kacamata yang sedang bertengger di pangkal hidungnya. Tante Yuni juga sedang mengerutkan dahi. Ekspresi yang sama yang gue lihat di wajah the love of my life barusan. Dan, Oliver, sahabat gue si Kampret itu, sedang berusaha menaham senyum dengan menggigit bibir dan menutupnya dengan telapak tangan. Berpura-pura mengusap sesuatu di area sana.
Sialan benar memang itu makhluk.
Gue berdeham dan mencoba menguatkan diri sendiri di dalam hati. Okay, Anggarasyah. Lo bisa menghadapi ini. Lo bisa. Lo harus bisa meluluhkan hati Om Arif dan Tante Yuni. Lo harus bisa meyakinkan mereka. Demi wanita pujaan yqng sedang duduk di sebelah lo ini. Lo gak pengen lihat dia nagis lagi kayak tadi, kan?
Yap, seratus! Cowok, kalau udah cinta mampus sama satu cewek, udah enggak ada lagi akal sehatnya. Apa pun dikerjakan asal orang yang dia cintai bahagia. Termasuk berjanji di depan orang tua sahabat lo kalau lo akan menjaga anak perempuan mereka dengan sepenuh hati padahal itu cewek belum jadi siapa-siapanya elo.
Cemen begete gak, tuh?
"Maafkan saya, Om, Tante. Saya masuk tanpa izin dan nyelonong ke tengah-tengah percakapan keluarga seperti ini. Saya cuma gak tahan lihat Olavia sedih. Jadi, saya mohon izin untuk ikut berbicara."
Aduh, sekalian aja lo ngaku cinta mati sama doi sekalian, Kunyuk.
__ADS_1
"Om dan Tante benar untuk khawatir soal Olavia, akan tetapi dengan kondisi seperti ini bukan berarti Olavia tidak bisa mendapatkan kehidupannya kembali, bukan? Dia sudah dewasa, kita semua juga sudah aware dengan kondisinya. Jadi, mungkin kita bisa membiarkan Olavia untuk kembali beraktivitas dengan Om dan Tante tetap melakukan pengawasan jarak jauh.
"Dan, seperti yang Om dan Tante ketahui, kediaman saya, Oliver, dan Olavia sama-sama berada di sekitaran Jakarta Selatan. Dengan begitu saya dan Oliver akan bisa standby dan mencapai Olavia dengan cepat jika ada keadaan darurat.kami juga bisa mampir setiap hari untuk mengecek keadaan Olavia sepulang dia dari kantor, Om, Tante.
"Saya juga bisa menyuruh staf dapur di Beniqno untuk menyiapkan menu sehat bagi Olavia setiap hari sehingga dia tidak perlu makan makanan cepat saji atau yang perlu dipanaskan di oven. Kurir bisa mengantarkannya ke kantor Olavia setelah selesai disiapkan, atau ke mana saja Olavia berada di saat itu. Om dan Tante tidak perlu cemas soal kualitas bahan makanan dan menunya. Saya sendiri yang pastikan bahwa kami menggunakan bahan-bahan terbaik yang bisa didapat di pasaran.
"Sedangkan soal transportasi, saya sendiri yang akan mengantarkan Olavia ke kantor dan menjemputnya untuk pulang. Begitu juga jika sekiranya dia perlu melakukan meeting di luar kantor. Atau, kalau saya benar-benar sedang tidak bisa menggeser urusan saya, saya akan menyuruh orang kepercayaan saya untuk menjadi sopir Olavia saat itu."
Gue kemudian melirik ke arah sahabat gue sekilas sebelum kembali menatap Om Arif dan Tante Yuni lagi. "Yang jelas, saya yakin saya dan Oliver bisa mengatur jadwal kami sehingga Olavia tidak akan sendirian dan tanpa pengawasan, Om, Tante."
Okaaay. Gue merasa sedang melakukan pitching sebuah produk di depan investor. Namun, kalian tahu yang gue lakukan sekarang lebih sari sekadar menjual barang. Misi gue adalah membuat orang tua wanita pujaan gue yakin seyakin-yakinnya kalau anak perempuan mereka satu-satunya ini akan tetap aman meski harus kembali bekerja dan berada di luar pengawasan mereka secara langsung.
"Saya paham, Om, Tante. Kita semua menginginkan yang terbaik untuk Olavia dan si baby. Kita tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada salah satu atau, amit-amit, keduanya. Akan tetapi, kita juga harus mempertimbangkan keinginan Olavia, kan? Kalau kita tetap memaksakan kehendak dan menyuruhnya untuk tetap di rumah sementara dia menginginkan hal yang berbeda, bukankah akan menjadi masalah nantinya?
Sejenak hanya ada keheningan. Gue mengalihkan perhatian dari Om Arif dan Tante Yuni yang kini sedang bertatapan dan sepertinya mulai melakukan percakapan di dalam kepala mereka kepada wanita yang dulu pernah bercerita ke gue bahwa namanya dimodifikasi dari sebuah nama yang melambangkan perdamaian dan fertilitas agar tidak terlalu pasaran itu. Dan, memanglah Tuhan Maha Mengabulkan. Doa yang Om Arif dan Tante Yuni simpan di dalam namanya benar-benar terkabul.
Bahkan Tuhan memberikannya lebih dari itu. Lihat saja ekspresinya saat ini. Alis kirinya tinggi mendaki dahi sementara matanya menantangku seakan-akan ingin mengatakan, "Really? Yakin lo bisa ngurusin gue dua puluh empat jam sehari tujuh hari seminggu?"
"Oh, for real, baby. Kamu hanya belum tahu saja bagaimana aku kalau sudah benar-benar bertekad begini." Gue pun menjawab tantangannya itu di dalam hati.
Well, look at us! Kami juga bisa berkomunikasi lewat tatapan seperti pasangan yang sudah menikah lebih dari tiga puluh tahun di seberang kami. Woo-hoo!
__ADS_1
"Well, baiklah." Tiba-tiba suara Om Arif memecah keheningan yang beberapa waktu yang lalu sempat menguasai ruangan. "Papa dan Mama setuju dengan saran dari Angga asal kalian bisa memegang janji dan bisa dipercaya. Kalian dengar?"
Gue mengangguk dengan mantap. "Saya berjanji, Om, Tante."
Oliver mengembuskan napas dan mengikuti langkah gue. "Okay. Aku juga," katanya tanpa ragu.
Namun, belum terdengar suara dari wanita yang sedang diperjuangkan.
"Olavia?" Om Arif akhirnya bertanya.
Gue serta-merta menoleh padanya lagi. The love of my life ternyata tengah asyik menggigit bibirnya sendiri.
Gue juga jadi pengen.
Eh!
Okay, Angga. Jaga pikiran elo. Jangan mikir yang aneh-aneh sekarang. Bukan waktu dan tempat yang tepat, Tolol!
Okay, okay. Gue memutuskan untuk menunduk saja. Lebih aman.
"Gimana?" Kalakian terdengar lagi suara dari Om Arif. "Apakah kamu bisa berkomitmen untuk memenuhi persyaratan yang disarankan oleh Angga? Kalau bisa, then the deal will be sealed. You will get to work. Tapi, kalau enggak, Papa minta maaf, Sweetheart, kamu terpaksa harus tetap berada di rumah sama Papa dan Mama."
__ADS_1
"No!"
Bersambung ....