
Angga
"Hm?" Om Arif bergumam lagi. Kali ini sembari kembali memutar badannya sedikit sehingga dia menghadap ke arah gye lagi. Dengan tangan berkaitan di belakang, gaya berdiri khas bapak-bapak seantero dunia gue rasa, Om Arif bertanya, "Memangnya kamu mau membicarakan apa?"
Gue lagi-lagi harus memijat tengkuk karena berada di bawah tekanan tatapan papanya Olavia yang terasa agak mengintimidasi itu. "Engg ... ada, Om. Soal ... soal ...." Pipi gue menggembung saat gue mengembuskan napas besar-besar. "Saya rasa, ehm, sebaiknya kita bahas berdua saja di suatu tempat, Om."
Alis Om Arif langsung naik ke dahinya setelah mendengar jawaban dari gue. "Is that so?" tanyanya di kalakian.
Siaaaal.
Kenapa gue merasa sedang dipermainkan oleh bapak-bapak ini? Apa calon mertua gue sudah tahu kalau gue akan membicarakan soal kemungkinan dia menjadi calon mertua gue di masa depan?
Fxck. I am talking in riddles again.
Otak gue sepertinya menunjukkan tanda-tanda mau hang kalau Om Arif tidak segera menyetujui permintaan gue ini.
Beberapa detik, hanya beberapa detik namun terasa jauuuh lebih lama dari beberapa detik, Om Arif hanya menatap gue, mengamati gue dengan sorot matanya yang dengan mudah menyatakan kalau dia adalah orang yang sudah berpengalaman.
Shxt. Pasti Om Arif sudah men-discover apa yang menjadi maksud gue, atau setidaknya punya sedikit ide lah terhadap pokok pembahasan gue nanti, dan dia sekarang sedang menguji gue entah karena alasan apa.
Mungkin untuk melihat seberapa kuat keimanan gue dalam menghadapi dia. Atau untuk melihat seberapa besar niat gue demi mendapatkan apa yang gue inginkan. Atau, mungkin, dia melakukan itu hanya untuk shxts and giggles.
Fxxxck me. Apakah ini yang dimaksud oleh Oliver semalam? Bro, gue gak sabar buat lihat tanggapan bokap gue soal rencana lo ini. Apakah sebenarnya Oliver sudah tahu kalau bokapnya tahu rencana gye dan mereka bersekongkol untuk menguji ketahanan mental gue?
What the heck?
Apakah benar begitu?
Shxxxt.
Sialan.
Setelah gue melakukan discovery gue sendiri dan menemukan bahwa mereka sedang menempatkan gue di dalam sebuah situasi yang sudah mereka set jauh-jauh hari (setidaknya begitu teori gue), gue bisa dengan mudah kembali ke zen gue. Tidak lama kemudian, setelah figuratively bersila di tengah-tengah zona ketenangan di pusat diri gue itu untuk sejumlah waktu, gue akhirnya bisa menantang tatapan Om Arif dengan lebih yakin dan stabil. Dan dengan bangga gue akui kalau gue bisa menjawab pertanyaan retorik dari calon mertua yang berdiri di hadapan gue. "Yes, Om. Mungkin kita bisa ke ruang kerja Om sebentar sementara para wanita sibuk bermain?" ucap gue sambil melirik ke ketiga orang yang benar masih sibuk bermain dengan Oleander.
Kali ini alis Om Arif kwmbali mendaki dahi, akan tetapi gue rasa karena alasan yang berbeda. Kalau tadi dia melakukannya dengan main-main, sekarang alis-alis itu mendaki keningnya karena rasa terkejut. Ke mana perginya Angga yang terbata-bata tadi?
Well, he's gone, Om Arif.
Om Arif juga sempat mengikuti arah mata gue untuk mengecek istri, anak, dan cucunya sebelum mengangguk. "Oke kalau gitu. Ke ruang kerja Om aja. Yuk."
Game on.
__ADS_1
****
Gue mengekor langkah Om Arif yang memimpin perjalanan kami menuju ruang kerja yang ada di bagian timur rumah, arah yang berbeda dengan tempat yang kami tinggalkan barusan, dalam diam. Sang kepala keluarga juga tidak mencoba untuk berbasa-basi, so I'm taking notes from him and do the same.
Lagipula, gue dan Om Arif mempunyai pandangan yang sama soal ini. Basa-basi, apalagi yang dilakukan semata-mata hanya untuk menghilangkan rasa canggung, adalah sebuah hal yang membuang-buang waktu. Lebih baik waktu itu digunakan untuk memikirkan hal-hal yang penting. Dan hal yang penting saat ini buat gue adalah susunan kalimat yang akan gue utarakan kepada Om Arif nanti.
