Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
39. Akhirnya Datang Juga


__ADS_3

Angga


Butuh waktu hampir satu jam bagi gue untuk menemukan semua pesanan Olavia. Gue mungkin saja sengaja agak berlama-lama di jalanan demi memberikan kesempatan bagi darah gue untuk menjadi benar-benar dingin sebelum kembali ke apartemen dan bertemu dengan sumber yang menjadikannya panas in the first place.


Gue tidak mau Olavia melihat kebejatan gue hanya karena mendengar suara atau melihat sedikiiit saja kulit wanita itu.


Damn my hormones. Udah akhir dua puluhan masih saja gampang tersulut seperti remaja belasan tahun yang baru puber.


Namun, dalam pembelaan gue, gue yakin tubuh gue bereaksi seperti ini karena dia adalah Olavia. Dan gue bisa menjadikan satu dekade kesendirian gue sebagai buktinya. Selama sebelas tahun ini gue sudah hidup sebagai "jones", jomlo ngenes dengan alasan yang sama. Because no one can get me up like she did.


Literally no one. Karena setiap gue ingin memulai, selalu terbayang wajahnya, aromanya, sentuhannya. Dan organ gue akan loyo seketika sewaktu sadar kalau yang ada di depan gue bukan dia.


Sekarang, ketika dia sudah berada di dalam pelukan gue, satu per satu organ gue mulai berfungsi dengan baik lagi. Terlebih lagi yang itu. Gue bersujud syukur sekaligus mengutuk kenyataan ini. Ternyata gue masih sehat. Namun, sekarang bukan saat yang tepat untuk berurusan dengan kebutuhan gue yang tidak terlalu penting tersebut.


Dengan beberapa kantong di tangan, gue berusaha untuk bermanuver agar bisa membuka pintu apartemen tanpa menjatuhkan salah satu dari bawaan gue. Sesaat setelah gue masuk, gue segera disambut oleh wanita yang paling cantik, bersih, dan wangi serta memakai dress rumahan (halah, bilang daster aja kali. Sok pake bahasa dress rumahan segala lo, Ngga!) yang super duper cute.


Tentu saja penampakan itu berhasil menyulut hormon dan menciptakan gonjang-ganjing di dalam tubuh gue. Sabar, Angga. Tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan. Sekali lagi. Dan lagi.


"Hey, Sayang. Sorry lama, ya. Aku harus muter-muter dulu nyariin bubur jagungnya." Gue beralasan saat menyusul dia ke sofa. Gue letakkan kantong-kantong plastik itu di atas meja kopi. "Aku ambilin piring dulu. Kamu tunggu sini aja." Gue kecup keningnya dan segera berbalik.


"Aku juga mau ikut bantuin ka–oh, my God!"

__ADS_1


Serta-merta gue berbalik lagi menghadap ke Olavia yang baru saja berteriak histeris. Dan gue juga ikut-ikutan histeris melihat apa yang sedang terjadi di hadapan gue. "Ya, Tuhan, Sayang!" Gue lantas mengeluarkan ponsel yang ada di saku celana dan mencari kontak Dokter Sheila. Sambil menunggu panggilan tersambung, mata gue tidak lepas dari air yang mengalir di sepanjang kaki wanita gue dan membentuk genangan di lantai.


Setelah beberapa saat berlalu, gue baru bisa memusatkan perhatian pada Olavia. Gue baru sadar kalau dia kini gemetaran. Shxt. Langsung saja gue sentuh tanda speaker di layar sehingga gue bisa memegang ponsel di tangan sambil terus memantau sambungan dan menenangkan wanita itu di waktu yang bersamaan.


Angkat teleponnya, Dokter, angkat!


Gue elus rambutnya dengan pelan dan gue kecup keningnya. Gue lakukan itu secara bergantian sembari terus mengucapkan, "It's fine, Sayang. It's fine. Your water just broke. Gak usah panik. Kita masih punya waktu."


