Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
34. The Bucket List


__ADS_3

Angga


Ketika wanita pujaan gue itu merebahkan kepalanya di dada gue, lalu meletakkan tangannya di atas bagian tepat di mana jantung gue berada, gue yakin dia bisa merasakan bagaimana kerasnya debaran jantung gue dengan adrenalin yang mengalir di dalam darah. Gue yakin dia juga bisa mendengarkan suaranya melalui telinga yang menempel di sana.


Gue yakin dia tahu betapa bahagianya gue saat ini dan gue tidak peduli. Karena gue ingin dia tahu bahwa dialah penyebab dari rasa bahagia yang membanjiri tubuh gue, memenuhi otak gue, dan yang membuat hati gue meledak kegirangan.


Dia. Iya, dia. The one and only, Olavia Marie Arifin. Tidak ada yang lain selain wanita ini.


Gue lantas mengecup puncak kepalanya lama-lama. Menikmati campuran aroma bunga-bungaan dari sampo yang dia pakai dan keringat yang dia keluarkan saat lelap tidur semalam. Gue benar-benar rindu wangi ini.


Damn it. Tuhan baik banget karena telah mengabulkan doa gue yang penuh dengan dosa. Terima kasih banyak, Tuhan, karena sudah mengembalikan dia ke dalam pelukan hamba. Fxck.


Shxt.


Damn it.


Mata gue rasanya mulai panas.


Fxcker.


Gue tidak dapat membendung air mata yang terbit dan sekonyong-konyongnya mengalir ke pipi. Tanpa pikir panjang, gue dekap saja wanita pujaan gue itu dengan kedua tangan gue dan gue surukkan muka di ruang antara bahu dan lehernya; tempat favorit gue dari dulu.


Gue rasakan pegangan dari kedua tangannya yang memegang lengan bawah kiri gue ikut menguat. Tak lama, gue juga merasakan tubuhnya ikut bergetar.


Berdua kami lalui beberapa kala dengan berpelukan seraya menangisi kedekatan kami.

__ADS_1


Akhirnya, saat yang gue tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Saat di mana dia mau memaafkan ketololan masa muda gue dan mau menerima gue masuk ke dalam hidupnya secara utuh lagi. Bukan setengah-setengah seperti kemarin-kemarin ini. Dengan satu kaki di dalam dan satu kaki di luar pintu, setiap saat harus siap jika dia mengusir gue karena tidak menginginkan keberadaan gue lagi.


Kali ini, dengan ini, Olavia membuktikan kalau dia benar-benar menginginkan gue ada di dalam hidup mereka. Dan gue juga benar-benar serius ketika mengatakan bahwa gue benar-benar menginginkan tempat di dalam hidup mereka.


"Thank you," bisik gue di antara isak. Fxck, gue tahu gue terdengar sangat cemen, akan tetapi gue sudah bilang kalau gue tidak peduli. Yang gue pedulikan hanya mengungkap betapa gue berterima kasih kepada wanita paling cantik dan paling baik yang ada di mukanbumi selain Nyokap ini. "Thank you, Sayang. Thank you karena kamu udah mau nyoba buat maafin aku."


Olavia hanya mengangguk.


Gue di kalakian kembali menegakkan kepala, tak sabar ingin menatap wanita gue lagi. Namun, hal itu membuat gue menyadari satu hal. "Shxt, Sayang. Aku udah bikin leher kamu banjir sama air mata dan ingus aku."


Gelak wanita gue terdengar basah. Namun, itu tidak mengurangi kerenyahannya di telinga gue yang sudah dimabuk cinta.


Gue lantas membuka baju yang gue pakai dan menggunakan kaus itu sebagai lap untuk membersihkan leher Olavia dari cairan menjijikan itu. Gue juga menggunakannya untuk menyeka muka gue dan mengeringkan telapak tangan yang gue pakai untuk mengelap wajah cantik nan sembab the love of my life.


"Well .... Aku yakin aku punya ide seberapa besar perasaan itu. Karena .... aku juga merasakan hal yang kurang lebih sama. Aku ... aku sudah lama sekali tidak merasakan damai seperti ini. Terakhir kali .... Terakhir kalinya sewaktu kita ... kita ...." Olavia mengedikkan sebelah bahunya dan menunduk.


Gue tudak mengizinkan dia untuk mengalihkan pandangan dari gue. "Aku tahu, Sayang. Aku tahu. Aku minta maaf karena sudah menyakiti kamu. Tapi, sekarang, berkat kesempatan dari kamu, aku bisa buktikan lagi kalau akuaudah berubah. Setidaknya kebegoan aku udah banyak berkurang. Aku bukan cowok dungu lagi."


"Yeah?" tanyanya serak.


"Of course!" Gue serta-merta menyahut.


"Good." Dia mengangguk. "Good. Aku benar-benar berharap kamu enggak setolol itu lagi, Ngga."


Gue kembali membungkus dia ke dalam pelukan gue. Dan gue kembali menghirup aroma dari tubuh dan produk yang dia pakai dalam-dalam. Sampai paru-paru, jantung, otak, semua organ dalam gue dipenuhi oleh wangi Olavia.

__ADS_1


"Ya, udah. Jadi nonton, gak? Atau kamu mau ke luar?" Gue memberikan pilihan.


"Enggak mau jalan, masih capek. Hari ini kita di rumah aja, ya? Aku mau lay low dulu. Nanti siang juga rencananya mau videocall Papa sama Mama."


"Oh, oke. Kalau gitu aku mau ambil baju dulu. Baju aku udah ada yang selesai di-laundry, kan? Kamu taruh di mana?"


Namun, sebelum sempat berdiri, Olavia sudah menarik tangan gue lagi. "Mau ke mana kamu?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Mau nyari baju." Gue menjawab, agak bingung dengan pertukaran emosi yang super duper cepat ini. Masa baru baikan gue sudah berhasil bikin dia kesal lagi, sih?


"Gak usah. Gak usah pake baju. Kamu rebahan aja di sini. Mau jadi bantal aku juga, kok. Ngapain pake baju."


Well, damn. Gue benaran tidak menyangka dengan jawaban yang ke luar dari bibir yang setahun lalu sibuk memaki-maki keberadaan gue itu. "Okaay, kalau itu mau kamu. Your wish is my command, Sayang."


Akhirnya gue bisa bilang kalimat itu juga.


"Then, what's with the waiting?!" serunya tidak sabar.


Jadilah. Gue merebahkan diri di sepanjang sofa sementara wanita pujaan gue juga ikut merebahkan badannya di samping gue. Kini dia meletakkan kepalanya di dada gue, perut besarnya sebagian besar juga parkir di atas paha gue. Sedangkan beberapa bantal dekoratif di sofa berjejer untuk menopang punggung dan pinggangnya.


Kalau beberapa hari yang lalu kalian bertanya apa rencana gue di hari Rabu ini, gue akan jawab melakukan apa pun yang Olavia mau. Namun, tetap saja. Menonton film Jack Nicholson dan Morgan Freeman yang bersejarah bagi kami sambil bersantai dan rebahan seperti ini bukanlah apa yang ada di dalam kepala gue.


But, I fxcking glad it turns out this way. You bet your ***, I fxcking do.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2