Yep, you guess it. Gue lagi-lagi akan melakukan pitching di depan Om Arif. Dan ini merupakan pitching paling penting di dalam sejarah kehidupan gue.
Ketika kami sampai, Om Arif membuka pintu besar dan terlihat berat itu. Penutup ruangan tersebut terbuat dari kayu mahoni berwarna merah dan dipenuhi oleh ukiran-ukiran motif lingkaran berbentuk daun dan bunga. Sesuatu yang biasa digunakan di rumah-rumah di Minangkabau.
Lah, kenapa gue jadi bahas ini?
Sialan. Skip this unnecessary fun fact fest.
Dia lalu masuk ke dalam, membiarkan gue masuk dan menutup pintu kembali. Saat gue menghadap ke depan setelah menutup daun pintu yang memang lumayan berbobot itu, gue melihat Om Arif sudah berdiri di samping kursi di belakang meja kerjanya yang juga terbuat dari kayu yang sama, akan tetapi tanpa ukiran. "Duduk, Ngga." Di kalakian dia duduk di atas kursi besar pasangan serasi untuk meja yang juga besar ukurannya.
Gue tidak mengindahkan anjuran Om Arif. "Hm, maaf, Om. Tapi, saya pikir, alangkah lebih baik jika saya tetap berdiri," tolak gue sesopan mungkin dengan kedua tangan di belakang badan, pose yang sama dengan pose Om Arif di luar sana tadi. Alasannya karena; satu, kalau gue duduk, pembicaraan ini terkesan terlalu profesional, sedangkan gue berada di sini bukan untuk urusan bisnis, dan yang kedua adalah, gue tidak tahu apa yang akan terjadi pada gue kalau gue terus mengundur pembahasan kami. Bisa-bisa gue keburu kehilangan nyali dan menciut lagi seperti yang terjadi pada gue di awal tadi.
Nope. I'm not going to be that mess again. Not right now.
Intinya, gue sedang tidak mau menjelaskan sambil duduk. Udah, gitu aja, titik.
"Okay, then. Suit yourself." Om Arif kemudian meletakkan kedua lengannya di atas meja. Jari-jarinya saling bertautan. "Om siap mendengarkan apa yang akan kamu bicarakan, Ngga. Whenever you're ready."
Gue tarik napas dalam-dalam sekali sebelum meluncurkan muntahan kata-kata yang sudah ada di dalam kepala. "Om, saya yakin Om sudah tahu kalau saya sangat mencintai Olavia. Saya sudah mencintai dia selama hampir setengah umur saya sekarang, Om. Dan, setelah melalui kurang lebih sepuluh tahun tanpa dia di dalam hari-hari saya, saya yakin kalau saya tidak akan bisa survive jika hal itu terjadi lagi di waktu yang akan datang.
"Maksud saya, saya tidak bisa dan tidak mau hidup tanpa Olavia lagi, Om. Saya ingin menghabiskan sisa waktu saya di atas dunia bersama dia, menjalani hari dengan berusaha untuk membuat dia bahagia sekuat yang saya dan source yang saya punya bisa lakukan. Oleh karena itu, sekarang saya berdiri di sini untuk meminta restu dari Om. Karena suatu saat nanti, ketika waktunya sudah tepat, saya ingin meminta Olavia untuk menjadi pendamping hidup saya, Om."
That's it. Gue memang tidak berniat untuk berbicara banyak dan mengambil resiko terlihat begitu muluk-muluk. Tujuan gue adalah meminta restu dan itu yang akan gue dapatkan. Restu tersebut yang akan gue bawa di dalam genggaman gue saat ke luar dari ruangan ini. Tanpa kesan banyak omong yang akan tertinggal di dalam kepala calon mertua gue.
Om Arif mengangguk-angguk kecil. Setelah itu dia mengubah posisi duduk. Kedua sikunya kini bertelekan di atas meja, jari-jemari yang bertaut tadi menopang dagu dengan ringan. Semua dilakukannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun terlebih dahulu.
Sementara itu, gue tetap tabah menunggu dalam posisi khas bapak-bapak yang sama.