Saat panggilan kedua gue tetap tidak mendapatkan jawaban, gue lantas memutuskan untuk menjemput bola saja. "Sekarang, kita akan jalan ke rumah sakit. Kamu yang tenang, ya. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan pastikan kamu dan bayi kita akan baik-baik saja. Okay?"


"O-okay. O-o-kay," jawabnya dengan suara yang bergetar.


Dengan lengan yang saling melingkar di pinggang satu sama lain, kami melangkah menuju ke luar apartemen dan segera menaiki lift yang thank God sudah standby menunggu. Terus saja gue elus rambutnya dan gue kecup kening yang muali basah oleh keringat itu. "Calm down, Sayang. Everything will be okay. Ada aku di sini."


Begitu banyak emosi yang terkandung di dalam dua kata itu. Emosi-emosi tersebut berhasil meraih ke dalam diri dan meremas hati gue. "Iya, Sayang. Aku tahu. Aku tahu. Tapi, kamu harus tetap tenang, okay? Aku ada di sini. Aku akan ada di sana. Aku akan selalu ada di samping kamu."


"P-promise?"


"I promise."


****

__ADS_1


Di perjalanan menuju rumah sakit pun, gue terus menghubungi Dokter Sheila hingga dia menjawab. "Ya, Angga?"


"Dok, Olavia dalam perjalanan ke rumah sakit. Ketubannya baru saja pecah!" Gue langsung saja memuntahkan informasi itu pada ponsel yang terhubung dengan perangkat bluetooth mobil.


"Oke. Saya akan segera siapkan ruangannya."


****


Saat gue menghentikan mobil di depan lobi IGD Rumah Sakit Ibu dan Anak Sehati, dua orang tenaga medis sudah bersiap dengan satu kursi roda di sana. Mereka membuka pintu dan membantu Olavia untuk berpindah tempat sebelum membawanya pergi. Gue tentu saja ingin segera menyusul wanita gue. Jadilah gue lempar saja kunci mobil sembarangan pada sekuriti yang sedang berdiri tak jauh dari kami sambil meneriakkan instruksi, "Tolong keluarkan tas perlengkapan di bagasi dan bawa ke kamar Olavia."


****


Setelah dicek, Olavia baru mengalami pembukaan tiga. Dokter Sheila meminta kami menunggu di ruangan sambil terus melakukan gerakan-gerakan yang dapat merangsang terjadinya pembukaan jalan lahir lebih cepat.


Jadilah, gue menemani dia duduk di atas birth ball, berjalan-jalan di sekeliling kamar, memegang tangannya ketika dia melakukan gerakan berdiri dengan kaki terbuka. Gue bahkan dengan senang hati mengelus-elus punggung bagian bawah Olavia tanpa diminta.


Olavia, yang awalnya mengaku takut, kini tengah menghadapi apa yang dia rasakan dengan penuh percaya diri. Keringat yang membasahi tubuhnya gue rasa tak lagi karena kecemasan, akan tetapi semata-mata karena kontraksi yang dia alami. Wajahnya seketika diliputi oleh ketenangan dan rasa girang mengetahui di ujung perjuangan ini, dia akan segera bertemu dengan sang buah hati.


Dan gue .... Gue jatuh semakin dalam pada wanita di hadapan gue ini. Yang memegang tangan gue dengan begitu erat saat dia menyabung nyawa demi anaknya. Yang berusaha untuk mengatur napas agar dia bisa terus bertarung agar bayi yang dikandungnya dan dirawatnya di dalam perut selama sembilan bulan lebih bisa lahir ke dunia dengan selamat. Gue tidak peduli dia meremas tangan gue sampai hancur sekali pun. Gue tidak peduli jika setelah ini gue akan kehilangan beberapa jari.


Gue tidak peduli.

__ADS_1


Yang gue pedulikan hanyalah dia ... dan anak yang gue janji akan gue besarkan seperti darah daging gue sendiri.


Bersambung ....


__ADS_2