Papa Untuk Oleander

Papa Untuk Oleander
31. Harapan (yang Mudah-Mudahan Saja Tidak Palsu)


__ADS_3

Angga


What the fxck?!


Olavia tiba-tiba saja berteriak dengan histeris di samping gue saat gue baru akan menginjak pedal gas untuk meluncur di jalanan. Gue langsung refleks menekan rem dalam-dalam ketika mendengar suara yang mengerikan itu.


What the fxck is happening? What the fxck is going on?


Untung saja di saat yang sama gue juga sempat bertindak cepat dan menahan tubuh Olavia agar tidak terlalu terkena dampak dari aksi pengereman mendadak yang gue lakukan menggunakan lengan gue yang terjulur di depan dadanya. "Sayang, kamu gak apa-apa, kan?" Gue lekas-lekas membuka sabuk pengaman yang membelit dan memutar badan sehingga kini gue menghadap wanita gue yang masih tampak kesakitan itu. "Sayang?"


"P-perut ak-ak-aku ... s-s-sakit bang-banget, Ngga." Dia merintih. Napasnya dikeluarkan dari mulut, pendek dan sering.


What the fxck?


Jangan bilang kalau dia kontraksi. Namun, kalau pun iya, gue tidak boleh panik.


Don't panic, *******. Don't panic. Lo gak akan membantu apa-apa kalau lo udah panik duluan. Jangan jadi cowok gak berguna. Jangan kehilangan akal. Pake otak lo. Percuma lo baca buku kehamilan dan persalinan seabrek-abrek kalau pada akhirnya semua ilmu itu gak kepakai buat membantu cinta dalam hidup lo.


Please, please, gue mohon, Angga. Jadi orang yang berguna di saat-saat paling penting seperti ini.


Come on, get your shxt together.


Gue embuskan napas untuk menenangkan diri. Setelah itu gue genggam tangan dia. "Oke, kamu atur napas dulu. In." Gue hirup napas dalam-dalam.


Gue lihat dia juga mengikuti apa yang gue kerjakan. Good. Memang itu maksud gue.


"Out." Gue hela napas panjang dan perlahan. "Bagus, bagus. Kamu lakukan itu terus, ya. Jangan panik. Tetap tenang. Aku pinggirin mobil kita dulu."


Gue memindahkan persneling dengan tangan kami yang masih saling bertautan dan mengarahkan mobil ke tepi jalan tak jauh dari area parkir tempat kami makan tadi. Segera saja gue ke luar dari mobil dan menuju pintu Olavia. Gue kemudian berjongkok di dekat dia. "Masih sakit?"


Wanita gue itu mengangguk lemah. "Tegang, Ngga. Perut aku rasanya tegang banget. Sekarang udah agak berkurang, sih. Tapi, sisa-sisanya masih ada."


"Okay, okay." Kepanikan yang gue coba sembunyikan di dalam dada gue luruh sekitar enam puluh persen. Empat puluh persennya lagi masih ada di sana untuk membuat gue tetap waspada.


Olavia di kalakian mengeluarkan napas yang sangat panjang. Disandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil sembari memejamkan mata.

__ADS_1


Gue perhatikan saja dia dan terus memijit punggung tangannya dengan lembut. Ingin rasanya gue mengelap keningnya yang basah oleh keringat tersebut. Namun, di waktu yang sama, gue juga tidak ingin mengganggu dia. Maka dari itu gue biarkan saja dia terlebih dahulu.


I am letting her take a moment for herself to gather her thoughts.


Entah berapa kala berlalu sebelum dia akhirnya membuka mata.


"Gimana, Sayang? Sekarang gimana? Udah gak sakit lagi, kan?" Percayalah. Gue sudah berusaha untuk menahan diri agar tidak langsung memborbardir dia dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh gue, dan yang barusan adalah gue yang menahan diri.


Yep. You heard that right.


Olavia mengelap keningnya dengan tangan dan mengembuskan napas panjang. "Enggak. Udah enggak lagi. Udah aman. Aku rasa udah aman."


"Are you sure? Like, really really really sure?"


Dia tergelak meski suaranya masih terdengar sangat lelah. "Iya, Ngga. One hundred percent sure."


