
Ola
Sesuai janji, saat aku ke luar dari kamar, Angga sudah sibuk mempersiapkan sarapan di dapur apartemen yang sudah jarang sekali digunakan.
"Hey, kamu. Udah bangun?" Angga mengangkat pandangan dari mangkuk berisi adonan pancake yang sedang dia aduk. "Gimana tidurnya, enak?"
Aku menyeret kaki mendekatinya dan berhati-hati menaikkan tubuh bongsorku ke atas salah satu stool di depan breakfast bar tepat di seberang Angga. "Hai. Yeah, lumayanlah. Seenak tidur yang bisa dirasakan oleh ibu-ibu yang sedang hamil tua," sahutku. "Segala posisi salah. Mungkin yang dibilang orang-orang di luar sana itu benar, kalau wanita tidak akan bisa tidur dengan tenang lagi mulai dari usia kandungan sembilan bulan sampai akhir hayat."
Gerakan Angga tiba-tiba saja terhenti. "Come on, jangan ngomong kayak gitu lah. Kamu tahu itu cuma bullshxt. Karangan orang-orang yang gak bersyukur sama kehidupan mereka."
Oh, my God. Kuhela napas panjang. "I know, I know. I'm sorry." Kuelus perutku dengan pelan dan lembut. Mama minta maaf, ya, Sayang. "Aku rasa aku bilang gitu cuma karena kelelahan aja. Aku bukannya gak bersyukur, Ngga. Aku bersyukur banget malahan. Serius."
Cowok itu kemudian menelekan kedua sikunya di atas meja. Tangannya yang hangat dengan mudah bisa mencapai tanganku yang ada di seberang. Ditepuk-tepuknya dengan pelan punggung tanganku itu. "Iya, iya. Aku tahu. Tapi, gimana kalau kita jaga sikap positif kita? Biar si baby gak ikutan jadi orang yang suka negatif thinking pas dia lahir nanti. Dunia udah penuh sama orang-orang yang hobi suuzan begitu." Angga mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku tidak bisa untuk tidak setuju dengan sarannya tersebut. "Ashiaap."
Dia tergelak. "Ya, udah. Gimana kalau kamu pindah aja ke ruang tengah? Selonjoran sama senderan di sofa, gih. Biar badan kamu juga lebih santai. Nanti kalau sarapannya udah selesai, aku bawain ke sana. Kita bisa sarapan sambil nonton TV aja. Deal?"
Oh, my God. Bagaimana dia bisa tahu apa yang aku inginkan? "Super deal." Aku menjawab sambil berusaha untuk turun.
Tiba-tiba saja lengan besar dan kuaat Angga sudah mengelilingi pinggangku. "Hati-hati. Biar aku bantu."
"Thanks."
Oh, my God. Oh, my God. Oh, my God. Kenapa Tuhan harus menciptakan dia dengan sikap seperti ini?
****
Rasa lelah yang menimpa badanku ternyata tidak berpengaruh kepada selera makan. Untuk itu aku berutang terima kasih banyak kepada Tuhan dan Angga yang sudah menyiapkan semuanya. Pancake choco chips, orange juice yang dia buat sendiri. I mean, cowok mana yang rela membuatkan jus jeruk buat seorang cewek yang bukan siapa-siapanya from scratch seperti yang Angga lakukan untukku?
Bagi kamu, Angga memang bukwn siapa-siapa, Ola. Namun, bagi Angga, kamu adalah siapa-siapanya dia.
Oh, shut up.
__ADS_1
No, you shut up. Sudah saatnya kamu membuka mata dan melihat apa yang sebenarnya ada di hadapan kami. Siapa sebenarnya yang sedang menemani kamu ini. Apakah dia seorang penipu? Apakah dia orang yang jahat? Yang tidak dapat dipercaya? Atau, dia hanyalah seseorang yang melakukan kesalahan di masa remajanya?
Amati dengan sungguh-sungguh, Ola. Gunakan mata kamu. Ingat pesan Mas Johan dulu? Kalau pria itu tidak sama. Tidak semua pria itu berengsxk seperti Owen. Masih ada lelaki yang baik. Contohnya saja dia yang duduk di samping kamu saat ini.
Lagian, siapa yang tidak pernah membuat kesalahan, bukan?