Siapa yang bisa menebak kalau calon mertua gue itu di kalakian malah mengubah posisi duduknya lagi. Kali ini dibukanya kaitan jari-jari, disandarkan tubuh ke sandaran kursi yang terbuat dari kulit berkualitas tinggi. Siku yang tadinya ada di atas meja kini berpindah ke lengan-lengan kursi. Ujung-ujung jarinya kembali bertemu di tengah, di atas perutnya yang sedikit mencuat. Dia masih melakukan iitu tanpa komentar apa pun.
Gue juga tetap sabar menunggu.
Akhirnya kesabaran gue berbuah, meski tidak seperti yang gue harapkan. "Kamu yakin, Ngga? Karena ketika kita membicarakan Olavia, pada hakikatnya kita tidak sedang membicarakan dia seorang saja. Ada sosok lain yang tak bisa dipisahkan dari dia. Yang bergantung sepenuhnya kepada anak perempuan Om itu."
Yes, yes, yes. Gue paham ke mana arah pertanyaan Om Arif. "Saya yakin, Om. Bahkan saya juga sudah punya rencana sendiri untuk Oleander. Ketika Olavia sudah menerima pinangan saya, saya akan memulai proses untuk secara resmi mengadopsi Oleander. Dia sudah saya anggap seperti anak saya sendiri dan proses itu akan melengkapi semuanya."
__ADS_1
Om Arif lagi-lagi terlihat menimbang jawaban gue dengan mengubah posisi duduk yang dikembalikan ke posisi semula. Sejumlah kala berlalu dengan posisi seperti itu.
Di kemudian, Om Arif melakukan manuver lagi. Kali ini dengan menggeser kursinya ke belakang, berdiri, dan berjalan ke arah depan meja. Terakhir, ditumpukannya tubuh di tepi meja itu. Kakinya yang diluruskan ke depan bersilangan di bagian pergelangan. Tangannya pun menyilang di depan dada. Dia kembali diam.
Shxt. Ternyata gue masih belum cukup kuat untuk memenangkan permainan menunggu yang tampaknya begitu dikuasai oleh Om Arif. Gue telah melakukan kesalahan besar karena telah menganggap super diri gue dan menganggap remeh pria paruh baya ini.
Ya, Tuhan. Maafkan gue. Tobat, deh, tobat. Gak lagi-lagi gue merasa besar kepala.
Namun, gue harus tetap bertahan. Gue tidak boleh menyerah. Meski rasanya sudah ingin meminta ampun pada Om Arif dan berlutut di kakinya memohon untuk segera dilepaskan dari pengamatan tajam manik-manik itu, gue tetap harus pura-pura kuat. Agar perjuangan yang sudah gue lakukan untuk sampai di ruangan ini, mengatakan hal-hal yang sudah gue katakan tadi, tidak menjadi sia-sia.
Sekarang gue benar-benar mengerti apa maksud daei ucapan Oliver.
Gue akui, Om Arif adalah yang terbaik. Tidak heran dia mendapat julukan Si Penakluk Kriminal di lingkungan kerjanya.
Fxck me, kenapa gue melupakan info yang seharusnya gue ingat itu? Kenapa gue malah mengingat hal-hal yang tidak berguna di saat penting seperti ini?
Dasar Angga sinting!
Kaki gue sudah mulai kesemutan. Entah betul-betul itu yang terjadi atau sensasi itu muncul hanya karena tipu muslihat dari otak gue yang kembali masuk ke dalam mode grogi. Otot lengan gue juga terasa semakin tegang. Rasa tegangnya menjalar sampai ke bahu.
Sialan.
Gue mulai merasakan bulir-bulir muncul di kulit gue yang terasa sangat, sangat, sangat kencang.
Sialaaaan.
Om Arif masih saja diam.
Ya, Tuhan.
Calon mertua gue itu masih saja mengarahkan tatapannya ke gue.
Ya, Tuhaaan.
Kapan ini akan berakhir?
Gue berusaha mengalihkan perhatian, mendistraksi diri dengan berdeham. Calm the fxck down. Calm the fxck down. Calm the fxck down.
Calm the fxck down adalah moto baru gue saat ini.
Tepat sebelum gue benar-benar meledak, Om Arif mengucapkan satu kata yang bagi gue berarti lebih dari dunia dan seisinya. Satu kata yang gue harap menjadi langkah awal bagi gue untuk mengikat takdir gue dan Olavia selamanya. Satu kata yang suatu saat akan menjadi penentu jalan hidup kami.
__ADS_1
"Okay." Om Arif melepaskan silangan lengan ya. "Okay. Kamu dapat restu dari Om dan Tante."
Hell to the fxcking yeah!