Dua puluh persen kecemasan di dalam diri gue syukurnya menguap bersama informasi tersebut. Namun, sialnya, tetap saja masih ada yang tersisa. "Menurut kamu, apa kita perlu menghitung waktunya? Eh, maksud aku, jaraknya? Intervalnya. Whatever the called it. Yang barusan itu kontraksi, kan, Yang? Eh, Olavia?"


Ya, Tuhan. Bacot gue.


"Aku rasa gak perlu. Aku pikir yang barusan itu bukan kontraksi beneran. Cuma Braxton Hicks, kontraksi palsu," jelas dia dengan seulas senyum tanpa mempermasalahkan hiccup yang gue lakukan.


Fiuh. Braxton Hicks. Thank fxckng God it was just a Braxton Hicks.


Oh, my fxcking God. Dia hampir saja membuat gue terkena serangan jantung. Namun, gue rasa hal ini berhasil merenggut sepuluh tahun dari sisa jatah umur gue yang ada sekarang.


Bagaimana tidak? Kebayang, kan, betapa kerasnya pekikan Olavia tadi? Pada saat gue mencoba untuk berkonsentrasi menyetir lagi.


"You scared me to death." Gue mengaku.


"I'm sorry. I was scared too," ungkapnya dengan berbisik.


Fxck. "I'm sorry. It's okay. Yang penting sekarang kalian baik-baik aja." Demi Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, gue ingin sekali membungkus wanita yang paling gue cintai ini dengan lengan gue dan membiarkan dia ada di sana selamanya. Namun, gue tidak yakin dia mau gue peluk.


"Kunaon eta teh, Kang? Ada apa, ya? Ada yang bisa saya bantu?" Dua orang pemuda tahu-tahu sudah ada di belakang gue.

__ADS_1


Gue segera berdiri. Damn. Gue tidak sadar kalau gue sudah jongkok selama itu. "Eh, aduh." Sendi di lutut gue berderak. "Eh, enggak, Kang. Ini."


Pemuda yang berdiri di depan menengok ke arah dalam mobil. Gue serta-merta juga ikutan menoleh. Ternyata Olavia sudah menegakkan duduknya.


"Wah, tetehnya tidak apa-apa?" Pertanyaan ini ditujukan pada Olavia.


Wanita gue itu pun tersenyum ramah. "Gak apa-apa, kok. Aman."


"Oh, kami kira ada apa-apa. Soalnya saya tadi sempat lihat mobil Akang sama Teteh baru keluar dari parkiran sana terus berhenti lagi. Saya sangka mogok."


"Ah, enggak." Dia menjawab lagi.


"Ya sudah, kalau begitu kami permisi, Kang, Teh. Hati-hati di jalan, ya, Kang. Istri sama anaknya dijaga. Mangga."


Welp. "Eh, iya, Kang. Iya. Terima kasih banyak."


Dua orang itu pun kemudian berlalu.


Untuk kesekian kalinya gue mengembuskan napas panjang. Namun, kali ini untuk alasan yang berbeda.


Sial. Gue terlalu suka sama apa yang dikatakan sama si Akang itu tadi. Istri sama anaknya dijaga.


Siap, Kang. Belum aja jadi istri gue dan benar-benar mengandung buah hati gue, gue sudah menjaga mereka dengan hati-hati sekali. Apalagi kalau benaran bini dan anak gue. Beuh! Jangan ditanya lagi, dah.


"Ngga?"


Suara lembut itu mengalihkan perhatian gue. "Hm?" gumam gue seraya berbalik menghadap Olavia.


"Udah?"


Gue mengangguk.


"Kalau gitu, pulang, yuk."


Well, damn. Kalimat yang diucapkannya, cara dia mengucapkannya, dan ekspresi yang ada di wajahnya saat mengucapkan kata-kata itu ... damn. Dia sungguh tahu bagaimana cara membuat hati gue ini mengambang dan terbang bebas seperti gelembung sabun di udara.

__ADS_1


Ya, Tuhan yang Maha Segalanya, please. Please. Kalau hamba boleh meminta, tolong kabulkan permintaan hamba yang satu ini.


Bersambung ....


__ADS_2