Sepertinya, lelah badanku juga tidak berdampak pada hati yang semakin sering berkata akhir-akhir ini. Hati yang semakin sering mendesakku untuk menghadapi kenyataan yang ada di depan. Bukannya terus terpaku pada masa lalu dan sakit hati yang disebabkannya.
Lagian, siapa yang tidak pernah membuat kesalahan?
"Udah selesai makannya?"
Suara Angga mengembalikan aku pada saat ini. Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. "Udah."
Kulihat dia segera berdiri dan mengumpulkan perlengkapan makan yang kotor di atas meja kopi. "Aku beresin ini dulu. Kamu lanjut aja nontonnya," jelasnya sebelum berjalan dengan tumpukan piring dan gelas itu di tangan.
See? Lihat betapa ringan tangannya dia?
Yeah.
Kalau itu bukan cinta, apalagi namanya?
Aku ... aku tidak tahu.
****
Seseorang mengelus-elus wajahku. Kurasakan kelopak mataku bergetar sebelum mereka bisa terbuka dan menangkap Angga yang sedang ada di depanku. Wajahnya yang tersentum dekat dengan wajahku.
Aku tidak sadar kalau aku sudah tertidur sementara menunggunya mencuci piring dan membersihkan dapur. "Eh, sorry. Aku ketiduran."
Senyumnya bertambah lebar lagi. "Enggak apa-apa. Kamu, kan, capek, jadi emang harus banyak istirahat. Mau aku bantu jalan ke kamar?"
Tawarannya terdengar tidak begitu menyenangkan. "Enggak, ah," tolakku sambil berusaha untuk bangkit dan duduk. "Aku masih mau di luar sini. Katanya mau nonton."
__ADS_1
"Oh, okay." Angga di kalakian menghenyakkan tubuikekarnya di sofa di sampingku. "Kamu mau nonton apa emangnya?"
"Gak tahu." Kuserahkan remote televisi yang ada di atas tangan sofa di sebelah kananku padanya. "Terserah kamu aja."
"Serius, nih?" tanya cowok itu. Matanya kini berbinar-binar. "Terserah aku aja?"
"He-eh." Aku mendukung jawabanku dengan sebuah anggukan.
"Okay, then." Dia mulai memencet-mencet tombol remote. Sesaat kemudian terlihat sebuah poster film yang begitu familier di layar.
The Bucket List.
Angga menoleh padaku seakan bertanya, "Ini boleh?"
Aku hanya menatapnya di titik mata yang mulai kehilangan sinar yang tadinya ada itu. Aku yakin keragu-raguan sudah menggerogoti perasaan senang yang didapatnya untuk beberapa saat.
Aku benci telah melakukan itu padanya. Pada pria baik yang ada di sampingku saat ini. Pada pria baik, paling baik ini. Pria yang, apabila aku biarkan lepas, aku yakin tidak akan bisa menemukan pengganti dirinya. Aku sudah pernah mencoba, sebelum ini. Dan tentu saja aku gagal.
Aku tidak ingin gagal lagi.
Tuhan, aku mohon, jadikan ini petunjuk bahwa Angga benar-benar pilihan yang tepat bagiku. Jadikan dia orang yang dengannya akan kudapatkan happy ever after yang kucari selama ini. Tuhan, aku mohon. Aku mohon.
Tak lama berselang, sebuah dorongan muncul di lubuk hati ini. Awalnya berupa perasaan damai, yang semakin lama semakin menyebar hingga akhirnya menyelimuti diri.
Aku anggap itu sebagai pertanda dari surga.
Kugeser dudukku hingga tubuhku dan tubuh Angga menempel. Kuangkat lengan kanannya sebelum mengalungkan lengan tersebut di bahuku. Di kesudahan, kusandarkan kepala di dadanya yang keras karena tegang.
Setelah beberapa detik berlalu, kurasakan bahunya bergerak naik dan turun dengan signifikan. Udara yang keluar dari hidungnya seketika saja meniup anak-anak rambut yang lepas dari kunciran asal di kepalaku. Kurasakan tubuhnya merelaks. Digesernya tubuh kami sehingga tak ada lagi kemungkinan bagi udara untuk menyelinap di antaranya.
Dia pun mengecup puncak kepalaku lama.
Dan sudah lama sekali rasanya semenjak aku merasakan kedamaian yang seperti ini.
__ADS_1
Bersambung ....